Maktab-maktab dan Keragaman Agama (1) September 3, 2008
Posted by makkawaru in Wacana.add a comment
Salah satu wacana penting mayarakat dunia hari ini yang menyita perhatian, pemikiran, serta daya analisa para filosof, teolog, sosiolog, psikolog, dan bahkan sejarawan adalah masalah perbedaan agama-agama dan keragaman agama-agama. Kosa kata seperti plurality dan pluralism digunakan secara meluas dan mengisi kolom-kolom pembahasan dalam berbagai kajian dan tulisan, khususnya budaya, agama, dan mazhab.
Dalam tulisan ini akan dipaparkan pandangan berbagai maktab terhadap keragaman agama-agama, isykal dan kritik atasnya. (lagi…)
SEKELUMIT TENTANG KEJAMAKAN AGAMA-AGAMA Februari 22, 2008
Posted by makkawaru in Wacana.add a comment
Mukadimah
Jika kita kaji kehidupan materi, maknawi, individu, dan sosial manusia maka kita akan menyaksikan betapa peran agama dalam dimensi-dimensi ini sangatlah signifikan. Karena itu para pakar dan ahli satiap dari disiplin ilmu-ilmu humaniora tidak dapat mengabaikan begitu saja pengaruh dan sumbangsih agama terhadap kehidupan manusia.
Dalam kajian psikologi dan ilmu kejiwaan, dianalisa dampak dan pengaruh serta aplikasi agama dalam membentuk jiwa manusia dan pengaruhnya atas pembentukan kepribadian serta karakter manusia. Juga dalam disiplin ini ditinjau efek daripada pengamalan agama, manasik, dan iman serta keyakinan agama dalam kehidupan internal individu. (lagi…)
AGAMA DAN AKHLAK 2 Desember 14, 2007
Posted by makkawaru in Wacana.1 comment so far
Komprehensi-komprehensi yang digunakan dalam akhlak seperti “baik”, “buruk”, “harus”, “tidak boleh”, “benar”, “tidak benar”, “tugas”, dan “tanggung jawab”, semuanya merupakan komprehensi-komprehensi khusus yang mempunyai makna dan pengertian masing-masing. Pemahaman-pemahaman nilai ini memiliki paedah dalam penggunaannya ketika mempunyai basis dan landasan ontologis, sehingga jika seseorang melanggar nilai-nilai akhlak, ia akan merasakan konsekuensi dari pelanggarannya dalam bentuk penderitaan atau kepedihan hidup serta jauh dari kebahagiaan.
Fitrah manusia dan pengajaran yang didapatkannya dari agama, dapat menjadi penjamin atas pengamalan dan perealisasian perbuatan-perbuatan akhlak. Pahala dan balasan, dengan tidak melihat wilayah aktualitasnya, mempunyai dampak atas perealisasian nilai-nilai akhlak di tengah masyarakat apatah lagi dengan adanya sangsi-sangsi sosial seperti pujian terhadap pelaku akhlak baik dan celaan terhadap para pelaku akhlak buruk. Namun yang paling urgen dalam masalah ini adalah keberadaan Tuhan yang menjadi asumsi dan postulat agama yang dapat menjadi penjamin utama bagi pelaksanaan perbuatan-perbuatan akhlak baik dan pengaman ampuh untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan akhlak buruk. (lagi…)
Agama dan Akhlak [1] November 30, 2007
Posted by makkawaru in Wacana.2 comments
Mukadimah
Masalah hubungan agama dan akhlak, telah lama menyibukkan para filosof, teolog dan ilmuan-ilmuan akhlak. Dengan melihat sepintas lalu terhadap tradisi-tradisi sejarah kehidupan manusia, dapat disaksikan keselarasan, kesesuaian, kesatuan ukuran-ukuran, keharusan-keharusan, dan norma-norma akhlak dengan perintah-perintah agama dalam berbagai masyarakat dan bangsa. Istilah-istilah akhlak Islam, Yahudi, Masehi, Hindu, dan Budha, merupakan bukti atas apa yang kami ungkapkan di atas. Oleh sebab itu, terkadang hubungan yang dalam di antara dua fenomena ini (agama dan akhlak) bisa melalaikan para peneliti dalam memisahkan pemikiran akhlak dari dimensi-dimensi lain kehidupan agama.
Pembahasan-pembahasan pemikir dan filosof seperti Sokrates dan Plato yang berdasarkan atas kemandirian dua fenomena agama dan akhlak, teori pemisahan Karl Marx dan Sigmund Freud, klaim ketidaksesuaian di antara keduanya, dan wacana antara pengikut mazhab ‘adliyyah dan asy’ariyyah tentang kebaikan dan keburukan akal dan syar’i perbuatan-perbuatan manusia, semuanya mengisahkan bahwa masalah agama dan akhlak ini mempunyai usia dan sejarah yang amat panjang. Mungkin hal ini disebabkan karena agama dan akhlak senantiasa menyertai manusia sejak awal keberadaannya serta dua fenomena ini timbul dari tabiat dan fitrah manusia. (lagi…)
BAHASA AGAMA November 22, 2007
Posted by makkawaru in Wacana.add a comment
Mukadimah
Salah satu dari subyek penting pembahasan dalam ranah teologi dan filsafat agama adalah analisa dan observasi tentang bahasa agama serta mekanisme pemahaman dan penguraian agama. Pembahasan yang berhubungan dengan hal tersebut, dengan menimbang perjalanan perubahannya dari zaman Yunani kuno hingga sekarang ini dimana mengalami perubahan-perubahan yang cukup kompleks, hadirnya analisa-analisa yang semakin membuahkan pertentangan dan perbedaan serta terungkapnya pertanyaan-pertanyaan yang cukup rumit dan akurat, seperti Apakah bahasa agama bermakna atau tidak bermakna? Apakah bahasa agama dapat ditetapkan, dibatalkan dan ditegaskan dengan tolok ukur ilmiah dan empirik ataukah tidak? Apa hubungannya dengan bahasa ilmiah, akhlak, filsafat dan seni? Apakah bahasa agama mempunyai satu dimensi atau memiliki dimensi-dimensi yang beragam? Apakah bahasa agama hanya mengulas alam realitas ataukah memberi motivasi dan menarik hati? Bagaimana dapat memahami bahasa agama dan mengantarkan kepada hakikat dan substansi agama?[1] (lagi…)
PLURALISME; JALAN LURUS ATAWA JALAN-JALAN LURUS? November 3, 2007
Posted by makkawaru in Wacana.add a comment
Pluralisme agama merupakan suatu konsep dan pemikiran yang masuk dalam pembahasan teologi baru (kalâm jadîd). Istilah ini sebagaimana istilah-istilah lainnya yang terdapat dalam politik, etika dan moral, psikologi, sosiologi, filsafat dan teologi adalah terhitung istilah-istilah impor dari dunia Barat.
Kata pluralisme sendiri derivasinya dari bahasa Latin “pluralis” yang artinya kecenderungan pada banyak.
Pluralisme agama sebagai suatu perspektif teologi dalam wacana kejamakan agama-agama untuk pertama kalinya terungkap dalam dunia Kristen melalui John Heik (1922-1982). [2] Ia adalah seorang uskup dari suatu firkah kristen yang terdapat di Inggris. Ia banyak bergaul dan bekerja sama dengan orang-orang yang bukan Kristen seperti orang Islam, Hindu, dan Yahudi.
Hubungan dan kerjasama tersebut melahirkan suatu pandangan baru tentang agama-agama dan mazhab-mazhab. Pada akhirnya John Heik mengkritisi ajaran Kristen tentang pembaptisan, pengaruh gereja (pastor) memberi keselamatan pada jamaah, dan keyakinan-keyakinan Kristen lainnya, dan yang paling penting serta paling sentral dari kritik dia adalah keyakinan menitisnya ((hulul) Tuhan (tajassud uluhiyyat) pada diri Nabi Isa As. John Heik berkata: ” Saya sampai pada kesimpulan bahwa bentuk keyakinan terhadap hulul dan atau tajassud lahut (alam di atas nasut, dunia) pada nasut (dunia) yakni hulul-nya Tuhan pada diri Isa Masih As. , sebagai suatu bentuk metaphor, majazi, dan atau legenda, bukan sebagai suatu proposisi berbentuk satu hakikat murni”. [3] (lagi…)
Hermeunetik; Seni Memahami Teks Oktober 29, 2007
Posted by makkawaru in Wacana.add a comment
Akar kata “hermeneutik” dalam fi’il Yunani “hermeneuein” bermakna menakwilkan (menafsirkan) dan dalam bentuk nomina “hermeneid” bermaka takwil (tafsir). Dalam karya Aristoteles dijumpai kata peri hermeneids yang menyangkut pembahasan proposisi-proposisi dan kemudian dihubungkan dengan takwil. Kata ini dalam bentuk isim juga dijumpai dalam teodhisi udipus di kulunus dan juga dalam karya-karya Plato. Kedua kata “hermeneuein” dan “hermeneid” ini di nisbahkan pada Tuhan pembawa pesan yunani bernama “Hermes” dan secara lahiriah kata tersebut diambil darinya, dan mungkin juga sebaliknya.Nama Hermes berhubungan dengan tugas mengganti apa yang di atas pemahaman manusia ke dalam suatu bentuk di mana fikiran dan akal manusia dapat memahaminya. Orang-orang Yunani menghubungkan penemuan bahasa dan tulisan pada Hermes, yakni dua hal tersebut (bahasa dan tulisan) merupakan alat bagi manusia untuk memahami makna-makna dan memindahkan pada orang lain. (lagi…)