jump to navigation

April 17, 2015

Posted by makkawaru in Info dan Berita.
add a comment

Khasiat Buah Pir Bagi Ibu Hamil Menurut Hadist

Buah pir tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan jasmani ibu hamil, tapi juga memiliki khasiat bagi kesehatan ruhani ibu dan anak yang akan dilahirkannya, sebagaimana hadist Rasulullah SAW, “Makanlah buah pir karena buah itu dapat membuat terang penglihatan dan menumbuhkan rasa cinta di hati. Dan berikanlah buah ini kepada ibu yang sedang mengandung karena dapat mempercantik anak kalian.”

Berikut, beberapa manfaat buah pir menurut hadits untuk ibu hamil yang bersumber dari buku Panduan Ibu Muslim, Sima Mikhbar:

1. Keelokan rupa si anak dapat disebabkan oleh buah pir yang dimakan ayahnya.

2. Ibu hamil jika diberikan buah pir maka akan menghasilkan anak yang rupawan.

3. Dengan memakan buah pir, ibu hamil akan membuahkan akhlak yang baik bagi anak.

4. Buah pir bermanfaat untuk kekuatan jantung, kebersihan lambung dan hati, keberanian, dan wajah rupawan bagi bayi.

5. Buah pir dapat membersihkan hati, dan dengan izin Allah dapat menyembuhkan penyakit-penyakit dalam. (FH/SS)

 

Iklan

Menjaga Kesabaran April 17, 2015

Posted by makkawaru in Akhlak dan Tarbiyah.
add a comment

 MENJAGA KESABARAN

 

Salah satu sifat utama akhlak insani adalah kemampuan menahan dan menanggung yang disebut dengan sabar.

Ragib Isfahani berkata: Sabar bermakna menahan dalam kesempitan dan kesulitan. Dan juga bermakna mencegah jiwa dari sesuatu yang akal dan agama mencegahnya, dan juga bermakna menahan jiwa dari maksiat, dimana lawannya adalah jaza’ (cemas, gelisah, dan tidak sabar) serta dalam kaitannya dengan perang bermakna pemberani yang berhadapan dengan makna pengecut dan penakut, dan juga bermakna menyembunyikan, yakni menahan membicarakan kebaikan-kebaikan orang (Raghib Isfahani, Mu’jam Mufradaat Alfaazh Qur’an, hal 281).

 

Tuhan memerintahkan manusia untuk senantiasa memohon bantuan lewat sabar dan shalat, karena Tuhan beserta orang-orang sabar, seperti firman-Nya: Wahai orang2 beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar (Qs; Al-baqarah, ayat 153)

Ketika ujian Tuhan datang pada manusia dalam bentuk bencana-bencana maka yang terbaik baginya adalah bersabar dalam menghadapinya, sebagaimana firman Tuhan: Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (Qs; Albaqarah, ayat 155).

Namun, manusia tidak hanya dituntut untuk bersabar dalam berhadapan dengan bencana dan musibah, akan tetapi manusia juga butuh menjaga kesabaran dalam menjalankan perintah dan kewajiban dari Tuhan serta menjauhi segala yang diharamkan-Nya. Rasulullah Saw dalam menjelaskan perkara yang membutuhkan kesabaran bersabda: Sabar itu ada tiga macam; sabar ketika musibah, sabar dalam ketaatan (menjalankan perintah Tuhan), dan sabar dalam meninggalkan maksiat (Al-Kafi, jld 2, hal 91, hadits 15).

Sebagaimana kita ketahui sifat sabar merupakan salah satu pilar utama yang memperkokoh keimanan, karena itu ia harus selalu dijaga agar keimanan juga tetap terjaga. Sebab apabila ruh kesabaran ini terlepas dari manusia maka dimensi-dimensi keimanan lainnya juga akan mengalami keruntuhan, sebagaimana Sabda Imam Ali as: Atasmu kesabaran, sesungguhnya sabar bagian dari iman sebagaimana kepala bagian dari jasad, dan tidak ada kebaikan bagi jasad tanpa kepala menyertainya, dan tidak ada kebaikan dalam iman tanpa sabar bersamanya (Nahjul Balagah, Kalimat Qishar 18).

 

Seluruh perjalanan hidup manusia membutuhkan kesabaran, dan tidak satupun kondisi dan keadaan yang tidak membutuhkan kesabaran di dalamnya. Sebab, manusia tidak keluar dari dua kondisi, apakah ia mendapat nikmat dari Tuhan dimana dibutuhkan kesabaran dalam menggunakannya di jalan ketaatan dan penghambaan kepada Tuhan, ataukah ia kehilangan nikmat sehingga tertimpa musibah, dimana dalam kondisi ini sangat dibutuhkan kesabaran untuk mencegah keruntuhan dan kejatuhan. Karena itu Tuhan menjelaskan dalam surah Al-Ashr bahwasanya orang-orang yang terhindar dari kerugian hanyalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam menepati dan menjaga kesabaran (Qs; Al-Ashr, ayat 3).

Dengan demikian jelaslah bahwa sabar merupakan kunci dari pintu-pintu kebahagiaan serta menjadi penyelamat dari kehancuran dan kejatuhan. Bahkan dengan sabar manusia dapat menghadapi berbagai kesulitan dengan mudah serta membangun iradah kuat pada diri dan kemerdekaan ruh dari keterpenjaraan hawa nafsu. Berkata Khajah Nasiruddin Thusi: Sabar mencegah batin dari kecemasan, lisan dari pengaduan, dan anggota badan dari gerakan-gerakan yang tidak semestinya (Ausaful Asyraf, hal 107). Oleh karena itu, setiap orang yang menginginkan kebahagiaan dan kesempurnaan serta jauh dari kehancuran dan kemalangan haruslah memiliki safat mulia insani sabar ini.

Sumber: Islaminesia.com

 

 

Burhan Tamanu April 17, 2015

Posted by makkawaru in Teologi.
add a comment

(Burhan Tamanu’) : Salah satu dalil yang paling terkenal tentang Tauhid adalah dalil yang dikenal dengan nama “Dalil Tamanu”. Tentang dalil ini terdapat paparan rumusan yang beragam, tapi kami hanya mengisyaratkan satu rumusan berikut ini :

Setiap kali diasumsikan dua Tuhan, maka kita akan menghadapi tiga kemungkinan :

Kemungkinan pertama : Hanya satu dari keduanya yang mampu mencegah terjadinya iradah dan kehendak yang lain, dan yang lain tidak mampu melakukan hal ini. Dalam bentuk ini adalah jelas bahwa Tuhan hakiki adalah yang pertama dan yang kedua dikarenakan iradahnya terkalahkan, maka ia tidak mungkin adalah Tuhan.

Kemungkinan kedua : Masing-masing keduanya mampu mencegah terjadinya iradah yang lain.

Kemungkinan ketiga : Tidak satupun dari keduanya mampu mencegah terjadinya iradah yang lain.  

Dua kemungkinan terakhir juga adalah suatu bentuk yang tidak sesuai dengan asumsi pertama kita, yakni asumsi adanya dua Tuhan; sebab kemungkinan kedua meniscayakan terkalahkannya iradah setiap tuhan yang diasumsikan, dan kemungkinan ketiga mengharuskan kelemahan dan ketidakmampuan keduanya mengatasi satu dengan lainnya, dan kedua makna ini, yakni terkalahkannya iradah setiap dari tuhan yang diasumsikan dan ketidakmampuan dari keunggulan yang lain adalah menyalahi wajibul wujud.

Oleh sebab itu, kemungkinan kedua dan ketiga adalah mustahil, dan karena tidak ada kemungkinan yang lain lagi diantara kemungkinan-kemungkinan tersebut, maka asumsi kejamakan Tuhan adalah batil.

Akal dalam Cahaya Wahyu April 4, 2015

Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.
add a comment

641Hadis H011

Akal dalam Cahaya Wahyau

Syamsunar 

 
Kitab Al-Quran adalah suatu kitab suci yang sangat memberi penekanan dan kontribusi besar bagi akal dalam berbagai lapangan pengetahuan dan kehidupan.Dalam agama islam menerima keyakinan agama harus lewat pemikiran dan perenungan akal, dan Al-Qur’an dalam hal ini senantiasa mengajak untuk berpikir, bertadabbur, dan menjauhi taqlid buta dalam berbagai masalah akidah dan keyakinan, serta memandang sangat buruk orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (Q.S : Yunus :100).

Akal juga dalam riwayat merupakan maujud yang paling dicintai Tuhan dan menjadi parameter untuk pahala dan dosa anak-anak Adam, serta merupakan hujjah bathin bagi manusia. Abu Abdillah As berkata: “Ketika Tuhan menciptakan akal, Tuhan berkata padanya: menghadaplah, maka akal menghadap, kemudian berkata padanya: membelakanglah, maka akal membelakang, kemudian Tuhan berkata: “Demi kemuliaanku dan keagunganku, tidak aku ciptakan makhluk yang lebih aku cintai darimu, denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi, dan denganmu Aku mengumpulkan (membangkitkan) (Bihâr al-Anwâr Juz 1\96)

Demikian pentingnya fungsi akal bagi manusia, maka Al-Qur’an menekankan pada manusia untuk memanfaatkan nikmat besar Tuhan ini dengan cara mengajak manusia menghilangkan dan menghancurkan berhala-berhala yang menjadi penghalang penggunaan  akal supaya akal mampu mengutarakan argumen-argumen  rasional.

Adapun hal-hal yang bisa menghalangi manusia menggunakan akal rasionalnya menurut Al-Qur’an :

1.  Berpandangan empirisme;

2.  Taqlid buta;  

3. Mengikuti hawa nafsu. 

 

1. Berpandangan empirisisme

Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang berbicara tentang masalah-masalah ini seperti: “Dan berkata orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (hari akhirat), mengapa tidak diturunkan atas kami malaikat atau kami melihat (dengan mata lahiriah) Tuhan kami…”(Q.S: Al-Furqan :21). Dan ayat yang serupa dalam (Q.S : Al-Baqarah :55) : “Dan ingatlah ketika kamu (Bani Israil) berkata wahai Musa! kami tidak akan beriman padamu hingga kami melihat Allah secara jelas(dengan mata lahiriah)…”. Jadi orang-orang seperti ini berpandangan empirisme, menolak pandangan-pandangan yang tidak dijangkau oleh panca indera dan pengalaman empirik, yakni mereka tidak meyakini adanya wujud-wujud non materi dan gaib dari panca indera.

Dunia kita dewasa ini dipenuhi orang-orang yang berpandangan seperti ini, terutama peradaban barat yang dikuasai pandangan dunia materialisme dan filsafat materialisme, serta orang-orang timur (termasuk kaum muslimin) yang dipengaruhi oleh pandangan barat dan kebarat-baratan (Westernisasi).

 

2. Taqlid buta

Dan adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenan mencela taqlid buta dan melarang manusia dari perbuatan tersebut seperti: “Atau Kami mendatangkan kitab pada mereka sebelumnya dan mereka berpegang? Bahkan mereka berkata sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami dalam satu ummah (tradisi, budaya, kepercayaan), dan sesungguhnya kami juga mendapat petunjuk untuk mengikuti mereka. Dan demikian tidak Kami mengutus dari sebelum kamu dalam suatu Qaryah (daerah) dari seorang pengingat kecuali berkata orang-orang kaya diantara mereka sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami dalam suatu ummah dan sesungguhnya kami melaksanakan (melanjutkan) peninggalan-peninggalan mereka. (Nabi-nabi mereka) berkata : apakah jika aku membawa petunjuk yang lebih memberi hidayah padamu dari apa yang kamu dapati dari bapak-bapak kamu (kamu juga akan tetap mengingkari)? Mereka berkata (ya!) sesungguhnya kami dengan apa yang kamu diutus dengannya adalah kafir” (Q.S As-Zukhruf : 21-24). Orang-orang seperti ini tidak lagi menggunakan logika dan rasio akalnya, tetapi mereka hanya mencukupkan diri dengan apa yang mereka dapatkan dalam bentuk budaya, tradisi,  dan kepercayaan dari nenek-nenek moyang mereka, meskipun pada dasarnya tradisi dan budaya tersebut sangat bertolak belakang dengan akal sehat mereka.  

Tapi perlu juga kami kemukakan di sini bahwa taqlid yang dicela oleh agama adalah taqlid buta yang tak berdasar, yang tak memiliki manpaat memperbaiki kehidupan individu dan masyarakat. Sebab tak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan kita, taqlid itu sendiri banyak memiliki peran dalam menyelesaikan berbagai masalah. Dan merupakan tabiat manusia bahwa taqlid dari orang jahil kepada orang berilmu merupakan keharusan, dan sesuai dengan logika serta akal. Misalnya taqlid orang sakit pada dokter, taqlid orang yang membutuhkan bangunan rumah pada arsitektur, dan dalam konteks agama taqlid orang-orang yang tak belajar fiqhi secara khusus dan mendalam (sampai maqam mujtahid) pada marja taqlid (fuqaha). Model dan cara taqlid seperti ini tidak dicela oleh akal, bahkan akal menjadi dasar logis bertaqlid dalam konteks tersebut.

 

3. Mengikuti hawa nafsu

Al-Qur’an juga melarang manusia mengikuti hawa nafsu, sebab dengan mengikutinya akal dan rasio menjadi tertutup. Ayat-ayat yang berkenan masalah ini seperti: ” Tapi orang-orang dzalim dengan tanpa ilmu  mengikuti hawa nafsu mereka, maka siapa yang dapat memberi petunjuk pada orang yang Allah telah sesatkan? Dan bagi mereka tidak ada lagi penolong” (Q.S Ar-Rum :29). Dan ayat: “Maka jika mereka tidak mengijabah  kamu  (menerima usulan kamu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak menerima petunjuk dan hidayah Tuhan? Dan sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk pada orang-orang dzalim” (Q.S : Al-Qishas :50). Pada dasarnya sangat banyak orang-orang yang dengan pikiran dan akalnya mengetahui prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan yang dibawa oleh para Nabi-nabi Tuhan as, tetapi karena kepentingan dan kecenderungan mereka untuk mengikuti hawa nafsu mereka, maka kebenaran dan kebaikan yang cahayanya seterang mentari disiang hari yang tak bermega ini ditolak dan diabaikan.  

Dan adapun pekerjaan akal dalam hal kemampuan berargumen dan berdalil, terdapat ayat-ayat Al-Qur’an dalam masalah-masalah tersebut, misalnya kemampuan akal memberi pendekatan yang sipatnya rasio dengan sipat yang inderawi dengan permisalan dan penganalogian. Ayat yang berkenan hal ini seperti: “Kemudian hati-hati kamu sesudah itu keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi, sebab sesungguhnya sebagian dari pada batu, ada yang terbelah dan darinya mengalir sungai-sungai, dan sesungguhnya sebagian lagi dari pada batu, ada yang terpecah dan keluar darinya air, dan sebagian lagi terjatuh dan terjerembab karena takutnya pada Tuhan , (dan adapun hati-hati kamu sama sekali tidak pernah bergetar karena takut pada Tuhan, dan juga tidak pernah menjadi sumber ilmu, pengetahuan dan kasih sayang kemanusiaan), dan Allah tidak pernah lalai dari apa yang kamu lakukan” (Q.S : Al-Baqarah: 74).

Juga terdapat ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajak berdalil dan berargumen akal dengan cara memperlihatkan kelemahan dan kekurangan apa yang diperbuat manusia dalam masalah dan subyek tersebut. Seperti ayat: “Katakanlah siapakah Tuhan langit dan bumi? Katakanlah Allah! (kemudian) Katakanlah apakah kamu mengambil auliya (wali-wali atau tuhan-tuhan) selain Tuhan, yang mana mereka itu tidak memiliki manpaat dan darar (mudharat) bagi diri mereka sendiri (sehingga bagaimana hal itu bisa sampai padamu?!) Katakanlah apakah sama orang buta dengan orang melihat? Ataukah sama kegelapan dan cahaya? Apakah mereka menjadikan untuk Allah sekutu-sekutu dikarenakan mereka (sekutu-sekutu tersebut) seperti Tuhan mempunyai suatu ciptaan, dan ciptaan ini serupa mereka?! Katakanlah Allah pencipta segala sesuatu dan Dia adalah Esa serta maha menang” (Q.S : Ar-Ra’d:16). Dan mari kita simak ayat lain yang serupa tentang hal ini dalam kisah nabi Ibrahim As: ” Berkata mereka siapa yang melakukan ini pada tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia niscaya orang-orang zalim. Kami dengar seorang pemuda yang dia menyebut tentang berhala-berhala, disebut padanya (namanya) Ibrahim. Berkata mereka datangkanlah dia disaksikan masyarakat, sehingga mereka menyaksikan. Berkata mereka apakah engkau yang melakukan ini pada tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim? Berkata(nabi Ibrahim a.s)  yang melakukannya adalah yang paling besar diantara mereka ini, maka bertanyalah kamu pada mereka jika mereka  berbicara? Maka merujuk mereka dalam diri mereka, maka berkata mereka sesungguhnya kamu orang-orang zalim. Kemudian mereka berbalik atas kepala-kepala mereka (menarik kembali pendapatnya, dan melupakan secara keseluruhan  kata hatinya ) pada hakikatnya kamu tahu bahwa mereka ini tidak berbicara. Baerkata (Ibrahim a.s) apakah kamu menyembah selain Allah yang tidak memberi manpaat pada kamu sedikitpun dan juga tidak memberi mudharat pada kamu? Uffi atas kamu, dan mengapa kamu menyembah selain Allah, apakah kamu tidak berakal? (Q.S: Al-Anbiyaa:59-67). Yakni apa yang diperbuat manusia dalam masalah ini tidak lain karena akal dan logika sehat mereka tidak bekerja dan berfungsi, sehingga mengambil sekutu untuk Tuhan yang mana sekutu tersebut sendiri tidak mampu memberikan manpaat pada diri mereka sendiri dan juga tidak mampu membuat mudharat pada diri mereka sendiri, apatah lagi pada manusia dan makhluk-makhluk Tuhan lainnya.       

Dan salah satu diantaranya lagi cara Al-Qur’an untuk membangunkan akal manusia supaya befungsi dan berpikir logis serta berargumen untuk menundukkan pihak lawan adalah menukar dalil sebelumnya dengan dalil lainnya  sesuai starata pihak yang dihadapi, dan cara ini   dapat kita saksikan contohnya dalam ayat: “Apakah tidak kamu lihat kepada orang yang berhujjah (Namrud) dengan nabi Ibrahim tentang Tuhannya? Sebab Tuhan telah memberikan padanya mulk (kekuasaan) (dan karenanya dia menjadi congkak dan takabbur), ketika berkata Ibrahim as Tuhanku adalah yang menghidupkan dan mematikan, berkata (Namrud) aku menghidupkan dan mematikan ( dan untuk membuktikan ucapannya dia memerintahkan pada pengawalnya untuk mengeluarkan dua orang narapidananya, satu diantaranya dia bebaskan dan biarkan hidup dan satu lagi dia tidak biarkan hidup dan dibunuhnya), Nabi Ibrahim as berkata sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari ufuk Timur (dan jika benar apa yang kamu katakana bahwa kamu adalah hakim alam eksistensi dan Tuhan), maka terbitkanlah kamu matahari itu dari ufuk Barat, (dalam keadaan ini) Namrud yang kafir tersebut tinggal dalam keadaan terperanjat, dan Allah tidak memberi petunjuk pada kaum yang dzalim” (Q.S:Al-Baqarah:258). Tapi meskipun ayat-ayat Al-Qur’an telah memberikan hidayahnya dan petunjuknya pada akal manusia, namun jika manusianya itu sendiri tidak mau menuruti dan mengikuti pikiran dan renungan akalnya, dia selamanya akan tetap dalam kegelapan dan kedzaliman, sebab manusia sendiri yang mempunyai kemampuan untuk merubah nasibnya dengan ikhtiyar dan pilihannya.

Masih banyak masalah-masalah dimana ayat Al-Qur’an mencahayai akal manusia supaya manusia mau mengikuti akal dan rasio sehatnya yang dapat membawanya pada kebenaran hakiki dan kesempurnaan akhir. Namun tentu pembahasan ini tidak akan sedemikian luasnya, sebab pembahasan kita ini terbatas dan bukan proporsi bahasan seluas masalah-masalah tersebut.

Dan diakhir pembahasan ini kami membawakan beberapa hadits ma’sumin berkenan tentang akal dan kebaikannya. Seseorang bertanya pada Abu Abdillah a.s, dia berkata:” Aku berkata padanya (Abu Abdillah a.s) apakah akal itu”? Beliau menjawab: “Apa yang dengannya Rahman (Tuhan maha Rahman) disembah dan apa yang dengannya jinan (jamaknya surga) diusahakan” (Al-Kâfi, 1\11) Dan juga hadits dari Nabi saww. beliau bersabda: “Tegaknya seseorang adalah akalnya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal” (Bihâr al-Anwâr, juz 1\94). Barkata imam Shadiq as: “Barang siapa yang berakal maka baginya agama, dan barang siapa punya agama maka masuk surga” (Bihâr al-Anwâr, 1\91).

Dari cahaya sabda dan perkataan ma’sumin a.s tersebut di atas, maka dapat kita pahami bahwa dasar dan landasan untuk menerima agama dan parameter kebenaran suatu keyakinan dan akidah agama, tidak lain adalah akal yang merupakan anugerah termulia Tuhan pada manusia.[] 

 

 

Kibr (Sombong dan Angkuh) April 3, 2015

Posted by makkawaru in Akhlak dan Tarbiyah.
add a comment

                                                 641Hadis H072

 

Sombong dan Angkuh [Kibr]

Syamsunar

Rasulullah Saw bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang terdapat kibr (kesombongan dan keangkuhan) di hatinya meskipun sebesar biji bayam (Wasail Syiah, jld 11, hal 307).

 

Pengertian dan Derajat Kibr

Kibr adalah suatu kondisi kejiwaan dimana sipemiliknya merasa tinggi, besar, dan superior dalam berhadapan orang lain. Dan tindakan serta perbuatan yang keluar dari sifat kibr disebut takabbur (Imam Khomeni, Syarh-e Chel hadits, hal 79). Ghalibnya sifat rendah ini lahir dari sifat ujub, dimana seseorang mengira dirinya mempunyai kelebihan, keutamaan, dan kesempurnaan sehingga muncul perasaan bangga dan puas terhadap dirinya, yang mana kondisi kejiwaan internal ini dinamakan ujub. Berangkat dari kondisi inilah kemudian dia melihat orang lain serba memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan sehingga muncullah perasaan tinggi hati dan superior dalam berhadapan orang lain yang dinamakan dengan kibr (Ibid).

Manusia yang mempunyai sifat kibr boleh jadi bertingkat-tingkat, dari yg paling tinggi hingga derajat yang rendah. Kibr yang tertinggi adalah ketika seorang hamba sombong dalam berhadapan dengan Tuhannya, seperti kebanyakan pemimpin dan penguasa zhalim, menyusul kemudian kibr dalam berhadapan para Nabi as utusan Tuhan, para Imam Maksum as, dan para wali Tuhan lainnya. Derajat berikutnya adalah kibr dalam berhadapan perintah dan larangan Tuhan, selanjutnya kibr dalam berhadapan hamba-hamba Tuhan dimana dalam derajat ini juga bertingkat-tingkat sejauh kemuliaan yang dimiliki hamba-hamba tersebut disisi Tuhan, seperti ulama, guru, orangtua, dan lainnya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang sahabat Imam Jakfar as bertanya kepada beliau tentang paling rendahnya ilhad (berpaling dari Tuhan, mulhid artinya ateis), beliau berkata: Sesungguhnya kibr adalah paling rendahnya ilhad (Ushul Kafi, jld 2, hal 309).

Penyakit Kibr Dalam Kelompok Masyarakat

Tuhan berfirman: Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi degan angkuh. Sungguh, Allah tdk menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri (Qs: Luqman, ayat 18).

Dalam kehidupan masyarakat beragama terdapat kelompok-kelompok masyarakat sesuai degan disiplin ilmu dan profesinya, diantaranya terdapat kelompok ulama irfan atau tasauf, filosof, ahli fiqh dan hadits, serta profesi-profesi kerja sepeti dokter, insinyur, ekonom, budayawan, seniman, dan lainnya. Masing-masing diantara kelompok masyarakat tersebut terkadang terdapat semacam kibr dalam memandang lainnya, seperti sebagian ulama irfan memiliki pandangan bahwa diri merekalah pemilik syuhud dan mukasyafah serta makrifat tinggi sehingga paling layak dimuliakan dan diagungkan, degan kaca mata tersebut mereka memandang yang lainnya rendah.

Mereka memandang filosof dan teolog hanya mempunyai makrifat dalam batas kulit, ulama fiqh dan ahli hadits hanya sibuk dalam masalah lahiriah agama dan lalai dari masalah batin, serta memandang masyarakat pada umumnya layaknya binatang ternak yang hanya sibuk degan makan, minum, dan berketurunan.

Tentu model pandangan demikian tidak lahir dari ahli irfan hakiki, karena jika mereka benar-benar pemilik makrifat Ilahiah maka syuhud mereka terhadap ciptaan Tuhan adalah dalam bentuk manifestasi-manifestasi Ilahiah, dan ini malah akan memberikan sebentuk pandangan pada mereka untuk tidak sombong dan angkuh dalam berhadapan mazhar-mazhar Tuhan, sebab meremehkan ciptaan Tuhan akan berimplikasi tentunya pada peremehan sang pencipta.

Demikian juga dikalangan filosof, terkadang terdapat diantara mereka yang melihat bahwa hanya kalangan mereka pemilik makrifat yaqin degan burhan dan argumentasi logikal dan rasional, hanya mereka yang punya pengetahuan tentang Tuhan, malaikat, kenabian, dan alam akhirat yang benar, sedangkan yang lainnya tidak mempunyai makrifat yang cukup tentang masalah-masalah tersebut. Mereka mengobral kesombongan ilmu kepada yang lainnya dan menilai mereka tidak ubahnya anak kecil yang tidak memahami masalah-masalah pelik orang dewasa. Mereka lalai sekiranya benar-benar memahami mabda dan maad maka mereka mestilah memandang sama diri mereka degan yg lainnya, sebab selain Al-Wajib Ta’ala semuanya hanyalah imkan faqri, yakni ketidakberpunyaan dan kebergantungan itu sendiri pada yg Mahakaya, bukan sesuatu pemilik sesuatu dan tidak memiliki lainya. Tetapi identitasnya sendiri itulah yang identik dan sama degan kefakiran dan ketidakberpunyaan, sebagamana firman Tuhan: Wahai manusia, kamu semua adalah fuqaraa kepada Allah, dan hanya Allah yg Mahakaya dan Mahaterpuji.

Kibr yang terjadi dikalangan fuqaha biasanya berbentuk pandangan bahwa hanya kelompok mereka yang mendalami dan memahami agama, karena itu mereka merasa hanya golongan mereka yang benar menjalankan agama Tuhan, adapun ilmu-ilmu yang lain semuanya diluar ilmu agama; ilmu irfan sesat, ilmu kalam dan filsafat batil, dan lainnya. Mereka merasa memiliki otoritas tertinggi agama sehingga mereka tidak ditanya dalam perbuatannya dan hanya yang lain mesti dipertanyakan amalan dan perbuatannya. Terkadang mereka dengan pandangannya mempersempit surga untuk kelompok mereka, padahal bukankah mestinya surga sebagai rahmat Tuhan pintunya terbuka lebar bagi seluruh hamba-Nya dan sangatlah luas, sebagaimana dalam riwayat dan doa didapatkan ungkapan, Rahmat-Nya mendahului Murka-Nya, Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.

Berbeda lagi di luar lingkungan kelompok agama, kibr yang terdapat dalam kelompok masyarakat dikarenakan profesi, status sosial, banyaknya kekayaan, popularitas, dan lainnya. Mereka semua berbangga-bangga dan menyombongkan diri degan atribut-atribut iktibari yang mereka peroleh lewat kontrak sosial, padahal semuanya itu bukanlah perkara hakiki, setiap waktu bisa kehilangan dari diri mereka. Betapa banyak orang yang tadinya dieluk-elukkan karena jabatannya atau kekayaannya, tapi karena suatu sebab mereka tercampakkan dan bahkan jadi sampah masyarakat. Coba kita renungkan bersama untuk apa kita kibr dan sombong kepada orang lain, bukankah kita semuanya sama pemikul kotoran, sebagaimana sabda Imam Ali as: Saya heran terhadap anak keturunan Adam, awalnya adalah nutfah dan akhirnya adalah bangkai, serta diantara keduanya (nutfah dan bangkai) dia hanyalah wadah kotoran tai, lantas mengapa dia takabbur (Biharul Anwar, jld 73, hal 234).

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa mereka yang di dunia ini kibr dan bersikap takabbur terhadap orang lain kelak akan merasakan kerendahan dan kehinaan, sebagaimana perkataan Imam Shadiq as: Sesungguhnya orang-orang takabbur akan dijadikan dalam bentuk semut lemah dan manusia akan menginjak-injaknya sampai Tuhan selesai dari perhitungan (Ushul Kafi, jld 2, hal 11, kitab iman dan kufur, bab kibr, hadits 11).

 

Terapi Amali Menjauhkan dan Menghilangkan Kibr

Mengerjakan pekerjaan sehari-hari seperti menyapu halaman, belanja dipasar rakyat, memberi salam pada orang, mengantar anak-anak kesekolah, membersihkan selokan rumah, antrian, dan lainnya dapat menjauhkan manusia dari kibr dan mengobati penyakit kibr. Pekerjaan-pekerjaan yang dari sudut pandang masyarakat tidak sesuai dengan kedudukannya serta kibr tidak mengizinkannya untuk mengerjakan pekerjaan seperti itu, mestilah ia lakukannya supaya ia terlepas dari penyakit qalbu yang sangat berbahaya ini. Rasulullah Saw bersabda: Niscaya menyenangkanku bahwasanya seseorang mengambil dan membawa sesuatu di tangannya (demi menjauhkan kibr darinya) untuk menggembirakan keluarganya.

Sebagai contoh teladan dalam masalah ini, Rasulullah Saw sendiri sangatlah tawadhu dalam kehidupannya dan sangatlah jauh dari sifat kibr. Ibnu Abbas ra berkata: Rasulullah Saw duduk diatas tanah dan makan diatas tanah serta mengikat domba dan memenuhi undangan hamba sahaya. Rasulullah Saw sendiri berkata tentang dirinya dalam sabdanya: Saya adalah seorang hamba dan saya makan sebagaimana seorang hamba makan dan saya duduk sebagaimana seorang hamba duduk (Makrimul Akhlak, hal 12).

Tidak ada jalan lain, untuk selamat dari murka Tuhan haruslah menjauhkan diri dari sifat kibr, dan jika terlanjur sudah terkena virus berbahayanya maka segeralah mengobatinya, demi untuk terhindar dari bencana besar yang akan menimpa, sebagaimana nasihat Imam Shadiq as pada sahabatnya: Takut dan jauhilah kibr, sebab kibr jubah khusus Tuhan, dan barang siapa yang menentang Tuhan dalam masalah itu maka Allah akan membinasakannya dan menghinakannya pada hari kiamat (Wasail Syiah, jld 11, hal 300). Semoga kita terhindar dan terjauhkan dari sifat dan penyakit radzilah ini.

 

 

 

Akal dan Wahyu April 3, 2015

Posted by makkawaru in Wacana.
add a comment

                                   641Hadis H074

 

 Akal dan Wahyu: Dua Jalan Menuju Agama

Oleh: Syamsunar

 

Jika kita ingin mengindentifikasi metode-metode pencapaian makrifat kepada Tuhan oleh setiap orang, maka bisa dikatakan bahwa setiap orang memiliki metode dan cara tersendiri dalam meraih makrifat tersebut. Oleh sebab itu dikatakan bahwa jalan-jalan menuju Tuhan sebanyak nafas makhluk yang ada di alam ini. Tetapi apabila kita ingin meninjau sisi yang sama dari jalan-jalan makrifat kepada Tuhan tersebut, maka terdapat beberapa pendekatan universal yang dapat mencakup semua manusia.

Di bawah ini terdapat beberapa metode dalam pencapaian makrifat kepada Tuhan, antara lain:

  1. Metode Argumentasi

Cara ini tersedia bagi setiap orang, sebab cara ini menggunakan premis-premis dan prinsip-prinsip rasionalitas dalam menetapkan eksistensi Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya. Yakni jalan ini menggunakan premis-premis logika serta metode-metode argumentasi yang murni bersandar pada kaidah akal dalam pembuktikan keberadaan Tuhan dan menetapkan sifat-sifat khusus yang layak bagi-Nya, seperti hidup, ilmu, hikmah, iradah, dan kuasa,  serta membersihkan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak, seperti bermateri, beranak dan terbatas .

 

  1. Metode Kontemplasi

Manusia dalam perjalanan hidupnya senantiasa dipenuhi dengan rasa ingin tahu terhadap apa yang dihadapannya, karena itu apa saja yang disaksikannya membawanya kepada pengenalan lebih jauh dan lebih dalam. Dengan berpikir terhadap fenomena-fenomena alam yang disaksikannya serta hubungan satu sama lainnya bisa mengantarkannya pada penemuan akan keberadaan Pencipta dan sifat-sifat-Nya seperti ilmu, iradah, hikmah, dan kekuasaan. Jalan ini bersandar pada pengamatan dan penyaksian alam, sebab itu disebut jalan perenungan dan kontemplasi. Perlu diketahui bahwa jalan ini tidak dapat dicapai tanpa bantuan prinsip dan kaidah akal.

 

  1. Metode Fitrah dan Syuhudi

Jalan ini tidak dengan akal argumentasi dan juga tidak dengan kontemplasi alam tabiat. Manusia dengan hanya merujuk pada kedalaman batinnya, dia akan menemukan dan memperoleh makrifat Tuhan. Metode fitrah, mukasyafah irfani, dan jalan musyahadah kalbu termasuk dalam katagori jalan ini dalam menemukan Tuhan dan sifat Jalal dan Jamal-Nya. Jalan ini hanya terbuka bagi hati-hati yang bersih yang tidak dipenuhi dengan hawa nafsu, cinta materi, dan  duniawi, karena itu ia hanya bisa ditempuh dengan jalan tahdzib nafs dan pensucian jiwa. 

 

Cara syuhudi, jika ditinjau dari segi epistemologi memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari metode kontemplasi dan argumentasi di atas, sebab dalam syuhudi manusia mengenal Tuhan dengan ilmu huduri, sedangkan pada metode pertama dengan ilmu husuli. Cara ini dijalani dengan pembersihan dan pensucian nafs lewat pendisiplinan diri pada tingkatan-tingkatan spiritual hingga mencapai maqam syuhud dan penyaksian Tuhan dan dengan pandangan batin memandang sifat Jalal dan Jamal-Nya.

 

Defenisi Agama

Secara leksikal, agama yang dalam bahasa Arab disebut Din memiliki arti ajaran, penyerahan, balasan, dan ketaatan. Adapun arti Din bisa didefenisikan sebagai berikut: Din adalah seluruh rangkaian ilmu, makrifat, dan pengetahuan suci yang secara teoritis maupun praktis, yakni seluruh tinjauan dan pandangan terhadap pengamalan-pengamalan yang mengandung muatan suci [Reza shadeqi, Dar omad-e bar Kalâm-e Jadid, hal.28]. Tentu defenisi ini bersifat luas dan tidak terbatas pada satu agama, sebab seluruh agama mempunyai konsepsi-konsepsi dan praktek-praktek yang dipandang suci oleh para penganutnya. Adapun mengenai kebenaran ajaran suatu agama, hal tersebut menjadi bab pembahasan dalam sistem keyakinan dan kepercayaan secara teoritis dan praktis, dimana akal dapat menguji sejauh mana kebenaran serta kesesuaian agama tersebut dengan hakikat realitas. Misalnya pandangan Islam tentang Tuhan berbeda dengan Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Tao, Konghucu dan agama-agama lainnya. Manakah diantara agama-agama tersebut yang mempunyai pandangan dan keyakinan tentang Tuhan yang dapat dibuktikan kebenarannya dan bersesuaian dengan hakikat realitas yang ada?  

Jika definisi tersebut di atas dihubungkan dengan Islam maka agama berarti seluruh makrifat yang berkaitan dengan Tuhan yang terdapat dalam teks-teks Suci Al-Quran dan Sunnah Nabi Saw.

Agama  dapat juga  didefenisikan sebagai berikut: Ketaatan mutlak dan balasan yang dijabarkan dalam bentuk keyakinan, akhlak, hukum-hukum, dan undang-undang yang berkaitan dengan individu dan masyarakat [Ayatullah Jawadi Amuli, Syari’at Dar Ayeneh-e Ma’rifat, hal. 111]. Agama-agama samawi adalah agama-agama yang berasal dari Tuhan yang diwahyukan kepada para Nabi dan Rasul as, sebab itu masalah dan persoalan agama ditetapkan berdasarkan wahyu dan berita-berita yang  diterima secara yakin. Tidak semua ajaran agama-agama seluruhnya benar dan juga sebaliknya, dan terkadang dalam beberapa ajaran bercampur antara benar dan batil. Jika keseluruhan ajarannya adalah benar maka disebut agama yang benar, dan begitu pula sebaliknya disebut agama yang batil atau percampuran antara benar dan batil [Ibid].

 

Tujuan Agama

Secara global agama dipandang sebagai jalan dan petunjuk menuju kebahagiaan dan kesempurnaan. Dalam hal ini, kita tidak berbicara tentang agama-agama secara umum, kita hanya berbicara berkaitan dengan agama Islam. Kita meyakini secara argumentatif bahwa hanya agama Islam yang secara utuh memiliki kebenaran, baik secara teoritis maupun praktis.

Kitab-kitab suci yang diturunkan Tuhan beserta Rasul dan Nabi-Nya, semuanya mengajak manusia menyembah Tuhan dan mengesakan-Nya, berbuat baik kepada manusia dan menegakkan keadilan. Jelaslah agama dalam hal ini merupakan hidayah Tuhan Yang Maha Pengasih. Dan Tuhan juga memberi petunjuk pada manusia dalam rangka menyampaikan mereka kepada kebahagiaan di dunia dan kesempurnaan di akhirat. Yakni tujuan agama dalam konteks ini adalah memberi hidayah dan petunjuk kepada manusia, mengaktualkan potensi manusia dan mengangkat manusia ke maqam kedekatan Tuhan.

Hakikat agama adalah kebahagiaan, kedamaian dan kemenangan seluruh umat manusia. Agama adalah jalan mencapai puncak tujuan penciptaan dan puncak kesempurnaan manusia. Agama bertujuan mengangkat manusia dari alam materi yang rendah menuju ke alam malakuti yang tinggi. Agama berkeinginan membantu manusia menyelesaikan berbagai problematika di dunia ini. Agama ingin menghilangkan ketakutan manusia kepada kematian dengan memberikan harapan kepada kehidupan abadi. Agama ingin mendekatkan manusia kepada Tuhan Penciptanya.

 

Fitrah Manusia

Kata fitrah secara leksikal bermakna watak ciptaan suatu maujud, namun dalam istilahnya mempunyai pengertian yang bermacam-macam. Dan yang kita maksudkan dari pada fitrah disini adalah sisi-sisi universal yang terdapat pada manusia dan mendasari sifat dan kecenderungan hakiki manusia dalam menerima agama dan penyembahan kepada Tuhan.

Adapun mengenai fitrah manusia kepada Tuhan dan agama terdapat tiga pandangan:

  1. Membenarkan keberadaan Tuhan merupakan pengetahuan yang bersifat fitrah manusia. Fitrah dalam pengertian ini adalah fitrah akal yang berhubungan dengan sistim pengenalan dan pengetahuan manusia.
  2. Manusia secara hudhuri dan syuhudi memiliki pengetahuan kepada Tuhan, dan manusia berdasarkan potensinya masing-masing mendapatkan pengetahuan hudhuri dari Tuhan tanpa perantara.
  3. Fitrah manusia kepada Tuhan adalah kecenderungan alami dan esensi yang terdapat dalam diri manusia, yakni kecenderungan dan keinginan kepada Tuhan merupakan hakikat penciptaan manusia.

Syahid Murtadha Muthahari dalam mengomentari pandangan pertama  berkata: Sebagian orang yang berpandangan tentang kefitrahan pengetahuan kepada Tuhan yang mereka maksud dalam hal ini adalah fitrah akal. Mereka berkata bahwa manusia berdasarkan hukum akal yang bersifat fitrah tersebut tidak membutuhkan premis-premis argumentasi dalam menegaskan wujud Tuhan. Dengan memperhatikan tatanan eksistensi dan keteraturan segala sesuatu, maka otomatis dan tanpa membutuhkan argumen, manusia mendapatkan keyakinan tentang keberadaan Sang Pengatur yang Maha Perkasa [Murtadha Muthahhari, Majmu’e âtsar, jilid 6, hal.934].

Pandangan kedua tentang fitrah adalah manusia secara fitrah mempunyai pengetahuan hudhuri kepada Tuhan, bukan dengan ilmu hushuli yang diperoleh lewat argumentasi akal. Yakni manusia mempunyai hubungan yang dalam dan hakiki dengan Penciptanya, dan ketika manusia memandang ke dalam dirinya, dia akan menemukan hubungan tersebut. Karena kebanyakan manusia sibuk dengan kehidupan materi, maka dia tidak mendapatkan hubungan dengan Penciptanya. Tapi manusia pada saat memutuskan hubungannya dengan kesibukan-kesibukan kehidupan dunia, atau saat manusia kehilangan harapan dari sebab-sebab materi, barulah manusia merasakan hubungan tersebut yang terdapat dalam dirinya.

Fitrah dalam pandangan ketiga juga bukan fitrah akal atau pengetahuan hushuli yang sederhana, tetapi yang dimaksud adalah fitrah qalbu. Syahid Muthahari berkata:Fitrah qalbu adalah manusia secara khusus diciptakan berkecenderungan dan berkeinginan kepada Tuhan. Dalam diri manusia telah diletakkan suatu bentuk instink pencarian Tuhan, kecenderungan kepada Tuhan, cinta dan penyembahan kepada Tuhan, sebagaimana instink kerinduan kepada  ibu dalam watak seorang anak [Ibid].

Anak-anak yang baru dilahirkan meskipun belum memahami makna kesadaran nyata tetapi terdapat dalam dirinya apa yang tidak disadarinya berupa kecenderungan kepada ibu dan kerinduan padanya. Dalam wujud manusia terdapat kecenderungan seperti ini, suatu kecenderungan agung dan tinggi, yakni kecenderungan penyembahan dan kecenderungan kepada Tuhan. Kecenderungan inilah yang membawa manusia ingin berhubungan dengan suatu hakikat yang tinggi dan ingin dekat kepada hakikat tersebut serta mensucikannya. Fitrah manusia yang telah diciptakan Tuhan dan diletakkan pada diri manusia dalam bentuk tabiat penciptaan, dengan tabiat tersebut  manusia menerima agama dan menyembah dan mencintai Tuhan.

 

Makna dan Pengertian Akal

Akal dalam bahasa arab bermakna mencegah dan menahan, dan ketika akal dihubungkan dengan manusia maka bermakna orang yang mencegah dan menahan hawa nafsunya. Selain itu akal juga digunakan dengan makna pemahaman dan tadabbur. Jadi akal dari segi leksikalnya bisa bermakna menahan hawa nafsu sehingga dapat membedakan antara benar dan salah, juga bisa bermakna memahami dan bertadabbur sehingga memperoleh pengetahuan.

Akal dalam istilah mempunyai makna yang bermacam-macam dan banyak digunakan dalam kalimat majemuk, dibawah ini macam-macam akal, antara lain:

– Akal instink : Akal manusia di awal penciptaannya, yakni  akal ini masih bersifat potensi dalam berpikir dan berargumen [Dr. Sajjadi, Farhang-e Ulum Falsafah wa Kalam, hal.496];

– Akal teoritis : Akal yang memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang ada dan tiada (berkaitan dengan ontology), serta dalam hal tindakan dan etika mengetahui mana perbuatan yang mesti dikerjakannya dan mana yang tak pantas dilakukannya (berhubungan dengan ilmu fiqih dan akhlak);

– Akal praktis : Kemampuan jiwa manusia dalam bertindak, beramal dan beretika sesuai dengan ilmu dan pengetahuan teoritis yang telah dicerapnya;

– Akal dalam istilah teologi bermakna proposisi-proposisi yang dikenal dan niscaya diterima oleh semua orang karena logis dan faktual [Khusro panoh, Kalam-e Jadid, hal.64];

  1. Juga akal dalam istilah teologi bermakna proposisi-proposisi yang pasti dalam membentuk premis-premis argumen dimana meliputi proposisi badihi (jelas, gamblang) dan teoritis [Ibid];
  2. Akal substansi: sesuatu yang non materi dimana memiliki zat dan perbuatan.

Tentu yang kita maksudkan dalam pembahasan agama dan akal disini adalah akal yang  berfungsi dalam argumentasi dan burhan dimana didasarkan atas proposisi-proposisi yang pasti dan jelas, sehingga nantinya dapat diketahui bahwa pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pasti dan filosofis (argumentasi filsafat) tidak memiliki kontradiksi dengan doktrin-doktrin suci agama.

 

Makna dan Pengertian wahyu

Wahyu merupakan kata yang tidak dapat dipisahkan dari agama-agama langit, sebab wahyu Tuhan merupakan dasar dan prinsip yang membentuk  suatu agama samawi.

Ragib Isfahani dalam menjelaskan pengertian wahyu secara literal berkata: Akar kata wahyu bermakna isyarat cepat, oleh sebab itu setiap perbuatan yang dilakukan dengan cepat disebut wahyu. Dan ini bisa berbentuk ucapan bersandi dan berkinayah, atau tidak dalam bentuk kata-kata tapi berbentuk isyarat dari bagian anggota-anggota badan atau dalam bentuk tulisan [Isfahani, Mufradat al-fâz al-Quran, hal.858].

Adapun wahyu menurut istilah adalah terbentuknya hubungan spiritual dan gaib pada setiap Nabi ketika mendapatkan pesan-pesan suci dari langit [Sayyid Mahdi, Darsnom-e ulumul Quran, hal.61].

Wahyu bukanlah sejenis ilmu hushuli yang didapatkan lewat mengkonsepsi alam luar dengan panca indera dan akal pikiran, tetapi wahyu adalah sejenis ilmu hudhuri, bahkan wahyu merupakan tingkatan ilmu huduri yang paling tinggi. Wahyu adalah penyaksian hakikat dimana hakikat tersebut merupakan pilar dan hubungan hakiki eksistensi manusia, manusia dengan ilmu hudhuri mendapatkan hubungan eksistensi dirinya dengan Tuhan dan kalam Tuhan, sebagaimana manusia mendapatkan dirinya sendiri [Ayatullah Jawadi Amuli, Din Syenosi, hal.241].

 

Batasan Akal dan Wahyu

Tidak diragukan bahwa akal memiliki  kedudukan dalam wilayah agama, yang penting dalam hal ini menentukan dan menjelaskan batasan-batasan akal, sebab kita meyakini bahwa hampir semua kaum muslimin berupaya dan berusaha mengambil manfaat akal dalam pengajaran agama dan penjelasan keyakinan agama secara argumentatif. Para filosof Islam dalam hal ini juga  berusaha menjelaskan batasan antara akal dan syariat (hukum-hukum agama). Al-Kindi (lahir 185 H), filosof Islam pertama yang mendalami filsafat dan  terlibat dalam penerjemahan karya-karya filsafat adalah tokoh yang sangat memperhatikan masalah tersebut. Dia berupaya menerangkan kesesuaian akal dan wahyu, antara filsafat dan syariat. Menurut keyakinan dia, jika filsafat adalah ilmu yang mendalami hakikat-hakikat realitas sesuatu, maka mengingkari filsafat identik mengingkari hakikat sesuatu, yang pada akhirnya menyebabkan ketidaksempurnaan pengetahuan. Oleh sebab itu, tidak ada kontradiksi antara agama dan filsafat. Dan jika terdapat kontradiksi secara lahiriah antara wahyu dan pandangan-pandangan filsafat, maka cara pemecahannya adalah melakukan penafsiran dan ta’wil terhadap teks-teks suci agama. Metode ini dilanjutkan dan diteruskan oleh Al-Farabi.

Al-Farabi juga berpandangan bahwa agama dan filsafat sebagai dua sumber pengetahuan yang memiliki satu hakikat. Dia menafsirkan kedudukan seorang Nabi dan filosof berdasarkan empat tingkatan akal teoritis (akal potensi, akal malakah, akal aktual, dan akal mustafad) dimana Nabi mencapai kedudukan akal mustafad (tingkatan akal paling tinggi) dan seorang filosof mencapai kedudukan akal actual. Jadi perbedaan nabi dan filosof sama dengan perbedaan kedua akal tersebut, akal mustafad lebih tinggi dari akal aktif.

Ibnu Sina membagi dua filsafat yaitu filsafat teoritis dan filsafat praktis. Poin penting dalam pandangan Ibnu Sina tentang hubungan akal dan wahyu adalah pandangannya tentang dasar pembagian filsafat praktis dimana berpijak pada syariat Ilahi. Ibnu Sina berkata, ” … filsafat praktis (al-hikmah al–amaliyyah) dibagi dibagi menjadi  pengaturan negara (al-hikmah al-madaniyyah), pengaturan keluarga (al-hikmah al-manziliyyah), dan akhlak atau etika (al-hikmah al-khulqiyyah), ketiga bagian ini didasarkan pada syariat Tuhan dan kesempurnaan batasan-batasannya dijelaskan dengan syariat serta pengamalannya sesudah manusia memperoleh pengetahuan teoritisnya terhadap undang-undang dan rincian pengamalannya” [Ibnu Sina, Rasaail fi al-hikmah wa al-tabi’iyyaah, hal.23-24].

Sebagaimana kita lihat dalam perkataan Ibnu Sina tersebut bahwa dia memandang sumber dan dasar pembagian-pembagian filsafat praktis berpijak pada syariat Tuhan dan dia juga memandang bahwa batas-batas kesempurnaan pembagian tersebut ditentukan oleh syariat.

Pandangan-pandangan para filosof Islam tersebut menjelaskan tentang wilayah dan batasan akal terhadap wahyu, dimana akal menentukan dan mendefinisikan hal-hal universal yang berhubungan dengan pandangan dunia agama, dan adapun hal-hal yang bersifat partikular dan pengamalannya ditentukan oleh agama itu sendiri. Tujuan agama dan kemestian manusia untuk beragama serta penentuan agama yang benar dibebankan pada kemampuan akal. Akal tidak memahami masalah-masalah seperti dari mana manusia datang, tujuan hakiki kehadiran dia, cara dia berterima kasih kepada Pencipta, kemana manusia setelah meninggal, dan bagaimana bertemu Tuhannya, tetapi  akal memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh agama (dalam pengertian khusus) dan bukan tanggung jawab serta diluar kemampuan akal pikiran manusia.

Oleh karena itu, secara umum manusia menyaksikan bahwa masalah-masalah tersebut merupakan batasan dan wilayah agama, dan hanya agama yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sementara secara detail akal tidak mampu menjawabnya. Dengan demikian, untuk memperoleh jawaban secara mendetail dan terperinci dari pertanyaan-pertanyaan tersebut tak ada cara lain selain merujuk kepada agama dan syariat suci Tuhan.

Konklusi dari pembahasan ini adalah akal memiliki kemampuan dalam membangun argumentasi yang kokoh tentang pandangan dunia agama, tetapi akal tak mampu memahami secara partikular dan mendetail batasan dan tujuan hakiki agama. Oleh sebab itu, manusia harus merujuk kepada agama dan syariat (wahyu) yang diturunkan Tuhan lewat Nabi-Nya.

 

Kesesuaian Akal dan Wahyu

Jika kita berbicara tentang segala ciptaan Tuhan, maka akal dan wahyu juga merupakan dua realitas ciptaan Tuhan.

Tuhan mengutus Nabi-nabi disertai wahyu dan agama untuk memberi hidayah umat manusia, dan Tuhan menciptakan akal manusia. Akal adalah salah satu fenomena diantara fenomena-fenomena alam yang ada. Tuhan adalah Pencipta akal dan Tuhan juga merupakan sumber syariat dan agama (wahyu). Jadi akal dan wahyu berasal dari Tuhan dan berujung pada satu hakikat yang tinggi dan suci.

Dalam teologi Islam ada konsep “kebaikan dan keburukan dalam timbangan akal” (husn wa qubh al-aql), artinya akal dapat menetapkan dan menilai berbagai perbuatan dan tindakan, serta menghukumi baik dan buruknya atau benar dan salahnya. Akal menetapkan perbuatan baik seperti keadilan, kejujuran, balas budi, menolong orang-orang yang dalam kesulitan dan kemiskinan, dan juga menilai perbuatan buruk seperti kezaliman, menganiaya dan merampas hak dan milik orang lain. Dalam konteks ini, akal dengan tanpa bantuan wahyu dapat menunjukkan kepada manusia mana keadilan dan kezaliman, kejujuran dan kebohongan. Dalam hal ini juga syariat Tuhan menegaskan dan memberi hidayah kepada manusia supaya tidak mengingkari keputusan akal. Oleh sebab itu, jika husn wa qubh al-aql ini dinafikan, maka syariat tidak dapat ditetapkan. Khojah Nasiruddin Thusi berkata, “Baik dan buruk dalam mizan akal (husn wa qubh al-aql) secara mutlak tertegaskan, karena keduanya berkaitan erat dalam keberadaan dan keabsahan syariat” [Nashir al-din Thusi, Kasyf al-Murad fi Syarh al-Tajrid al-I’tiqad, hal.423].  Artinya jika akal tidak dapat menetapkan kebaikan dan keburukan, maka syariat juga tak dapat ditetapkan, karena dusta misalnya jika menurut akal tidaklah buruk, maka manusia tidak bisa menilai perkataan jujur para Nabi-nabi as adalah baik. Manusia juga tidak dapat mengetahui bahwa para Nabi dan Rasul as pasti tidak bohong. Jika manusia mengetahui dari syariat bahwa para nabi pasti berkata jujur dan kejujuran adalah sifat yang mulia, maka muncul masalah bahwa syariat yang belum diketahui apakah hasil dari perkataan jujur atau bohong, sehingga dipercayai kejujuran dan kebenarannya. Yang pasti jika baik dan buruk dalam pandangan akal dinafikan, maka sangat banyak hal dan masalah yang dipertanyakan keabsahan dan kebenarannya, hatta syariat itu sendiri.

Dari tinjauan tersebut di atas, tidak bisa  dikatakan bahwa akal dan syariat di alam realitas saling berlawanan dan kontradiksi. Para ulama ushul fiqih mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah (dua belas imam) memiliki konsep dan pandangan dalam bentuk sebagai berikut: Tuhan adalah pencipta akal dan pemimpin masyarakat berakal, serta Dia pulalah yang menganugrahkan wahyu dan agama untuk manusia, maka  tidak mungkin wahyu dan agama tidak sesuai dengan akal, dan jika tidak ada kesesuaian maka akan terjadi inner kontradiksi dalam ilmu Tuhan. Oleh karena itu, kita meyakini bahwa tidak terdapat kontradiksi antara akal dan wahyu, dan antara rasionalitas dan agama.

Diakhir pembahasan ini kami akan menyajikan perkataan Mulla Sadra, salah seorang filosof besar Islam dan pendiri hikmah muta’aliyah, dimana Filsafatnya mencerminkan pengaruh timbal balik akal dan wahyu. Dia berusaha semaksimal mungkin membangun filsafatnya dari kekuatan akal dan kesucian wahyu.  

Jika kita tinjau hubungan antara muatan wahyu dan proposisi akal, maka hubungan tersebut bisa dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Muatan wahyu sesuai dengan akal;
  2. Muatan wahyu lebih tinggi dari akal;
  3. Muatan wahyu kontradiksi dengan akal.

Menurut keyakinan Mulla Sadra, wahyu hakiki dan pesan hakiki Tuhan tidak kontradiksi dengan proposisi akal. Dalam tinjauan tersebut, dia berkata: Maka kami bawakan dalil kuat yang berkaitan dengan topik ini, sehingga diketahui bahwa syariat dan akal memiliki kesesuaian sebagaimana dalam hikmah-hikmah lainnya, dan mustahil syariat Tuhan yang benar dan hukum-hukum-Nya berbenturan dan bertentangan dengan makrifat-makrifat akal dan argumentasi rasional, dan binasa bagi filsafat yang teori-teorinya tidak sesuai dengan kitab suci Tuhan dan sunnah Nabi-Nya [Mulla Sadra, Al-Asfar, jilid 9, hal.303]. Menurut Mulla Sadra, hukum-hukum agama yang penuh dengan cahaya suci Tuhan mustahil bertentangan dan bertolak belakang dengan pengetahuan-pengetahuan universal akal, filsafat yang benar tidak mungkin teori-teorinya bertentangan dengan kitab suci Tuhan dan sunnah Nabi-Nya. Dia berkeyakinan bahwa filsafat yang benar dan hakiki adalah filsafat yang memiliki korelasi dengan  wahyu suci Tuhan. Secara prinsip, filosof yang perkataannya menyalahi agama bukanlah filosof hakiki. Dia berkata: Dan barang siapa yang agamanya bukan agama yang dianut oleh para Nabi as, maka pada dasarnya dia tidak mendapatkan sedikitpun bagian dari hikmah [Mulla Sadra, Al-Asfar, jilid 5, hal.205].  Artinya, para filosof yang agamanya bukan agama para Nabi as, maka dia tidak mengambil manfaat sama sekali dari filsafat.

Dari perkataan Mulla Sadra di atas, dapat disimpulkan bahwa  dia berusaha membela gagasan kesesuaian akal dan wahyu, filsafat dan syariat, dan menolak adanya kontradiksi diantara keduanya.  

 

 

 

Syukur Nikmat VS Kufur Nikmat April 3, 2015

Posted by makkawaru in Akhlak dan Tarbiyah.
add a comment

Syukur Nikmat vs Kufur Nikmat

“Jika engkau bersyukur, niscaya Aku tambahkan (nikmat-Ku) kepadamu, akan tetapi jika engkau kufur atasnya, sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih (Qs; Ibrahim, ayat 7).

Amirul Mukminin Ali as: Ketika dimensi-dimensi nikmat sampai kepadamu janganlah engkau memutuskannya dengan sedikit bersyukur (Hikmah 13).

Penjelasan: Dalam hikmah ini Amirul Mukminin as menjelaskan bahwa syarat langgengnya nikmat Tuhan (nikmat maknawi dan materi) adalah memperbanyak syukur kepada-Nya atas nikmat sebelumnya. Sebagaimana ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa jika manusia bersyukur niscaya Tuhan akan menambahkan nikmat-Nya kepadanya (Surah Ibrahim, ayat 7). Dengan demikian jelaslah bahwasanya salah satu penghalang turunnya rahmat dan nikmat Ilahi adalah kufur nikmat, yakni ketiadaan syukur hamba terhadap nikmat Ilahi. Di samping itu sebagaimana yang dijelaskan dalam berbagai riwayat, penghalang lain turunnya rahmat dan nikmat Tuhan adalah dosa dan maksiat yang dilakukan manusia. Imam Shadiq as berkata: Seorang mukmin melakukan dosa, dan karena dosanya itu maka ia tidak dapat bagian rezki (Bihar, jld 73, hal 349).

 

Tingkatan-tingkatan Syukur

1.Syukur Lisan: Memuji Tuhan dan bertasbih degan lidah dan lisan. Apa saja bentuknya dan dalam keadaan apapun dzikir memuji Tuhan degan lidah disebut juga dzikir lisan.

Membiasakan lidah mengucapkan syukur ketika mendapatkan nikmat merupakan kebiasaan terpuji degan syarat muncul dar hati yang paling dalam dan bukan sekedar ucapan-ucapan lidah saja.

  1. Syukur Qalbu: Memperhatikan nikmat-nikmat Ilahi dan memutuskan untuk bersyukur kepada Tuhan yang disebut syukur qalbu dan pikiran. Adapun pikiran yang tidak mmperhatikan pemberian-pemberian Tuhan dan melewatinya degan lalai maka disebut qalbu dan pikiran yang tidak brsyukur kepada Tuhan.

Syukur jenis ini lebih tinggi derajatnya dari syukur lisan dimana manusia diajak untuk khusyu’ terhadap keesaan dan kebesaran Tuhan.

  1. Syukur Anggota Badan: Tingkatan ini biasa disebut syukur perbuatan. Yakni anggota badan berbuat dan berprilaku sesuai degan iradah dan kehendak Tuhan. Seperti melihat apa yg dianjurkan-Nya, melihat tanda-tanda keagungan Ilahi, melihat AlQur’an, Ka’bah, melihat Ulama Rabbani, melihat kedua orang tua degan penuh cinta dan…, semua ini termasuk syukur kepada Tuhan, begitu pula menahan pandangan untuk tidak mlihat yang diharamkan Tuhan, menahan pendengaran, lisan, tangan, dan kaki dari yang diharamkan-Nya. Jadi seluruh anggota badan yang merupakan nikmat-nikmat Ilahi kalau digunakan sesuai degan hukum agama maka termasuk syukur amali dan pelakunya termasuk orang-orang yang bersyukur.

 

Kufur Nikmat

Salah satu dari sifat-sifat buruk (sifat radzilah) dalam wujud manusia adalah Kufur Nikmat.

Kufur bermkna menutupi dan menyembunyikan. Dalam bahasa disebut kafir karena menyembunyikan benih dibawah tanah. Kafir juga disebut sebagai gelapnya malam karena segala sesuatu ditutupinya. Dan seseorang juga yang tidak bersyukur kepada Tuhan disebut kafir karena menutupi nikmat-nikmat Tuhan terhadap dirinya [Sihah Jauhari, maddah Kufr].

Sebagian manusia dalam hidupnya begitu sangat gelap sehingga mereka tidak melihat atsar (pengaruh) wujud Tuhan dan bahkan mengingkarinya. Mereka ini adalah orang-orang kafir Mutlak (murni kafir).

Terkadang sebagian manusia memiliki sedikit sisi gelap dalam hidupnya dan bahkan melihat fenomena-fenomena ciptaan Tuhan dan beriman kepada-Nya, akan tetapi mereka tidak melihat nikmat-nikmat Tuhan yang diberikan kepadanya dan juga mereka tidak tahu bahwa yang memberikan nikmat-nikmat tersebut dalam menjalani kehidupannya semuanya berasal dari Tuhan.

Dan sebagian manusia yang lain mmiliki perhatian terhadap nikmat-nikmat Tuhan yang telah diberikan kepadanya dan mengetahui bahwa nikmat-nikmat tersebut berasal dari Tuhan dimana Dia yang mengatur kebutuhan-kebutuhannya akan tetapi mereka tidak menjalankan nikmat-nikmat tersebut sebagaimana mestinya dan hanya menggunakannya sesuai degan keinginan hawa nafsunya.

Tingkatan-tingkatan tersebut di atas digolongkan dalam manusia kafir dimana pada tingkatan pertama disebut kufur terhadap wujud Tuhan, tingkatan kedua disebut kufur terhadap nikmat-nikmat Tuhan dan tingkatan ketiga disebut kufur dalam penggunaan nikmat-nikmat-Nya.

Argumen Keteraturan Maret 27, 2015

Posted by makkawaru in Teologi.
add a comment

 641Hadis H071

Argumen Keteraturan (Burhan Nazhm)

Burhan keteraturan ini merupakan paling jelasnya argumen dan paling mudahnya argumen serta berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk menguraikan argumen ini terlebih dahulu kami memperjelas apa yang dimaksud keteraturan. Keteraturan adalah bahwa di antara perkara-perkara yang beragam dan berbeda-beda, apakah itu bagian dari satu majemuk atau individu-individu satu mahiyah atau mahiyah-mahiyah yang beragam, menghasilkan hubungan, kesesuaian, dan keharmonisan khusus dan mereka semua terarahkan ke arah tujuan khusus.

 

Bentuk Argumen Keteraturan

Untuk menguraikan argumen ini dibutuhkan dua mukadimah:

  1. Dalam alam tabiat terdapat sistem keteraturan yang kokoh dan ini disaksikan oleh semua manusia dengan baik. Seluruh kitab-kitab ilmiah pada hakikatnya menafsirkan dan menjelaskan hubungan-hubungan keteraturan ini dan kenyataan yang ada dalam alam tabiat ini.
  2. Akal dengan jelas menyatakan, mustahil keteraturan ini muncul dari pelaku (pencipta) yang tidak berkesadaran, kuasa, bijak, dan berilmu. Sebab mengkonsepsi keteraturan, yakni mengkonsepsi sebab pelaku yang berkesadaran, kuasa, bijak, dan berilmu.

Konklusi: Keteraturan alam tabiat (alam semesta) berasal dari pelaku yang maha berkesadaran, maha kuasa, maha bijak (maha hikmah), dan maha berilmu.

 

Beberapa isykalan terhadap argumen ini

David Hume, filosof empiris memberikan isykalan terhadap argumen ini.

Isykalan-isykalan:

  1. Syarat-syarat burhan eksperimen tidak dimiliki oleh burhan nazhm;
  2. Dalam alam tabiat terdapat kejadian yang tidak teratur yang tidak sesuai dengan klaim keberadaan keteraturan;
  3. Ada kemungkinan bahwa keteraturan dalam alam tabiat ini muncul dari dalam diri maujud-maujud tabiat itu sendiri;
  4. Anggaplah kita menerima bahwa burhan nazhm itu membuktikan keberadaan pelaku yang berkesadaran, kuasa, bijak, dan berilmu, tetapi ini tidak berarti bahwa burhan ini juga telah menetapkan seluruh sifat-sifat kesempurnaan pencipta.

 

Jawaban terhadap isykalan-isykalan di atas:

  1. Argumen keteraturan bukanlah argumen eksperimen sehingga dia harus mempunyai syarat-syarat argumen eksperimen. Tetapi ia adalah sebuah argumen akal. Dengan kata lain, akal ketika menyaksikan hubungan antara maujud-maujud, adanya kausalitas di antara mereka, dan kebertujuan dari maujud-maujud alam tabiat ini maka ia menghukumi bahwa antara semua ini dengan berkesadaran dan berilmu terdapat hubungan kemestian;
  2. Isykalan nomor dua tidak punya hubungan dengan burhan nazhm. Sebab topan, banjir, gempa bumi, dan bencana-bencana alam lainnya, mereka itu juga mempunyai keteraturan khusus;
  3. Paling maksimal yang bisa timbul dari alam tabiat adalah suatu keteraturan terbatas yang tidak dapat mengestimasi dan menjamin arah dan kebutuhan-kebutuhan yang mendatang seluruh maujud-maujud alam tabiat ini. Di samping itu, ia tidak akan mampu mengadakan hubungan yang sangat menakjubkan pada maujud-maujud alam ini, itupun pada maujud-maujud yang sangat beragam dan mempunyai efek serta kekhususan yang berbeda-beda;
  4. Risalah argumen keteraturan ini memang tidak sampai kepada penetapan sifat-sifat sempurna pencipta yang lainnya seperti wajibul wujud dan sarmadi. Akan tetapi risalah argumen ini hanya menegaskan bahwa alam tabiat ini tidak muncul secara kebetulan dan tidak juga dari kekhususan esensialnya sendiri, tetapi timbul dari maujud berkesadaran, kuasa, penuh perhitungan, dan ‘alim.

Perjanjian Eksistensial Februari 17, 2015

Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.
add a comment

www.OldTribalRugs.comPerjanjian Eksistensial

Sebagian teolog dan filosof Islam kontemporer (seperti Ayatollah Jawady Amuly hf) memandang ayat mitsaq (perjanjian) berhubungan dengan tauhid fitri, dan menggambarkan bahwasanya manusia dalam suatu fase dan wadah khusus telah bersaksi akan keesaan Tuhan, rububiah Tuhan, dan kehambaan manusia. Dengan demikian maka bagi manusia tidak ada jalan untuk lalai dan lupa akan mitsaqnya dengan Tuhan, sehingga dia bisa berapologi untuk tidak mempertuhankan wajibul eksistensi.

Hakikatnya perjanjian di sini adalah suatu bentuk mitsaq takwini, bukan i’tibari (tasyri’i), yakni manusia berjanji pada Tuhan untuk menjadi muwahhid (hamba bertauhid) dan taat pada Tuhan serta tidak menyembah selain-Nya. Mitsaq ini, sebab dilakukan oleh seluruh manusia maka seluruh manusia pada hakikatnya memiliki kecenderungan tauhid pada Hak (tauhid fitri).

Ayat mitsaq dalam al-Qur’an terdapat dalam surah al-A’raf dan berbunyi: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu”? Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,” atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat? (Q.S. al-A’raf [7]: 172-173.)

Penjelasan umum Kandungan ayat tersebut adalah, Tuhan dalam suatu fase dan wadah hakikat eksistensial manusia (fase dan wadah di sini bukan bermakna zaman dan tempat) mempersaksikan diri-Nya dan dalam kondisi itu manusia menyaksikan atas kenyataan hakikat dirinya yang bersaksi bahwasanya rububiah bagi Tuhan dan ubidiyah bagi dirinya. Tuhan dalam fase dan wadah syuhudi dengan manusia menjalin mitsaq dan memperoleh komitmen dari mereka dengan ungkapan dan gambaran: Apakah Aku ini bukan Tuhan kamu? Semua menjawab, mengapa tidak, Engkau adalah Tuhan kami. Dalam wadah ilmu tersebut, semua menerima rububiah Tuhan dan menerima kehambaannya.

Dalam perjanjian ini (transaksi), yang mengambil janji adalah Tuhan dan yang memberikan janji adalah seluruh manusia; syahid (saksi) perjanjian ini juga adalah manusia sendiri (jadi kontrak di sini terjalin dengan dua arah, kendatipun karena wadah dan medannya adalah takwini, bukan tasyri’i, maka tidak memunculkan permasalahan ikhtiar; sebab masalah ikhtiar manusia itu digagas dalam hubungannya dengan medan tasyri’i, dan ini berhubungan dengan pandangan teologis dan filosofis, tapi berhubungan dengan pandangan irfani mempunyai penjelasan tersendiri). Dalam ayat tersebut terdapat ungkapan “Asyhadahum ‘alâ anfusihim” (Tuhan menjadikan manusia saksi atas diri mereka) dan berkata kepada mereka: “Saksikanlah kamu berjanji atas rububiah Tuhan dan kehambaanmu. Kesaksian manusia yakni penyaksiannya atas hakikat dirinya. Penyaksian hakikat diri ini dalam terminologi filsafatnya tidak lain adalah kesaksian rabt wujudi (relasi keeksistensian) dan syuhud rabt wujudi ini adalah tahunya manusia bahwasanya seluruh dzatnya bergantung kapada Tuhan. Dengan kata lain, ketika manusia menyaksikan hakikat dirinya dalam kondisi tersebut, dia menemukan bahwa hakikat dirinya, bukanlah sesuatu yang lain, kecuali hamba Tuhan. Menyaksikan hakikat kehambaan tanpa menyaksikan rububiah Allah, adalah tidak mungkin; sebab manusia yang adalah hamba, hakikatnya hanyalah bergantung, fakir, dan rabt murni kepada Tuhan.

Jika hakikat manusia di wujud luar, hanyalah merupakan wujud relasi kepada Tuhan dan dia menemukan hakikat ini dengan ilmu huduri, maka niscaya ia juga dapat menyaksikan Tuhan dengan mata hati; sebab batin manusia, bukanlah sesuatu kecuali hanyalah dzat dan huwiyyah rabt kepada Tuhan dan Tuhan adalah penegak dan pemancar keberadaannya. Ketika manusia melihat hakikat dirinya dan juga menyaksikan Tuhan dengan penglihatan hati, dalam wadah syuhudi itu dia berikrar terhadap rububiah Tuhan dan kehambaan dirinya serta memberikan mitsaq pada rububiah Tuhan, dan saksi mitsaq itu juga adalah dirinya sendiri.

Mengapa harus ada mitsaq atau perjanjian? Lanjutan ayat tersebut (ayat 172) serta ayat selanjutnya (ayat 173) menjelaskan urgensi adanya perjanjian tersebut.

Jadi dengan adanya mitsaq, dan turunnya wahyu, serta adanya rasul batin yaitu akal, maka manusia sebagai makhluk pemilik ikhtiar, sepatutnya tidak lalai untuk merealisasikan kehambaan tasyri’inya dan menyembah Tuhan sang pemilik rububiah takwini dan tasyri’i.

 

Epistemologi Agama Februari 9, 2015

Posted by makkawaru in Wacana.
add a comment

 

EPISTEMOLOGI AGAMA

 

Defenisi dan Karakteristik Epistemologi Agama

         Epistemologi agama merupakan suatu bentuk makrifat derajat kedua, dimana seorang pengkaji dengan pandangan kesejarahannya melihat kepada makrifat-makrifat agama dan memberikan penjelasan tentang dasar-dasar representasi, pembenaran, dan aksiden-aksidennya. Untuk lebih jelasnya masalah ini perlu kami isyaratkan terlebih dahulu suatu bentuk pembagian universal dalam wilayah pembahasan epistemologi.

         Epistemologi dalam telaah universal dibagi atas dua jenis, epistemologi apriori dan epistemologi apesteriori.

  1. Epistemologi apriori: Bagian epistemologi ini membicarakan tentang wujud mental, ilmu, dan kognisi. Dengan kata lain, subyek dari epistemologi ini adalah eksistensi dan esensi dari ilmu. Adapun predikat-predikat yang dipredikasikan atas subyek epistemologi ini, seperti kenonmaterian ilmu, kematerian ilmu, kesatuan ‘âlim (yang mengetahui) dan ma’lûm (yang diketahui), kualitas mental, dan lainnya. Misalnya dikatakan: wujud ilmu adalah non materi, atau esensi ilmu adalah kualitas mental, atau ilmu dibagi atas hudhuri dan hushuli serta contoh-contoh lainnya. Jenis epistemologi ini disebut epistemologi sebelum ilmu-ilmu teraktual atau disebut juga epistemologi filosofis. Perlu juga disebutkan bahwa jenis epistemologi ini mempunyai dua tema bahasan utama, yaitu ontologi ilmu dan penyingkapan ilmu. Yakni, terkadang pembahasan berbicara tentang wujud dan mahiyah ilmu dan terkadang pembahasan berhubungan dengan penyingkapan makrifat-makrifat terhadap realitas dan hakikat ilmu.
  2. Epistemologi apesteriori: Jenis epistemologi ini merupakan kebalikan dari jenis epistemologi pertama, ia muncul sesudah merealitas dan mengaktualnya ilmu dan makrifat manusia serta tidak memperhatikan eksistensi atau esensi ilmu sebagai realitas dalam akal dan mental manusia; akan tetapi subyek-subyeknya adalah totalitas makrifat-makrifat dan proposisi-proposisi atau konsepsi-konsepsi serta tasdik-tasdik yang maujud dalam berbagai ilmu. Dengan kata lain, subyek dari golongan epistemologi ini adalah tipe dan jenis makrifat.

 

         Selanjutnya poin ini perlu diketahui juga bahwa epistemologi memiliki tinjauan terhadap seluruh proposisi-proposisi ilmu, baik proposisi-proposisi itu sesuai dengan realitas ataupun tidak mempunyai kesesuaian sama sekali; dengan kata lain, seluruh pembenaran-pembenaran dan pengingkaran-pengingkaran proposisi-proposisi ilmu, ketika menjadi hal yang diterima oleh para ilmuan dari disiplin ilmu akan menjadi bahan telaah serta kajian dalam epistemologi.

                         Untuk penjelasan yang lebih luas berkenaan masalah ini perlu kami isyaratkan juga pembagian lain dari pengetahuan dan makrifat manusia. Pengetahuan dan makrifat manusia dalam suatu bentuk pengelompokan dikelompokkan menjadi dua, pengetahuan dan makrifat derajat pertama dan pengetahuan dan makrifat derajat kedua. Pengetahuan dan makrifat derajat pertama adalah makrifat-makrifat yang membahas tentang hakikat-hakikat tertentu; sebagai contoh, dalam fisika dibahas subyek-subyek seperti materi, energi, gerak, kekuatan, cahaya dan sebagainya, dan dalam kimia dibahas dan diteliti tentang unsur-unsur; akan tetapi makrifat-makrifat derajat kedua berbicara tentang pengetahuan dan makrifat derajat pertama; seperti filsafat ilmu fisika (philosophy of physics), dimana yang dibahas dan ditelaah didalamnya adalah ilmu fisika itu sendiri. Atau secara global filsfat ilmu (philosophy of Science) dari ilmu-ilmu eksperimen, dimana yang dibahas dan dikaji berkaitan aspek ilmu mempunyai suatu esensi kesejarahan serta berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah statmen-statmen ilmu dapat menerima pembuktian ataukah menerima pembatilan? Apakah proposisi-proposisi ilmu bersifat tetap atau berubah? Dan pertanyaan-pertanyaan lain serupa itu. Dengan memperhatikan uraian-uraian di atas menjadi jelaslah bahwa filsafat setiap ilmu berada dalam kevertikalan ilmu itu sendiri, tidak dalam kesejajarannya atau lebih utama darinya. Oleh karena itu topik-topik ilmu dan filsafat seperti filsafat akhlak, filsafat kalam (teologi), filsafat politik, filsafat mate-matika dan juga epistemologi agama, semuanya dipandang sebagai bagian dari pengetahuan dan makrifat derajat kedua atau epistemologi apesteriori.

         Subyek epistemologi agama adalah makrifat agama, dan makrifat agama merupakan suatu konsep umum yang dipredikasikan atas seluruh proposisi-proposisi yang diambil dari syariat. Oleh karena itu sebagai konklusinya, pengetahuan dan makrifat fikh, teologi, tafsir, hadits, dan akhlak, semuanya terhitung sebagai makrifat agama. Akan tetapi tidak semua makrifat-makrifat kalam dapat dihitung sebagai makrifat agama; sebab tidak semua pembahasannya diambil dari syariat, sebagaimana dapat disaksikan pembahasan tentang Ilâhiyyât bil-ma’na al-akhash (filsafat ketuhanan) dalam kitab-kitab kalam. Namun di samping itu pengetahuan dan makrifat rasional yang berhubungan dengan agama harus dipandang sebagai bagian dari makrifat agama.

 

Penjelasan Seputar Konsep Agama

                         Untuk memahami lebih dalam pembahasan epistemologi agama harus terlebih dahulu dijelaskan dan didefenisikan konsep dan pemahaman agama sehingga dapat diketahui secara baik kedudukan dari epistemologi tersebut. Agama (dîn) dalam bahasa Arab bermakna ketaatan, balasan, tunduk, dan menyerah; tetapi defenisi lughah (kosa kata) agama dalam bentuk pembahasan ini tidak memecahkan masalah; oleh karena itu terpaksa kita mendefinisikan agama secara peristilahan. Istilah agama dalam zaman kita ini sangat sulit menerima definisi; sebab definisi-definisi yang diutarakan terkadang sangatlah luas, yang mana juga memberi jalan masuk hal-hal yang berbeda pada batasannya, sehingga meliputi ideologi-ideologi materialis seperti marxisme, atau ia sedemikian terbatasnya sehingga tidak menghimpun semua individu-individunya. Problem mendasar dalam pembahasan ini, apakah agama-agama yang ada ini mempunyai perkara yang sama sehingga berasaskan perkara yang sama itu dapat diutarakan suatu definisi baginya ataukah tidak?

                         Definisi-definisi agama yang beragam telah diutarakan dalam bentuk pembahasan tersendiri; sebab itu dalam pembahasan ini hanya akan diisyaratkan definisi-definisi dari sebagian penulis; oleh karena itu di antara definisi-definisi agama yang dipandang perlu diungkapkan dalam pembahasan ini adalah:

  1. Dari kitab dan sunnah ;
  2. Rukun-rukun, prinsip-prinsip, dan cabang-cabang agama yang turun atas nabi ;
  3. Teks-teks agama, keadaan-keadaan dan prilaku-prilaku pemimpin-pemimpin agama (para nabi dan pembawa agama) ;
  4. Kitab, sunnah, dan sejarah kehidupan pemimpin-pemimpin agama (para nabi dan pembawa agama) .

         Definisi-definisi ini, di samping terdapat pertentangan-pertentangan dalam ungkapan, juga memiliki kritikan seperti di bawah ini:

Kritikan pertama: Penulis dalam ungkapan-ungkapannya terkadang bermaksud mendefinisikan agama dan terkadang bermaksud menedefinisikan syariat; dan bagi orang-orang yang ahli dalam ilmu kalam, tidak tersamar bagi mereka bahwa kedua istilah ini adalah berbeda; sebab di samping isytarâk lafzhi (equivocal) dalam kata syariat, juga syariat dimutlakkan terhadap cabang-cabang agama dan mempunyai makna yang lebih khusus dari agama.

Kritikan Kedua: Penulis mencampur adukkan antara agama dan naskah agama; agama adalah sekumpulan hakikat-hakikat dan nilai-nilai, sementara naskah dan teks agama adalah yang menberitakan dan mengisahkan tentang hakikat-hakikat dan nilai-nilai tersebut. Oleh sebab itu nisbah antara teks agama dan agama, adalah nisbah antara yang memberitakan dan diberitakan.

                         Sebagai konklusi, definisi agama yang menjadi pilihan kita adalah sekumpulan hakikat-hakikat dan nilai-nilai yang sampai ke tangan manusia dari jalan wahyu (dalam bentuk kitab dan sunnah) yang bertujuan memberi hidayah kepada manusia.

 

Makrifat Agama

                         Berdasarkan definisi-definisi yang beragam dari agama maka pengertian tentang makrifat agama juga menemukan perbedaan-perbedaan. Penulis kitab “Qabz wa basth teorik syariat” dalam ungkapannya yang berbeda-beda menjelaskan dan mendefenisikan istilah makrifat agama dalam bentuk yang bergam; terkadang pengertiannya adalah pemahaman agama atau pemahaman syariat dan terkadang pengertiannya adalah pemahaman manusia tentang syariat serta di dalam banyak kesempatan ia menyebutkannya dengan pengetahuan agama, yang pada tulisan ini kami akan isyaratkan sebagian dari pernyataan-pernyataan tersebut:

“Makrifat agama dalam definisi kami adalah identik dengan tafsir syariat yang dihasilkan dari pemahaman kalam Tuhan dan ucapan-ucapan pemimpin-pemimpin agama” (para nabi as dan pembawa agama). “Maksud kami dari makrifat agama adalah sekumpulan dari proposisi-proposisi yang dihasilkan dari jalan khusus dengan bantuan media khusus dengan memperhatikan terhadap teks-teks agama dan kondisi-kondisi serta prilaku-prilaku pemimpin-pemimpin agama”. “Makrifat agama, yakni pengetahuan dan makrifat yang dihasilkan dari pemahaman kitab dan sunnah, sejarah kehidupan pemimpin-pemimpin agama, pemahaman terhadap prinsip-prinsip dan dasar-dasar serta rukun-rukun dan cabang-cabang agama; semua ungkapan kami dalam tulisan ini tentang makrifat agama tidak lain adalah makrifat-makrifat yang digunakan dari kitab dan sunnah itu sendiri…. ”

                         Definisi-definisi penulis kitab ini tentang makrifat agama, di samping terdapat pertentangan dan perbedaan di antara definisi-definisi itu sendiri, pada dasarnya lebih banyak kembali pada makrifat teks-teks agama dari pada makrifat agama. Tapi pembahasan istilah-istilah ini tidak terlalu urgen untuk dipermasalahkan, yang sangat penting bagi kita adalah pemahaman unitas dari istilah-istilah yang ada sehingga kita aman dari kerancauan musytarak lafzhi (equivocal).

 

Iman dan Makrifat Agama

                         Salah satu yang menjadi dasar dan landasan epistemologi agama adalah kejelasan perbedaan dan pemisahan antara iman dan makrifat agama, sehingga dengannya kategori iman dapat dikeluarkan dari fokus pembahasan. Oleh karena itu kita harus juga membawakan sekelumit uraian dan penjelasan tentang iman dalam tulisan ini.

                         Setiap maujud yang memiliki jiwa (ruh) baginya keterikatan-keterikatan; manusia juga di samping memiliki keterikatan terhadap materi, ia mempunyai keterikatan dan ketertarikan kepada pengetahuan, keindahan, politik, dan kemasyarakatan. Iman juga merupakan suatu bentuk keterikatan final, dimana seluruh maklumat-maklumat lain berada di bawah radius pancarannya atau yang lain tertolak karenanya; sebagai contoh, keterikatan final dan fanatisme nasionalisme ekstrim terhadap bangsa. Oleh karena itu, dari jalan ini seluruh unsur-unsur kehidupan person di dalam prilaku dan amal menyatu dengan iman. Koridor dan batasan iman untuk setiap orang merupakan areal yang disucikan; yakni keterikatan final manusia yang pada akhirnya akan berubah menjadi suatu keterikatan suci dan saat itulah ia akan melahirkan unsur keberanian, keperkasaan, dan kecintaan.

                         Perkara yang berhubungan dengan iman selalu berupa sesuatu atau individu tertentu; maka dari itu, pribadi mukmin dinisbahkan terhadapnya (sesuatu atau individu) harus mempunyai pengetahuan dan makrifat; itupun dalam bentuk makrifat yaqînî (disertai keyakinan); sehingga ia dapat dikategorikan sebagai hal yang bergantung dan berhubungan dengan iman. Sebab iman terhadap sesuatu yang tidak diketahui secara mutlak adalah tidak mungkin, akan tetapi terkadang kepercayaan dalam diri akan menyebabkan lahirnya iman, tapi inipun pada hakikatnya dampak dari keyakinan.

                         Adapun kekhususan-kekhususan dari iman di antaranya; senantiasa bergerak melakukan pencarian, menyempurna, melemah, dan menipis. Kondisi-kondisi iman ini bisa saja dipengaruhi oleh faktor-faktor pengetahuan, psikologi, politik, kemasyarakatan dan lain-lain. Sampai di sini telah jelas bahwa iman merupakan kategori qalbu yang diperoleh dari dua unsur, yaitu ilmu dan loyalitas, dan makrifat agama sebagai subyek dari epistemologi agama, adalah ilmu dan pengetahuan para ulama agama yang dihasilkan lewat metode penelitian atau ilmu yang diperoleh dari jalan merujuk kepada akal dan sumber-sumber agama.