jump to navigation

Surat yang masuk di Milis Wisdoms4all September 21, 2008

Posted by makkawaru in Uncategorized.
add a comment

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali. (lagi…)

Kritik Terhadap Teori Ketidak Argumenan Eksistensi Tuhan Januari 3, 2008

Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran, Uncategorized.
1 comment so far

1.Kemungkinan Makrifat Tuhan

Salah satu yang menjadi kerisauan dan kebimbangan klasik umat menusia serta menyita energi berpikir mereka, adalah kemungkinan dan ketidakmungkinan makrifat pada Tuhan. Sebelum mendeskripsikan pembahasan ini sebaiknya kami isyaratkan terlebih dahulu hakikat dari pada ilmu dan berilmu dan demikian juga hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan, sehingga inti makrifat Tuhan dan dimensi-dimensi yang berhubungan dengannya menjadi jelas.  

Pada hakikatnya akal manusia memiliki keterbatasan, akal tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan dan hijab-hijab materi serta nafsâni (kejiwaan). Dengan pra asumsi ini tentang akal, maka pengenalan manusia terhadap Tuhan yang merupakan wujud tidak terbatas serta non materi menjadi sesuatu yang problematika. Di samping itu, hakikat Tuhan adalah wujud yang tidak lebih dari pada satu individu yang tidak ada menyerupai-Nya dari kategori alam imkan dan materi serta wujud-Nya meliputi seluruh kesempurnaan-kesempurnaan yang terkonsepsi dan tidak terkonsepsi secara tidak terbatas. Konklusi dari gambaran ini bahwasanya pengetahuan manusia akan dzat dan hakikat Tuhan yang didalam irfan dikenal dengan maqam ahadiyyah berada pada batas titik nol. (lagi…)

Mitsaq Desember 7, 2007

Posted by makkawaru in Uncategorized.
add a comment

 

Sebagian filosof Islam kontemporer memandang ayat mitsaq  berhubungan dengan tauhid fitri, dan menggambarkan bahwasanya manusia dalam suatu fase dan wadah khusus telah bersaksi akan keesaan Tuhan, rububiah Tuhan, dan kehambaan manusia. Dengan konteks ini maka bagi manusia tidak ada jalan untuk lalai dan lupa akan mitsaqnya dengan Tuhan.

Pada dasarnya mitsaq di sini adalah suatu bentuk mitsaq takwini, bukan i’tibari (tasyrii), yakni manusia berjanji pada Tuhan untuk menjadi muwahhid (hamba bertauhid) dan taat pada Tuhan serta tidak menyembah selain-Nya. Mitsaq ini, sebab dilakukan oleh seluruh manusia maka seluruh manusia pada hakikatnya memiliki kecenderungan tauhid pada Hak (tauhid fitri).

Ayat mitsaq ini berbunyi: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu”? Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,” atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat? Q.S. al-A’raf[7]: 172-173.

Penjelasan umum Kandungan ayat tersebut adalah, Tuhan dalam fase dan wadah hakikat manusia (fase dan wadah di sini bukan bermakna zaman dan tempat) mempersaksikan diri-Nya dan dalam kondisi itu manusia menyaksikan atas hakikat dirinya yang bersaksi bahwasanya rububiah bagi Tuhan dan ubidiyah bagi dirinya. Tuhan dalam fase dan wadah syuhudi dengan manusia menjalin mitsaq dan memperoleh komitmen dari mereka  dengan ungkapan dan gambaran: Apakah Aku ini bukan Tuhan kamu? Semua menjawab, mengapa tidak, Engkau adalah Tuhan kami. Dalam wadah ilmu tersebut, semua menerima rububiah Tuhan dan menerima kehambaannya.

Dalam perjanjian ini (transaksi), yang mengambil janji adalah Tuhan dan yang memberikan janji adalah seluruh manusia; syahid (saksi) perjanjian ini juga adalah manusia sendiri (jadi kontrak di sini terjalin dengan dua arah, kendatipun karena wadah dan medannya adalah takwini, bukan tasyrii, maka tidak memunculkan permasalahan ikhtiar; sebab masalah ikhtiar manusia itu digagas dalam hubungannya dengan medan tasyrii, ini berhubungan dengan pandangan teologis dan filosofis, tapi berhubungan dengan pandangan irfani mempunyai penjelasan tersendiri). Dalam ayat tersebut terdapat ungkapan “Asyhadahum ‘alâ anfusihim” (Tuhan menjadikan manusia saksi  atas diri mereka) dan berkata kepada mereka: “Saksikanlah kamu berjanji atas rububiah Tuhan dan kehambaanmu. Kesaksian manusia yakni penyaksiannya atas hakikat dirinya. Penyaksian hakikat diri ini dalam terminology filsafatnya tidak lain adalah kesaksian rabt wujudi  (relasi keeksistensian) dan syuhud rabt wujudi ini adalah tahunya manusia bahwasanya seluruh dzatnya bergantung kapada Tuhan. Dengan kata lain, ketika manusia menyaksikan hakikat dirinya dalam kondisi tersebut, dia menemukan bahwa hakikat dirinya, bukanlah sesuatu yang  lain, kecuali hamba Tuhan. Menyaksikan hakikat kehambaan tanpa menyaksikan rububiah Allah, adalah tidak mungkin; sebab manusia yang adalah hamba, hakikatnya hanyalah bergantung, fakir, dan rabt kepada Tuhan.

Jika hakikat manusia di wujud luar, hanyalah merupakan wujud relasi kepada Tuhan dan dia menemukan hakikat ini dengan ilmu huduri maka niscaya ia juga dapat menyaksikan  Tuhan dengan mata hati; sebab batin manusia, bukanlah sesuatu kecuali hanyalah dzat dan huwiyyah rabt kepada Tuhan dan Tuhan adalah penegak dan pemancar keberadaannya. Ketika manusia melihat hakikat dirinya dan juga menyaksikan Tuhan dengan penglihatan hati, dalam wadah syuhudi itu dia berikrar terhadap rububiah Tuhan dan kehambaan dirinya serta memberikan mitsaq pada rububiah Tuhan,  dan saksi mitsaq itu juga adalah dirinya sendiri.

Mengapa harus ada mitsaq? Lanjutan ayat tersebut (ayat 172) serta ayat selanjutnya (ayat 173) menjelaskan urgensi adanya mitsaq tersebut.

Jadi dengan adanya mitsaq, dan turunnya wahyu, serta adanya rasul bati yaitu akal, maka manusia sebagai makhluk pemilik ikhtiar, sepatutnya tidak lalai untuk merealisasikan kehambaan tasyriinya dan menyembah Tuhan sang pemilik rububiah takwini dan tasyrii.

    

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.