jump to navigation

Maktab-maktab dan Keragaman Agama (1) September 3, 2008

Posted by makkawaru in Wacana.
trackback

 

Salah satu wacana penting mayarakat dunia hari ini yang menyita perhatian, pemikiran, serta daya analisa para filosof, teolog, sosiolog, psikolog, dan bahkan sejarawan adalah masalah perbedaan agama-agama dan keragaman agama-agama. Kosa kata seperti plurality dan pluralism digunakan secara meluas dan mengisi kolom-kolom pembahasan  dalam  berbagai kajian dan tulisan, khususnya budaya, agama, dan mazhab.

Dalam tulisan ini akan dipaparkan pandangan berbagai maktab terhadap keragaman agama-agama, isykal dan kritik atasnya.

 

A. Naturalisme

Mereka yang dalam berhadapan dengan setiap gejala dan fenomena berusaha menemukan deskripsi tabiinya, dalam berhadapan dengan agama juga memilih motif yang sama. Sebagian pandangan dari naturalisme dalam meninjau agama-agama, melihat agama-agama apapun bentuknya sebagai perkara yang negatif. Pada hakikatnya mereka memandang bahwa seluruh klaim-klaim kebenaran semua agama adalah batil. Di antara mereka yang memposisikan diri dalam memandang agama demikian ini adalah para pengusung teori sosiologi agama dan pengusung teori psikologi agama.

 

1. Teori Sosiologi Agama

Para pengusung teori ini, khususnya Emile Durkheim, berusaha dalam berhadapan dengan kenyataan yang disebut agama di samping menerima sebagian dari aspek aplikatif agama dan pengaruh yang diberikannya pada masyarakat, juga mengingkari realitas klaim-klaim agama serta hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman keagamaan.

Teori ini mengklaim bahwa para lelaki dan wanita mempunyai perasaan keagamaan ini ketika mereka berdiri berhadapan dengan sesuatu kekuatan yang lebih tinggi yang berada di belakang kehidupan individual mereka serta menuangkan kehendaknya atas mereka dalam bentuk aturan-aturan akhlak. Mereka pada dasarnya berada dalam pusaran suatu kenyataan yang lebih tinggi, namun kenyataan ini sebenarnya bukanlah suatu maujud matafisik, akan tetapi suatu kenyataan natural masyarakat.

Kita manusia sangat bergantung pada masyarakat. Masyarakat dan kelompok seperti satu realitas global dimana dia bersifat meliputi berhadapan dengan tiap-tiap individu. Kekuatan masyarakat sangatlah besar dan dia mampu membebankan keinginanan-keinginannya kepada setiap individu. Masyarakat, dikarenakan ketergantungan individu yang sangat kepadanya maka menjadi sumber asli potensi hidup ruh dan jiwa serta kegemberiaan individu-individu dan dengan kekhususannya ini maka dia terabstraksi menjelma menjadi Tuhan. Tuhan pada dasarnya hanyalah gaung dan jelmaan dari masyarakat yang membebankan bentuk-bentuk prilaku atas anggota-anggotanya demi keuntungannya. Setiap masyarakat sesuai dengan budaya dan produk pemikiran-pemikirannya mengambil bentuk Tuhan dan model agamanya sendiri. Oleh karena itu sesuatu yang alami bahwa disebabkan landasannya adalah budaya-budaya yang berbeda maka agama juga mendapatkan bentuk kejamakan dan keragamannya.

 

Isykal dan Kritik

Teori ini mempunyai beberapa problem dan isykal, di antaranya:

-          Teori ini lebih menyerupai pemaparan hipotesa yang tak berdalil dibandingkan suatu teori ilmiah. Yakni tidak terdapat bukti dan dalil cukup yang bisa menguatkan ia sebagai sebuah teori ilmiah.

-          Teori ini tidak mampu menjelaskan sebagian dari masalah-masalah penting agama. Sebagai misal, perkara-perkara yang berhubungan dengan perintah dan aturan yang diberikan oleh agama-agam kepada para pengikutnya yang melingkupi setiap kelompok. Seperti perintah yang menyatakan: Cintai dan kasihilah sesama manusia, Maaflkanlah musuh-musuhnya, Senantiasalah berbuat baik kepada semua orang, di sini teori ini tidak punya daya aplikasi dan kehilangan daya pnjelasan. Sebab dalam aturan dan perintah agama seperti ini tidak dapat diklaim bahwa ia hanya memperhatikan manfaat suatu kelompok saja. Menurut perkataan H.H. Farmer: Jika Tuhan hanyalah hegemoni masyarakat dimana bentuk-bentuk prilaku khusus yang menjadi keuntungan masyarakat diserahkan kepada anggota-anggotanya, apakah yang menjadi pangkal dan sumber dari tugas dan taklif yang memestikan kesamaan di antara semua manusia dan meliputi seluruh orang?[1]

-          Dengan memperhatikan bahwasanya para nabi itu sebelumnya adalah orang-orang yang menjadi peletak  pondasi kaidah-kaidah akhlak dan kaidah-kaidah yang mereka bawa tersebut bertolak belakang dengan kaidah-kaidah akhlak yang sedang berlaku dalam masyarakat maka tidak dapat dikatakan bahwa agama terinspirasi dan berasal dari budaya masyarakat serta kaidah-kaidah akhlaknya adalah kaidah-kaidah akhlak masyarakat itu juga yang terbangun  demi untuk menjaga dan melestarikan serta untuk meningkatkan starata hidup anggota-anggota dari kelompok masyarakat itu saja.

-          Ketika para nabi bangkit melakukan penentangan terhadap sistem masyarakatnya, mereka tidak merasakan kelemahan dari gerakan dakwahnya dan tidak menghentikan seruannya kepada mereka kendati pun tidak memperoleh sokongan dari kelompok masyarakatnya. Mereka merasakan memiliki sandaran dan pijakan yang sangat kuat dan mereka dengan hati yang teguh serta penuh keseriusan melanjutkan gerakan dakwahnya. Tentu dengan pasti sumber perasaan kuat dan keteguhan hati ini serta semangat dan gelora tidaklah bersumber dari masyarakat.

 

 

 

2. Teori Psikologi Agama

Freud, sebagaimana juga Durkheim memandang bahwa keyakinan dan kepercayaan agama tidak lebih hanyalah ilusi dan khayalan, dengan perbedaan bahwa dia menghitungnya (keyakinan agama) sebagai paling tua, paling kuat, dan paling permanennya kecenderungan-kecenderungan dan harapan-harapan manusia.

Menurut pendapatnya, agama adalah semacam tanggapan dan tindakan pertahanan manusia dalam berhadapan kekuatan-kekuatan yang mengancam dan mengerikan tabiat.  Manusia dalam berhadapan kekuatan-kekuatan alam seperti angina topan, banjir, gempa bumi, penyakit, dan kematian sangat tidak mempunyai pertahanan. Kekuatan-kekuatan menakutkan ini, jika hanya perkara alam tabiat yang tak berjiwa, tak mendengar, dan tak melihat maka manusia tidak dapat menuntut keamanan dari mereka. Adapun jika kekuatan-kekuatan ini timbul dari maujud-maujud yang berjiwa, mendengar, dan melihat maka ada secercah harapan untuk dapat mengambil hati maujud-maujud itu dan mendapatkan keamanan dari murka mereka. Dalam bentuk ini manusia dapat memohon pada mereka, memuji mereka, dan memberi kurban kepada mereka sehingga dengan itu mungkin mereka menaruh kasih pada manusia dan mengampuni manusia serta tidak menyampaikan murkanya pada  manusia.

Berasaskan itu maka acara- acara peribadatan dan puja-pujian menemukan bentuknya dan berangsur-angsur berubah menjadi agama dan syariat yang komplit.

Refleksi dan tindakan ini bukannya tidak mempunyai dasar dan teladan. Telah menjadi kebiasaan kita sejak usia kanak-kanak, apabila menemukan masalah dan problema memita perlindungan dari bapak yang pengasih. Setelah kita besar kita menyaksikan bahwa sang bapak juga seperti kita. Dia juga tidak mempunyai daya tahan dalam menghadapi kekuatan-kekuatan besar tabii ini, maka tidak ada jalan lain kecuali mencari bapak yang kuat dan langgeng di langit sehingga dia dapat memerankan bapak di bumi dalam melindungi kita. Berangsur-angsur konsep Tuhan Bapak mengkristal dalam benak dan pikiran manusia dan konsep itu kemudian bertahan dan menyebar secara mendunia.

Demikian juga Freud dengan menjelaskan teori psikologi emosi keagamaan, memaparkan permasalahan tentang dosa, perasaan kehambaan, ketakutan, dan keharusan taat. Dia juga menguraikan perasaan dan emosi keagamaan ini  dengan menggunakan komprehensi hasud dan iri yang tak disadari sang putra terhdap sang ayah dikarenakan pembatasan hak hanya pada sang ayah dalam mengambil manfaat biologis dari sang ibu.

 

Isykal dan Kritik

-          Teori Freud secara cepat mendapat kritikan serius dan menjadi bahan kritikan tajam para filosof, psikolog, dan psiko analisis. Kemudian teori dia tentang agama ini dipandang tidak lebih dari suatu hipotesa tak berdasar, imajinatif, dan tanpa dalil atau dipandang sebagai suatu asumsi yang sangat menarik, namun murni hanya sekedar pantasi dan khayal.[2]

-          Anggaplah pandangan Freud diterima, tetap saja penafsiran-penafsiran metafisis dan teologis dapat berlaku, sebab seorang teolog atau filosof agama dapat berkata: Tuhan, dapat saja dari jalan pengalaman manusia pada masa kanak-kanaknya dan perasaan bergantung kepada bapak (di bumi) menciptakan konsepsi tersebut dalam pikiran dan benak mereka dalam bentuk Bapak di langit (sesuai dengan pengajaran agama Kristen). Oleh karena itu teori psikologi agama, hatta jika benar, juga tidak mampu menjelaskan  kemunculan kejamakan dan keragaman agama-agama.

 

B. Kesatuan agama-agama

Para pengikut kesatuan agama-agama berkeyakinan bahwa substansi agama-agama adalah satu. Semuanya dalam perjalanan pencarian hakikat tertinggi yang satu, hanya saja semua mereka itu mendapatkan nama-nama yang bermacam-macam. Perbedaan dan keragaman hanya pada tataran zahir, adapun batin seluruh agama adalah mengajak pada kesempurnaan mutlak. Seluruh agama-agama menginginkan manusia keluar dari kondisi lahiriah, ketaklanggengan, dan kefanaan menuju kapada hakikat batin, kelanggengan, dan keabadian. Seluruh agama-agama berkehendak menyampaikan manusia pada ketentraman permanen dan kebahagiaan abadi.

Para pengikut kesatuan agama-agama, yang kebanyakan mereka merupakan pengusung irfan dalam agama-agama, memandang bahwasanya perbedaan yang terdapat dalam agama-agama hanyalah murni perbedaan lahiriah. Menurut mereka agama mempunyai hakikat dan raqiqat, inti dan kulit, serta batin dan zahir. Perbedaan yang ada hanya pada tataran kulit, zahir, dan raqiqat, bukan pada tataran inti, batin, dan hakikat. Dan para pengikut setiap agama mempunyai taklif untuk melalui zahir dan kulit agama untuk mendapatkan jalan menuju pada batin dan inti agama. Jika ini terjadi maka semuanya akan menemukan sesuatu yang menjadikan mereka satu jalan.

(catatan: perlu distresing di sini bahwasanya penganut irfan dan pemikiran irfani tentunya tidak satu pandangan dalam hal ini, dan klaim yang kita ungkapkan di sini itupun perlu pengkajian yang lebih dalam, khususnya dalam irfan islami, sebab dalam kajian irfan teoirits terdapat paradigma pemikiran yang sangat dalam dan kompleks yang jika tidak dikaji secara menyeluruh dan komprehensip, dengan mudah kita terjebak pada ungkapan-ungkapan irfani yang bersifat partikular).

Berdasarkan pandangan ini maka agama-agama yang bermacam-macam ini masing-masing merupakan suatu jalan yang muktbar (sahih) dan tangga yang kokoh menuju langit maknawi serta akan menyampaikan para pengikut benar mereka pada tujuan yang diinginkan agama. Dengan tinjauan ini maka seluruh kitab-kitab agama tidak lebih dari satu dan tidak mempunyai lebih dari satu tujuan, kendatipun secara zahir adalah berbeda-beda.

Para pengikut kesatuan agama-agama, mereka adalah esensialisme yang bersandar kepada pengalaman keagamaan (religius experience). Bahwasanya bagi pengalaman-pengalaman keagamaan manusia yang berbeda-beda, hanya terdapat satu substansi. Esensialisme berkeyakinan bahwa dapat ditemukan di antara pengalaman-pengalaman irfani dan sufistik titik-titik serta kekhususan-kekhususan yang sama, di antaranya kualitas makrifat, tidak dapat dijelaskan, cepat berlalu, perasaan terefek, perasaan alam tinggi, perasaan perkara yang suci, uluhi, dan perasaan alam transendental.[3]

 

Isykal dan Kritik

Kendatipun pendukung esensialisme berupaya memberi warna penyatuan terhadap berbagai pengalaman-pengalaman keagamaan, namun perbedaan-perbedaan yang ada di antara agama-agama sedemikian hingga jauhnya, sehingga melemahkan konsep adanya esensi yang sama di antara mereka. Sebagai ilustrasi apakah mungkin dipersatukan konsep tauhid murni Islam dengan agama-agama politeisme, Hindu, Budha, dan lainnya? Apakah dapat diterima pada saat yang bersamaan antara pandangan Islam dinisbahkan terhadap hadhrat Al-Masih sebagai manusia utusan Tuhan (Nabi dan Rasul Tuhan) dengan pandangan Kristen yang memandang beliau sebagai putra Tuhan serta berkeyakinan bahwa Tuhan bertajassud padanya dan juga pandangan Yahudi yang menganggap nabi Isa bin Maryam bukanlah al-masih yang mereka tunggu, tapi malah memandang dia adalah seorang pembuat bid’ah dalam agama Yahudi, semuanya adalah benar?!

Di samping itu, esensi dan inti agama pada dasarnya tak dapat dibatasi dengan pengetahuan luar manusia (sebagaimana batasan agama itu sendiri tidak dapat ditentukan oleh manusia), sebab sebagaimana dalam ajaran agama itu sendiri antara berbagai dimensi yang terdapat di dalamnya, baik hukum syar’i, aqidah, akhlak, irfan, dan lainnya, semuanya memiliki hubungan yang sangat kuat antara satu sama lainnya. Yakni dalam agama berpegang pada satu dimensi dengan melepaskan dimensi lainnya tidaklah dibenarkan oleh pembawanya (seperti dalam agama Islam adalah nabi Muhammad Saw), dan bahkan untuk mendapatkan kedekatan pada Tuhan, semua dimensi-dimensi agama haruslah benar secara teoritis dan praktis (aqidah dan amal). Oleh sebab itu penganalogian ajaran agama dengan inti dan kulit adalah analogi yang salah, tetapi penganalogian yang mungkin lebih tepat adalah penganalogian pohon, yang mana pohon memiliki akar, batang, dahan, ranting, serta daun, dan kesemuanya itu mempunyai peran untuk pertumbuhan yang baik dan kelangsungan hidup dari pohon.

Dengan demikian, para pengikut esensialisme ini tidak dapat menetapkan kesahihan konsepnya dengan bersandarkan pada pengalaman-pengalaman keagamaan, dan sebagai konklusinya mereka mesti melepaskan klaim kesatuan agama-agama mereka ataukah mengkonstruksi argumen lain.

Paling maksimal yang dapat ditetapkan oleh pengikut esensialisme ini adalah terdapat sturktur yang serupa di antara manusia-manusia dan keberadaan alam metafisika; akan tetapi kesatuan agama-agama tidaklah tertetapkan dengan dalil-dalil yang mereka ajukan itu.

 

C. Eksklusivisme

Para pengikut pandangan ini berkeyakinan bahwa kebenaran, keselamatan, kebebasan, kesempurnaan, serta apa saja yang menjadi tujuan akhir dari pada agama, terbatas hanya pada satu agama khusus, atau hanya bisa didapatkan lewat satu agama khusus. Dan adapun agama-agama yang lain meskipun mengandung sebagian hakikat kebenaran tetapi dibanding dengan agama yang hak, semua itu adalah batil. Oleh sebab itu menurut maktab eksklusivis para pengikut agama-agama lain, meskipun mereka taat beragama, dan dari tinjauan akhlak mereka adalah orang-orang yang berakhlak baik, tetapi mereka tetap tidak akan bisa memperoleh keselamatan lewat agama mereka sendiri.[4] Keyakinan maktab eksklusivis yang paling berpengaruh dan sangat dirasakan oleh pengikut-pengikut agama lain dapat dilihat dalam ajaran Kristen Katolik yang menyatakan di luar dari klisa sama sekali tidak akan ditemukan keselamatan dan kebahagiaan.[5] Lantas pengikut-pengikutnya memandang bahwa propaganda serta mendorong orang-orang lain untuk menerima ajaran agamanya sebagai suatu tanggung jawab agama dan akhlak serta memandang hak mereka untuk menyampaikan ajaran agamanya kepada pengikut-pengikut agama lainnya demi menjauhkan mereka dari kehidupan yang sesat.              Dalam teologi Kristen, pernyataan teologis yang menjadi landasan eksklusivisme adalah ungkapan yang berbunyi: Kebahagiaan dan keselamatan hanya berada dalam koridor lutf dan inayah Tuhan. Upaya seseorang untuk menyampaikan dirinya pada pantai keselamatan dan kebahagiaan niscaya akan mengalami kegagalan[6], karena itu untuk memperolehnya dia harus menemukan dimana kekuatan pemberi kebahagiaan dan keselamatan (Tuhan) bertajalli. Dalam bentuk ini barulah dia akan mendapatkan perlindungan dan jaminan kebahagiaan serta keselamatan.

Karl Barth (1886-1968 M) mungkin dapat dikenal sebagai wakil dari golongan ekstrim eksklusivisme Kristen. Dia yang dulunya dikenal sebagai transendental protestan, memandang syariat dan  tajalli (manifestasi) sebagai dua hal yang saling berhadap-hadapan satu dengan lainnya. Menurut pandangannya syariat adalah suatu usaha manusia untuk mengenal Tuhan dalam tinjauan ketidakakmampuan dan kekurangan dirinya dan dia memandang usaha ini sebagai hal yang mustahil (berhasil) dan tercemar dengan dosa; karena itu dia berkeyakinan bahwa kedamaian hanya dari sisi Tuhan, adalah mungkin; dan usaha ini tercemar dosa dikarenakan buatan manusia telah di dudukkan menggantikan posisi Tuhan.[7]

Dalam pemikiran teologis Karl Barth, Tuhan dalam bentuk mutlak bertajalli dalam diri Al-Masih dan Injil saksi atas makna ini. Dia menempatkan semua agama-agama hatta agama Kristen (sebagian mazhab agama yang dianutnya) berhadapan dengan wahyu, sebab menurutnya semua agama-agama memiliki sumber manusiawi dalam mengenal Tuhan, karena itu tidak mempunyai sumber kewahyuan. Dan karena satu-satunya jalan memakrifati Tuhan adalah wahyu maka beragama dengan syariat sama saja tidak beragama.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa pandangan Barth tersebut dilandasi dengan suatu tinjauan teologis yang memandang bahwa makrifat kepada Tuhan hanya dari sisi Dia dan dengan inisiatif Dia (dalam suatu bentuk manifestasi wahyu dari sisi-Nya), makrifat pada-Nya dihasilkan, bukan dari sisi kita dan upaya kita untuk mengenal-Nya (syariat). Menurutnya, hatta tafsiran-tafsiran dari agama Kristen yang memandang Tuhan bertajalli pada diri Al-Masih tidak dalam bentuk mutlak, seperti agama-agama lainnya adalah tertolak dan batil. Natijah dari pandangan Barth ini adalah agama Kristen satu-satunya agama yang muktabar (benar) dan mempunyai tanggung jawab untuk mengajak pengikut-pengikut agama lainnya kepada agama tersebut.[8]

Disamping itu, sangat banyak teolog Kristiani yang berkeyakinan bahwa kebenaran hanya terbatas  pada agama Kristen, sedangkan agama-agama lainnya semuanya adalah batil. Pandangan mereka ini disandarkan pada sebagian dari ayat-ayat Injil, di antaranya adalah: “Saya adalah jalan hakikat dan kehidupan, seseorang tidak akan sampai kepada Bapak di langit kecuali dengan perantaraku”[9].

Ayat Injil ini dan ayat-ayat lainnya yang sama kandungannya dengan ayat tersebut senantiasa mempengaruhi pemikiran gereja berhubungan dengan agama-agama lainnya. Dan hasilnya gereja senantiasa memandang mereka orang-orang yang berada dalam kegelapan dan jauh dari cahaya serta hakikat. Salah seorang dari Pop berkata: Iman menghukumi kita berkeyakinan bahwa hanya ada satu klisa suci Katolik. Kita mempunyai keimanan kuat padanya dan berikrar padanya. Tanpa diragukan di luar darinya tidak ada kebahagiaan dan tidak ada pembebasan dari dosa-dosa.[10]

Selain Karl Barth, teolog masyhur Protestan lainnya seperti Emil Brunner, dan Hendrik Kraemer, juga menegaskan kebenaran mutlak agama Kristen dan menafikan agama-agama lainnya. 

Dikalangan pemikir-pemikir Muslim, ungkapan Al-Gazali berikut ini bisa dijadikan sampel dari pandangan eksklusivisme: Kendatipun dalam masalah jauh dan dekatnya pada kebenaran di antara filosof dahulu dan yang kemudian terdapat perbedaan yang besar, namun mereka semua dalam masalah warna kekufuran dan kemulhidan adalah sejalan… karena itu pengkufuran mereka adalah wajib dan orang-orang Muslim yang berfilsafat mengikuti mereka seperti Ibnu Sina, Al-Farabi dan lainnya, juga harus dikafirkan.[11]

Pengkafiran batiniah, larangan shalat di belakang Mu’tazilah, Imamiyyah, Zaidiyyah, Khawarij, dan Jahimiyyah serta pengharaman daging sembelihan mereka dari Al-Baghdadi menambah warna kental terhadap pandangan eksklusivisme dari sebagian barisan ulama Islam.

Sebagai catatan, untuk konteks sekarang ini dapat dikatakan wahabisme dan salafisme merupakan wujud nyata eksklusivisme ekstrim dari firkah Muslim. 

Dari paparan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan global bahwa eksklusivisme ekstrim sendiri merupakan suatu arus pemikiran yang mewarnai pemikiran-pemikiran keagamaan dalam suatu agama dan telah mempunyai sejarah yang panjang dan gelap dalam berhubungan dengan pengikut agama-agama dan arus pemikiran agama lainnya.

Berhubungan dengan masalah keragaman agama, menurut eksklusivisme hanya ada satu agama yang datang dari Tuhan dan hanya itulah yang benar, adapun keragaman dan kejamakan agama yang muncul, dikarenakan tidak mengikuti agama hak dari Tuhan dan bahkan mengikuti hawa nafsu, angan dan pemikiran yang sesat, serta pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. 

 

Isykal dan Kritik     

Pandangan yang demikian ini dari pengikut eksklusivisme ekstrim telah banyak memunculkan keresahan di kalangan pengikut agama-agama dan mazhab-mazhab lainnya, bahkan dapat dikatakan model pandangan ini telah banyak memunculkan pertentangan keras dan kekacauan di masyarakat. Banyak terjadi bentrokan-bentrokan antara mereka dengan pengikut agama dan mazhab lainnya dan jika kekuasaan berada di tangan mereka maka mereka cenderung menindas pengikut agama dan mazhab yang lainnya.

Keekstriman (keyakinan dan amal) ini terjadi dikarenakan tidak ada pilahan dalam pemikiran mereka antara kebenaran teoritis dan prilaku praktis, yakni tidak ada sama sekali ruang pemisah antara natijah pemikiran dan bagaimana berhubungan dan bermuamalah dengan penganut-penganut agama dan mazhab lainnya. Di samping itu tidak ada sedikitpun ruang pluralis dalam pemikiran dan ruang toleran dalam prilaku yang mereka sisakan.

Pada dasarnya, kita dalam menghadapi masalah keyakinan agama perlu kiranya memilah antara terma kebenaran dan keselamatan dengan terma muamalah dan berhubungan dengan penganut agama lainnya. Masalah kebenaran dan keselamatan adalah masalah nazhari dan teoritis serta kembali pada epistemologi, sedangkan masalah bermuamalah dan berhubungan dengan pengikut agama-agama lainnya kembali pada masalah suluk kaum beragama dinisbahkan dengan penganut-penganut agama-agama lainnya, dan ini tidak boleh dicampur-adukkan.

Untuk bahan renungan dalam masalah ini ada baiknya kami kutipkan ungkapan seorang filosof dan mufassir besar Islam berikut ini : Islam menjadi hak orang-orang yang berakidah benar dan materi agama bagi mereka belum terjelaskan, atau sudah dijelaskan tapi belum terpahami, bagi mereka sangat mungkin memperoleh toleransi, dan mereka itu disebut orang-orang mustadh’afiin.[12]

Pemikir Syahid Muthahari dalam buku Keadilan Ilahi untuk memecahkan masalah orang-orang yang dalam hidupnya senantiasa mencari hakikat kebenaran dan beramal baik, tetapi tidak sampai menemukan agama Islam  membagi Islamnya seseorang dengan dua bahagian; Islam fitri dan Islam tasyri’i. Dan menurut beliau orang seperti Descartes adalah seorang Islam (baca; Muslim) fitri, sebab dia senantiasa taslim (menerima) pada argumen benar dan taslim pada kebaikan.

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] . John Heik, Falsaf-e Din, Hal. 76-79.

[2] . Ibid, hal. 81-85.

[3] . Hasan Kamran, Takatssur Adyan Dar Buteh-e Naqd, Hal. 25-26.

[4] . Michael Peterson dan lainnya, Akl wa I’tiqad-e Dini, Hal. 402.

[5] .  Menukil dari John Heik- Mabâhas-e Pluralisme Dini, Hal. 65.

[6] .  Michael Peterson dan lainnya, Akl wa I’tiqad-e Dini, Hal. 402.

[7] . Ibid, Hal. 403.

[8] . Farzad Najafi, Pluralisme Dini, Hal. 64.

[9] . Injil Yuhanna, pasal 14, ayat 6.

[10] . Alar Race, Christians and Religious Pluralism, hal. 10.

[11] . Al-Gazali, Râhnamoy-e Gumrâhân, (terjemahan Al-Munqidzu minaddhalâl), penerjemah: Muhammadi Fulâdand, Hal. 39 dan 42.

[12] . Allamah Thaba-thaba’i, Tule-e Syi’ah, Hal. 8.

Komentar»

No comments yet — be the first.