Kritik Terhadap Teori Ketidak Argumenan Eksistensi Tuhan Januari 3, 2008
Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran, Uncategorized.1 comment so far
1.Kemungkinan Makrifat Tuhan
Salah satu yang menjadi kerisauan dan kebimbangan klasik umat menusia serta menyita energi berpikir mereka, adalah kemungkinan dan ketidakmungkinan makrifat pada Tuhan. Sebelum mendeskripsikan pembahasan ini sebaiknya kami isyaratkan terlebih dahulu hakikat dari pada ilmu dan berilmu dan demikian juga hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan, sehingga inti makrifat Tuhan dan dimensi-dimensi yang berhubungan dengannya menjadi jelas.
Pada hakikatnya akal manusia memiliki keterbatasan, akal tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan dan hijab-hijab materi serta nafsâni (kejiwaan). Dengan pra asumsi ini tentang akal, maka pengenalan manusia terhadap Tuhan yang merupakan wujud tidak terbatas serta non materi menjadi sesuatu yang problematika. Di samping itu, hakikat Tuhan adalah wujud yang tidak lebih dari pada satu individu yang tidak ada menyerupai-Nya dari kategori alam imkan dan materi serta wujud-Nya meliputi seluruh kesempurnaan-kesempurnaan yang terkonsepsi dan tidak terkonsepsi secara tidak terbatas. Konklusi dari gambaran ini bahwasanya pengetahuan manusia akan dzat dan hakikat Tuhan yang didalam irfan dikenal dengan maqam ahadiyyah berada pada batas titik nol. (lagi…)
ARGUMEN AKHLAK Desember 14, 2007
Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.1 comment so far
Pendahuluan
Dari zaman Immanuel Kant hingga masa kini, lahir berbagai bentuk pemikiran dalam upaya menetapkan eksistensi Tuhan tidak dengan pendekatan realitas eksistensi alam ini atau dengan metode keteraturan alam, tetapi dengan menggunakan suatu argumen khusus dimana semua manusia mempunyai pengalaman tentangnya, yakni metode menegaskan eksistensi Tuhan lewat pengalaman-pengalaman akhlak yang dialami oleh setiap manusia. Oleh sebab itu, secara umum manusia dengan mudah mencerap dan memahami argumen ini.
Sebelumnya, Hume dan Kant telah berhasil membangun skeptisitisisme dan keragu-raguan di dunia Barat terhadap validitas argumen-argumen rasional (dengan akal teoritis) tradisional tentang ketuhanan dari para ahli teologi. Kritik-kritik yang mereka lontarkan dalam menolak setiap bentuk argumen rasional pembuktian eksistensi Tuhan dianggap telah berhasil menggoyahkan keimanan dan kepercayaan masyarakat religius. Sementara itu, Hume sendiri tidak mempunyai konstruksi argumen dalam bentuk akal teoritis untuk membuktikan eksistensi Tuhan sebagai pengganti dari argumen-argumen rasional tradisional tersebut (perlu diketahui bahwa David Hume adalah seorang filosof Materialisme dan ateis : lihat tulisan Tuhan Ditolak dan Ditetapkan). Demikian juga Kant, dalam hal ini tidak membangun argumen dengan pondasi akal teoritis untuk menggantikan argumen-argumen yang ditolaknya, ia selanjutnya beralih pada sistem filsafat akhlak dimana menurutnya argumen yang berpijak pada akal praktis mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh argument dengan pondasi akal teoritis. Oleh karena itu, untuk menemukan kembali pemikiran ketuhanan Kant dalam sistem filsafat, harus merujuk pada perubahan mendasar atas penolakannya kepada akal teoritis dan pembelaan Kant kepada akal praktis dalam menyingkap substansi-substansi realitas akhlak manusia. (lagi…)
HAKIKAT PENGETAHUAN Desember 7, 2007
Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.add a comment
Kesempurnaan manusia, dari dimensi ia sebagai maujud manusia, adalah suatu kesempurnaan yang didapatkan dengan pilihan dan ikhtiar. Karena itu bisa dikatakan, kekhususan gerak menyempurna manusia, dari dimensi ia sebagai maujud manusia, adalah gerak menyempurna ikhtiari.Dan ini tidak lain apa yang diisyaratkan di akhir ayat surah al-Ahzab sebagai amanat yang diterima oleh manusia:
“Sesungguhnya Kami telah amanatkan kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, tetapi semua menolak dan enggan menerimanya, maka dipikullah manusia amanat itu, sesungguhnya manusia adalah zhâlim dan jâhil”.[1]
Tentang pembahasan-pembahasan yang ada diseputar ayat ini dan tafsirannya, dapat merujuk kepada tafsir al-Mizan.
Amanat dalam ayat ini, apapun bentuk tafsirannya, niscaya berhubungan dengan pilihan, ikhtiar, dan taklif. Dan ini menjadi tanggung jawab manusia dalam berhadapan dengan Tuhan Yang Mahaagung. (lagi…)
Epistemologi Agama Desember 2, 2007
Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.add a comment
Defenisi dan Karakteristik Epistemologi Agama
Epistemologi agama merupakan suatu bentuk makrifat derajat kedua, dimana seorang epistemolog dengan pandangan kesejarahannya melihat kepada makrifat-makrifat agama dan memberikan penjelasan tentang dasar-dasar representasi, pembenaran dan aksiden-aksidennya. Untuk lebih jelasnya masalah ini, perlu kami isyaratkan terlebih dahulu suatu bentuk pembagian universal dalam wilayah pembahasan epistemologi.
Epistemologi dalam telaah universal dibagi atas dua jenis, epistemologi apriori dan epistemologi apesteriori.
1. Epistemologi apriori: Bagian epistemologi ini membicarakan tentang wujud mental, ilmu dan kognisi. Dengan kata lain, subyek dari epistemologi ini, adalah eksistensi dan esensi dari pada ilmu. Adapun predikat-predikat yang dipredikasikan atas subyek epistemologi ini, seperti kenonmaterian ilmu, kematerian ilmu, kesatuan ‘âlim dan ma’lûm, kualitas mental dan sebagainya. Misalnya dikatakan: wujud ilmu, adalah non materi atau esensi ilmu, adalah kualitas mental atau ilmu dibagi atas hudhuri dan hushuli serta contoh-contoh lainnya. Jenis epistemologi ini, disebut epistemologi sebelum terealisasi dan teraktual ilmu-ilmu atau disebut juga epistemologi filosofis. Perlu juga disebutkan bahwa jenis epistemologi ini mempunyai dua tema bahasan utama, ontology ilmu dan penyingkapan ilmu. Yakni, terkadang pembahasan berbicara tentang wujud dan mahiyah ilmu dan terkadang pembahasan berhubungan dengan penyingkapan makrifat-makrifat terhadap realitas dan hakikat.
2. Epistemologi apesteriori: Jenis epistemologi ini merupakan kebalikan dari jenis epistemologi terdahulu, ia ada sesudah merealitas dan mengaktualnya ilmu dan makrifat manusia serta tidak memperhatikan pada wujud atau mahiyah ilmu sebagai realitas dalam akal dan mental manusia; akan tetapi subyek-subyeknya, adalah totalitas makrifat-makrifat dan proposisi-proposisi atau konsepsi-konsepsi dan tasdik-tasdik yang maujud dalam berbagai ilmu. Dengan kata lain, subyek dari golongan epistemologi ini adalah dari tipe dan jenis makrifat. (lagi…)
AKAL, WAHYU DAN JALAN MENGENAL TUHAN November 23, 2007
Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.1 comment so far
Pengenalan dan pengetahuan akan keberadaan Tuhan merupakan hal yang asasi dan prinsip bagi manusia yang beragama, meskipun nantinya konsep tentang Tuhan berbeda sesuai dengan doktrin-doktrin suci agama dan penafsiran aliran kepercayaan masing-masing. Tapi pada intinya, semua agama dan aliran kepercayaan tersebut menegaskan dan membenarkan wujud suci dan agung Tuhan.
Jika kita ingin mengindentifikasi metode-metode pencapaian makrifat kepada Tuhan oleh setiap orang, maka bisa kita katakan bahwa setiap orang memiliki metode dan cara tersendiri dalam meraih makrifat tersebut. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa jalan-jalan menuju Tuhan sebanyak jiwa-jiwa makhluk yang ada di alam ini. Tetapi apabila kita ingin meninjau sisi yang sama dari jalan-jalan makrifat kepada Tuhan tersebut, maka terdapat beberapa pendekatan universal yang dapat mencakup semua manusia. (lagi…)
REALITAS TAUHID; JANTUNG SPIRITUALITAS SEORANG MUSLIM November 15, 2007
Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.add a comment
Tuhan merupakan realitas eksistensi tertinggi, bahkan Dia adalah realitas tak terhingga dan nir-batas. Ayat suci yang mengungkap realitas-Nya “Allahu as-Shamâd” yakni tak ada kekosongan dalam realitas eksistensiNya sehingga sesuatu “ma siwâ” (sesuatu selain realitas wujudNya) dapat mengisinya. (lagi…)
Menuju Realitas Spiritual Oktober 29, 2007
Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.add a comment
Seluruh ibadah yang menjadi tujuan penciptaan mempunyai rahasia dan batin masing-masing. Dan seluruh maujud-maujud di alam semesta raya ini, apakah ia di alam non materi ataukah di alam materi, pada hakikatnya dalam keadaan beribadah secara takwiniah. Tetapi manusia mempunyai ibadah spesifik, ibadah yang disebut dengan ibadah tasyri’iah. Ibadah ini diberikan kepada manusia sebagai makhluk berakal dan berikhtiar sebagai sarana penopang untuk menaikkan derajat eksistensial dan esensial mereka.
Mengapa kita katakan ibadah tasyri’i ini spesifik bagi manusia? Ini dikarenakan penyaksian kita yang tidak sampai pada alam batin maujud-maujud. Sebab jika kita kaji dan renungkan firman Tuhan yang menyatakan: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun”[1], maka kita akan memahami bahwa betapa seluruh maujud-maujud ini mempunyai tasbih dan tahmid pada Tuhan yang tidak diketahui oleh kita manusia, dan tasbih ini tentunya bukan tasbih takwini, sebab tasbih ini (tasbih takwini) secara global dapat dipersepsi, disingkap, dan dipahami oleh akal. Mulla Shadra, untuk membuktikan “gerak substansial, berbagai sisi dan dimensi ia telusuri dengan argumen akal, namun, seorang arif lewat kasyf dan syuhud-nya, ia menyaksikan semuanya itu. Oleh karena itu, hanya mereka yang menembus jantung dan pusaran spiritual yang mempunyai penyaksian dan syuhud atas tasbih-tasbih seluruh maujud-maujud alam. Sebagai contoh, firman Tuhan tentang tasbih gunung dan burung bersama Nabi Dawud As (sebagai insan kamil): “Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman; dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya.[2] (lagi…)
Nubuwwah dan Kesempurnaan Manusia Oktober 28, 2007
Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.add a comment
Manusia adalah maujud menyempurna, bukan maujud statis yang tak berkembang dan permanen. Oleh sebab itu manusia tidak seperti malaikat, iblis, kuda, sapi, kambing, tumbuhan dan batu, dimana maujud-maujud tersebut sudah ditetapkan esensialitasnya, maksudnya esensialitas mereka tertutup dan tidak menerima perubahan. Berbeda dengan manusia yang merupakan maujud beresensialitas terbuka, yakni menusia dapat menentukan esensialitas akhirnya sesuai dengan ikhtiyarnya, apakah ia menjadi manusia malaikat ataukah ia menjadi manusia iblis, ataukah ia menjadi manusia hewan pemangsa sesamanya.
Kelebihan Manusia atas Hewan
Makhluk manusia dari segi esensilitas lebih dekat dengan hewan-hewan (kuda,sapi,kambing,kucing,tikus,dll) sebab dari segi quiditas, manusia itu adalah hewan yang natiq (berlogika), artinya manusia dari dimensi kegenusan (jins) sama dengan hewan-hewan lainnya yakni genus hewan. Masalahnya sekarang apa yang membuat manusia berbeda dengan hewan lainnya dari segi aktualisasi esensialitas?
Hewan dalam prilaku dan perbuatannya senantiasa berasaskan atas instink, mereka tidak dibimbing dan diarahkan oleh akal dan pengetahuan. Dalam arti hewan hanya mewarisi apa yang sudah Tuhan tetapkan pada kehidupan species mereka yang pertama, tidak terdapat perkembangan menuju pada kesempurnaan, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Kita lihat misalnya cara hidup masyarakat semut, meskipun cara hidup bermasyarakat hewan tersebut adalah paling kompleks di antara hewan-hewan, tetapi cara hidup bermasyarakat semut tersebut tidak mengalami perubahan dan perkembangan. Atau kita lihat cara membuat rumah lebah, atau cara hidup hewan-hewan di hutan, atau anjing dan kucing yang banyak dipelihara dan dekat dengan manusia, meskipun kedua jenis hewan yang terakhir ini mengalami perkembangan akibat pelatihan yang diberikan manusia, tetapi hal itu hanya sifatnya kecil, dan dibanding apa yang diraih manusia dan apa yang berkembang pada manusia, maka hal itu tidak memiliki arti sama sekali.
Namun manusia yang juga pada dasarnya tergolong jenis hewan (hewan yang berlogika) sebagian dari perbuatan dan tingkah lakunya berasaskan instink (gharizah) dan tabiat, sebab itu dalam konteks ini manusia tidak jauh berbeda dengan hewan-hewan lainnya, seperti kecenderungan kawin, makan dan minum, melindungi diri dan menyayangi anak-anaknya. Adapun kelebihan esensi manusia dari esensi hewan-hewan lainnya adalah akal dan pikiran yang Tuhan berikan padanya. Dengan akal dan pikirannya, manusia dapat mengontrol instink dan tabiatnya, mengarahkan instink dan tabiatnya pada perilaku dan perbuatan khusus demi kebaikan dan kesempurnaannya. Bahkan lebih jauh, dengan akalnya manusia mampu menyingkap rahasia-rahasia semesta, serta dapat menguak tabir-tabir hakikat eksistensi. Oleh karena itu jika manusia tidak menggunakan akal dan pikiran yang ada padanya dan hanya mengikuti instink dan kecenderungan tabiatnya, dalam kondisi ini manusia tidak berbeda dari hewan, bahkan manusia dari segi nilai dan esensi lebih rendah dari hewan. Al-Quran dalam hal ini menyebutkan: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda dan kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu laksana binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. al-‘Araf [7]:179). (lagi…)