Kritik Terhadap Teori Ketidak Argumenan Eksistensi Tuhan Januari 3, 2008
Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran, Uncategorized.1 comment so far
1.Kemungkinan Makrifat Tuhan
Salah satu yang menjadi kerisauan dan kebimbangan klasik umat menusia serta menyita energi berpikir mereka, adalah kemungkinan dan ketidakmungkinan makrifat pada Tuhan. Sebelum mendeskripsikan pembahasan ini sebaiknya kami isyaratkan terlebih dahulu hakikat dari pada ilmu dan berilmu dan demikian juga hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan, sehingga inti makrifat Tuhan dan dimensi-dimensi yang berhubungan dengannya menjadi jelas.
Pada hakikatnya akal manusia memiliki keterbatasan, akal tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan dan hijab-hijab materi serta nafsâni (kejiwaan). Dengan pra asumsi ini tentang akal, maka pengenalan manusia terhadap Tuhan yang merupakan wujud tidak terbatas serta non materi menjadi sesuatu yang problematika. Di samping itu, hakikat Tuhan adalah wujud yang tidak lebih dari pada satu individu yang tidak ada menyerupai-Nya dari kategori alam imkan dan materi serta wujud-Nya meliputi seluruh kesempurnaan-kesempurnaan yang terkonsepsi dan tidak terkonsepsi secara tidak terbatas. Konklusi dari gambaran ini bahwasanya pengetahuan manusia akan dzat dan hakikat Tuhan yang didalam irfan dikenal dengan maqam ahadiyyah berada pada batas titik nol. (lagi…)
Tauhid Januari 3, 2008
Posted by makkawaru in Religi.1 comment so far
Manusia secara akal teoritis memahami hakikat maujud-maujud sebagai suatu hakikat yang berpijak pada landasan penciptaan. Yakni maujud-maujud beserta fenomena-fenomena yang ada bersumber dari suatu mabda yang wujudnya adalah wajib dan daruri. Wujud yang berdiri sendiri, dzatnya adalah kaya tanpa dicampuri kekurangan sedikitpun (murni kaya), dan saluruh maujud-maujud selainnya adalah faqir dihadapannya, bahkan eksistensi mereka semua adalah faqir itu sendiri. Wujud yang maha kaya dan maha sempurna tersebut dalam istilah theologi dan filsafat disebut wajibul-wujud, dan dalam istilah syari’ah islam dikenal dengan nama Allah Swt. (lagi…)
Siapa Yang Hidup? Januari 3, 2008
Posted by makkawaru in Ungkapan-ungkapan Jiwa.add a comment
Kedatangan, keberadaan, pergerakan, dan kepergian manusia bersumber dari suatu hakikat yang sejati, benar, dan tidak palsu. Suatu hakikat yang terpatri dalam dzat dan fitrah anak-anak cucu Adam, kendatipun terkadang tak tersadari, namun senantiasa ia ada dan hadir bersamanya. Ia adalah salah satu dari faktor-faktor yang menyebabkan manusia hidup, dan bahkan tegaknya kehidupan seluruh manusia -dengan apapun bentuk keyakinan terhadap hakikat-hakikat ini- adalah berpijak padanya, hatta orang-orang yang berpikiran absurd dan ‘abasterhadap kehidupan mereka dan tidaklah mereka yakini ini semua melainkan hanyalah kebetulan dan kesia-siaan. Namun, kita harus jujur bahwasanya dengan berkah hakikat-hakikat inilah kita dari generasi kegenerasi mengalami kehidupan; sebab pada hakikatnya tak seorang pun dari kita dapat menentang dan mengkhilafi hakikat dzat dan fitri kita sendiri, khususnya jika bentuk penentangan dan khilaf ini menghasilkan kritik dan sanggahan yang ril dan obyektif.Seseorang yang mengatakan bahwa manusia setelah kematiannya akan mengalami kehancuran dan tamatlah segala-galanya baginya, perhitungan akhirat itu adalah sesuatu yang omomg kosong (pada dasarnya ia telah mati sebelum kematian fisik dan materinya), jika benar ia meyakini perkataannya ini, yakni keyakinannya ini bersumber dari batin dan fitrahnya maka keyakinan ini akan memunculkan kekuatan dan kemampuan padanya, bukan kelemahan.Mengapa kebanyakan dari mereka takut akan kematian, padahal mereka telah mengalami betapa kehidupan dunia ini penuh dengan kemalangan, penderitaan, dan kesengsaraan (baik fisik maupun batin), dan hidup di dunia ini hanya sedikir membeikan kesenangn dan kegembiraan. Coba Anda bayangkan, untuk mendapatkan sesuap nasi saja mereka harus bekerja keras, mulai dari cari uangnya, membeli bahannya, memasaknya, menghidangkannya, baru kemudian menyantapnya yang merupakan kenikmatan fisik yang sedikit. Belum lagi betapa mereka sangat mengalami penderitaan batin dan jauh dari kenikmatannya.Seorang yang hidup dan merasakan kehidupan adalah orang yang meyakini bahwa seluruh hakikat-hakikat ini adalah bersumber dari suatu pencipta (bukan kebetulan), dan surga serta neraka itu meskipun dalam bentuk minimum secara tak tersadari (di bawah sadar) akan diyakininya, dan kekuatan yang tak tersadari (di bawah sadar) ini akan menjadi hakim atas seluruh potensi kesadarannya dan berpengaruh terhadapnya. Dan paling minimal pengaruhnya adalah memberi motivasi dan spirit hidup serta kemantapan hidup baginya. Dan kita menginginkan salah satu dari hakikat-hakikat ini yang merupakan sesuatu paling substansi dari kedirian kita, termanifestasi dalam prilaku, amal, dan perbuatan kita di dunia ini; sebab dunia ini adalah sawah dan ladang untuk akhirat kita.