Jalan Menuju Hakikat Desember 19, 2008
Posted by makkawaru in Sufistik.2 comments
“Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya” (Al-Hadits)
Kognisi Diri
Beberapa hal berikut ini yang perlu disebutkan dalam rangka kognisi diri:
Pertama: Dzat manusia terbentuk dari dua substansi: Substansi cahaya yang membentuk nafs dan substansi gelap yang membentuk jasad. Nafs, adalah hidup, berakal, bekerja dan aktif: sedangkan jasad, adalah mati, jahil, dan pasif.
Kedua: Kesempurnaan, keutamaan, dan kelebihan atas yang lain, dapat diperoleh manusia hanya dengan jalan pengetahuan dan pengamalan terhadap kemestiannya, bukan sesuatu yang lain.
Ketiga: Pengetahuan yang mengantarkan manusia untuk memperoleh keutamaan dan kesempurnaan serta dengan memilikinya akan menaikkan manusia dari kesejajaran hewan-hewan sampai derajat malaikat muqarrabin, bukanlah setiap ilmu (baca; sembarang ilmu). Betapa banyak ilmu dan pengetahuan yang menjadi karya ilmuan tapi hanya menyibukkan para pembacanya, sebab isi dan kandungannya tidak lebih hanya semacam ungkapan-ungkapan perkataan. Adapun ilmu dan makrifat yang bermanfaat di akhirat hanyalah ilmu dan makrifat yang ulama akhirat memberikan perhatian sangat besar terhadapnya, sementara ulama dunia membelakanginya, yakni pengetahuan dan makrifat terhadap Tuhan, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, kitab-kitab suci-Nya, dan para Nabi-Nya (Insan Kamil). Juga pengetahuan terhadap hari kiamat (eskatologi), nafs manusia serta bagaimana nafs mengalami kesempurnaan dan kenaikannya -dari posisi kehewanan- mendapatkan kondisi fana sampai pada tataran malakut dan ruhani yang langgeng dan abadi.
Keempat: Kesempurnaan ilmu dan makrifat demikian ini tidak mungkin diperoleh kecuali dengan jalan riadah dan kesungguhan syar’i serta keilmuan dan menjaga syarat-syarat khusus. Dan kemungkinan untuk meraihnya terbuka lebar bagi setiap orang, namun karena hanya sedikit yang mengarunginya dengan sungguh-sungguh maka hanya sedikit orang yang berhasil menggapainya. (lagi…)
Irfan Dan Tasawuf Islam Oktober 29, 2007
Posted by makkawaru in Sufistik.2 comments
Tentang halnya menyebut dan mengkaji satu per satu manzil dan maqâm yang dirumuskan oleh ahli irfan, tentu bukan tempatnya dalam tulisan ini. Oleh sebab itu kita cukup mengutip bebarapa paragraf kalimat dari ulasan mukaddimah Kitab “Syarh Manazil Sairin”. Ketahuilah bahwa orang-orang yang sair (berjalan) dalam maqâm-maqâm ini sangat berbeda-beda, dan tidak ada urutan tertib secara pasti untuk mereka semua dan demikian pula tidak ada akhir yang berlaku secara menyeluruh bagi mereka. Sebab potensi-potensi mereka berbeda-beda semua, maka konklusi suluk mereka juga berbeda-beda.
Pendahuluan
Dalam pembahasan ini kita tidak memperdebatkan perbedaan istilah irfan dan tasawuf, tetapi sebagaimana yang kita lihat secara umum istilah irfan dan tasawuf digunakan secara sinonim di dunia Islam hari ini.[1]
Jadi irfan adalah tasawuf itu sendiri menurut pendekatan tersebut, meskipun dari sisi pendengkatan Ustad Syahid Muthahhari Ra setiap kali ahli irfan ditinjau secara akademis maka hal tersebut dialamatkan pada ‘urafa, tetapi setiap kali ditinjau secara sosial dan kemasrakatan maka hal ini dialamatkan pada mutasawwifah.[2] Berbeda lagi dengan imam Khomeni Qs, beliau berpendapat irfan yakni berhubungan dengan makrifat irfani, tetapi tasawuf berhubungan dengan aspek sair suluk (riyâdhâ) seorang sufi.[3]