Tauhid Af’al (Perbuatan) (2) November 30, 2007
Posted by makkawaru in Religi.trackback
Pendahuluan
Dalam pembahasan sebelumnya sudah jelas bahwasanya Tuhan, sebagaimana adalah tunggal, dalam perbuatan-Nya juga adalah tunggal serta tidak mempunyai sekutu dan rekanan. Perbuatan-perbuatan Tuhan dapat dikelompok-kelompokkan di bawah penggolongan secara universal, seperti “Maha Pencipta”, “Maha Memberi Rezki”, “Maha Memberi Hidayah” dan…. Dalam natijahnya, tauhid perbuatan juga saling berhubungan dengan bagian-bagian universal perbuatan-perbuatan Tuhan, dimana terbagi kepada cabang-cabang yang beragam seperti “Tauhid dalam kepenciptaan”, “Tauhid dalam pemberian rezki”, “Tauhid dalam pemberian hidayah” dan…. Kendatipun setiap dari cabang-cabang tauhid perbuatan dapat dibahas dan diobservasi secara terpisah, akan tetapi sebagian dari bagian-bagian ini mendapatkan prioritas yang lebih khusus dan mendapatkan perhatian secara spesifik dalam ayat-ayat dan riwayat-riwayat serta juga dalam sumber-sumber teologi kita. Kami dalam bahasan ini akan meninjau secara singkat bagian yang paling penting dari cabang-cabang tauhid perbuatan.
Tauhid dalam kepenciptaan
Salah satu bagian dari tauhid perbuatan, adalah tauhid dalam kepenciptaan; yakni keyakinan bahwa satu-satunya pencipta hakiki, hanyalah Tuhan dan seluruh eksistensi lain adalah makhluk-Nya serta kepenciptaan maujud-maujud lain tidak mempunyai sisi kemandirian, adalah mengikuti iradah dan kehendak Tuhan.[1]
Tauhid dalam kepenciptaan menjadi tema yang jelas, dengan memikirkan tentang hubungan maujud-maujud mumkin dengan Tuhan wajibul wujud. Seluruh alam imkan merupakan akibat Tuhan dan tanpa perantara atau dengan perantara tercipta dari sisi Tuhan. Dari dimensi bahwa dalam alam wujud hanya ada satu wajibul wujud dimana Ia adalah sebab bagi seluruh sebab-sebab dan seluruh maujud-maujud merupakan akibat-Nya, maka hanya ada satu pencipta dan pemberi eksistensi dan maujud-maujud lainnya seluruhnya merupakan ciptaan dan makhluk-Nya.
Akan tetapi tauhid perbuatan sebagaimana yang kami jelaskan, tauhid dalam kepenciptaan tidak bertentangan dengan kenyataan ini bahwa sebagian makhluk-makhluk Tuhan menciptakan obyek-obyek khusus; sebab perkara ini dalam vertikal kepenciptaan Tuhan dan merupakan manifestasi dari itu serta dalam wilayah kehendak Tuhan dan dengan izin-Nya itu terjadi dan sama sekali tidak memiliki sisi kemandirian; sebab itu makna dari tauhid dalam kepenciptaan tidak lebih dari sesuatu kecuali penafian kepenciptaan mandiri selain dari Tuhan.
Tauhid dalam Rububiyyah
Satu lagi dari bagian-bagian tauhid perbuatan, adalah tauhid dalam “rubuubiyyah” (pengaturan). Sebelum tauhid ini dijelaskan, sebaiknya kita memikirkan makna kata “rabb” terlebih dahulu.
Terkadang kata rabb dimaknakan dengan makna murabbi dan itu diterjemahkan dengan Tuhan. Kendatipun makna rabb dengan makna murabbi (pendidik) adalah dekat, tetapi dua kata ini secara akurat tidaklah satu.[2] Dalam salah satu dari penggunaan-penggunaan kata ini, rabb dimutlakkan atas seseorang yang mempunyai ikhtiyar terhadap seseorang atau suatu obyek, dalam bentuk setiap kali ia menghendaki, ia dapat campur tangan mengatur dan mengelola perkara-perkara orang itu atau obyek itu.
Akan tetapi dengan memikirkan makna di atas menjadi jelaslah bahwa rububiyyah merupakan keniscayaan dari kepemilikan hakiki; sebab jika suatu maujud bukan pemilik hakiki dari maujud lain, tidak akan dapat secara mandiri dan dalam bentuk mutlak mengatur perkara-perkaranya.[3] Dengan demikian rabb dimutlakkan atas pemilikan yang mengatur dan mengarahkan perkara-perkara dimilikinya dan di posisi ia melepaskan apa yang dimilikinya dan menyerahkan pada kondisinya sendiri, ia campur tangan terhadap keadaan-keadaannya dan mengatur urusan-urusannya.
Dengan meninjau makna rabb, maka tauhid dalam rububiyyah bermakna bahwa hanya Tuhan pemilik hakiki seluruh eksistensi yang berhak mengatur urusan-urusan seluruh maujud alam dan dalam bentuk mandiri serta tanpa butuh pada rekanan atau izin maujud lain, mengatur urusan-urusan eksistensi dan mengelolanya, dan jika salah satu dari makhluk-makhluk-Nya, dalam wilayah yang terbatas, melakukan kepengelolaan dan kepengaturan urusan-urusan maujud lain, pekerjaan ia ini adalah mandiri dan bergantung kepada izin, iradah dan kehendak Tuhan.
Pembuktian Tauhid Rububiah
Sekarang setelah makna tauhid rububiah sudah jelas, gilirannya kami mengutarakan dalil akal tentangnya, dan di antara dalil-dalil yang bermacam-macam yang dikonstruksi bagi tauhid rububiah, kami cukupkan hanya menyebutkan dua dalil:
Dalil pertama: Rububiyyah adalah keniscayaan dari pemilikan hakiki[4] dan ketika suatu maujud bukanlah pemilik hakiki maujud lain, tidak akan bisa mengatur urusan-urusannya dalam bentuk mutlak dan mandiri. Dari sisi lain, kepemilikan hakiki, adalah dari aspek kepenciptaan; sebab eksistensi makhluk dan seluruh aspek-aspek eksistensinya adalah di tangan khalik. Oleh karena itu, rububiyyah (pengaturan) adalah keniscayaan kepenciptaan dan sebab pencipta tunggal seluruh eksistensi adalah Tuhan, maka Rabb (pengatur) tanpa tandingan alam juga adalah Tuhan dan tidak satupun maujud lain yang memiliki pengaturan mandiri yang sejajar dengan pengaturan Tuhan.
Dalil kedua: Kami sudah ungkapkan bahwa rububiyyah bermakna pengelolaan perkara sesuatu dan pengaturan terhadapnya, berasaskan ini, diasumsikan keberadaan Rabb-rabb yang jamak dalam alam eksistensi dimana satu sama lain sejajar dan dalam bentuk mandiri melakukan pengelolaan dan pengaturan perkara-perkaranya, maka meniscayakan secara taba’ campur tangan dan kepengelolaan masing-masing dari mereka, mendapatkan kekuasaan pada sistem khusus dalam alam. Dari sisi lain, kenyataan yang disaksikan dan tidak mungkin diingkari bahwasanya alam eksistensi diatur di bawah kekuasaan satu sistem dan sistemik serta perkara-perkara alam bergerak ke arah keteraturan dan keselarasan.
Dengan demikian, kesatuan sistem pengelolaan alam dan pengaturan harmoni serta keselarasan bagian-bagiannya yang bermacam-macam, menunjukkan atas ketunggalan pengelola dan pengatur serta melukiskan bahwasanya Rabb hakiki alam, adalah satu dan tunggal.
Tauhid Perbuatan dalam al-Qur’an dan Sunnah
Sebagaimana yang sudah kami isyaratkan sebelumnya, cabang-cabang yang beragam dari syirik perbuatan, secara khusus syirik rububiyyah, dalam perbandingannya dengan bagian-bagian lain syirik nazhari, mempunyai penyebaran yang lebih banyak di antara kaum-kaum dan bangsa-bangsa, dan dari sisi ini maka adalah tabii jika al-Qur’an lebih menegaskan pada tauhid perbuatan. Riwayat-riwayat yang beragam juga menjelaskan cabang yang bermacam-macam dari tauhid perbuatan. Pada bagian ini, kami mengungkapkan secara singkat observasi sebagian dari ayat-ayat ini dan di samping itu, kami mengisyaratkan sebagian juga riwayat-riwayat.
Tauhid Kepenciptaan dalam Al-Qur’an
Prinsip ini bahwasanya Tuhan adalah khalik dan pencipta segala sesuatu dan selain-NYa semua makhluk dan ciptaan-Nya, dijelaskan dalam al-Qur’an dalam ayat-ayat yang beragam. Sebagai contoh kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
“Katakanlah: Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia satu lagi qahhaar”[5]
“Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia atas segala sesuatu adalah wakiil”[6]
“Demikianlah Allah adalah Rabb kamu pencipta segala sesuatu, tidak ada Tuhan kecuali Dia”[7]
Sebagaimana yang kita saksikan, dalam ayat-ayat ini Tuhan diperkenalkan sebagai pencipta segala sesuatu. Dengan memperhatikan pada pemahaman yang sangat luas terhadap “sesuatu”, ayat-ayat ini menjelaskan keluasan yang tak terbatas kepenciptaan Tuhan; yakni selain Tuhan tidak ada sama sekali sesuatu yang dapat dikonsepsi, yang memiliki partisipasi dari eksistensi, kecuali bahwasanya penciptanya adalah Tuhan yang Maha Tunggal. Hakikat ini, dalam sebagian ayat-ayat dijelaskan dalam bentuk pertanyaan pengingkaran: “Apakah selain Tuhan terdapat pencipta lain yang memberikan rezki pada kamu dari langit dan bumi?”[8] Ayat ini, bertanya dari mukhaathabnya dalam bentuk pertanyaan pengingkaran: Apakah ada pencipta selain Tuhan? Dari sudut tinjauan al-Qur’an, jawaban dari pertanyaan ini adalah negatif dan hanya Tuhan saja yang pencipta hakiki.
Dalam bentuk penafsiran apapun, prinsip universal kepenciptaan Tuhan, adalah asas yang pasti dan yakin dari al-Qur’an, dimana natijah dari itu tidak lain kecuali tauhid dalam kepenciptaan.[9]
Poin lain yang diungkapkan al-Qur’an adalah bahwa pada umumnya kaum musyrik Arab pada masa kehadiran Islam, memandang Allah sebagai satu-satunya pencipta eksistensi dan problem mereka pada sisi kesyirikan terhadap rububiyyah. Sebagai contoh, kita membaca dalam surah al-Ankabut: “Dan jika kamu bertanya pada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan menundukkan matahari dan bulan, niscaya mereka mengatakan: Allah” (Q.S: al-Ankabut: 61).
Ungkapan al-Qur’an ini, yang juga digunakan dalam ayat-ayat lain[10], menceritakan bahwa kaum musyrik Arab, apakah dikarenakan fitrahnya dan apakah dikarenakan pengaruh pengajaran yang lestari dari Nabi-nabi terdahulu, mengakui hakikat ini, bahwa berhala-berhala mereka dan maujud-maujud lain yang mereka sembah, bukanlah pencipta eksistensi, ia dan seluruh eksistensi, adalah makhluk dan ciptaan Allah.[11] Akan tetapi problematika mendasar mereka adalah bahwa tidak mempunyai perhatian terhadap kemestian dari kepenciptaan dan kepengaturan serta tidak berpikir terhadap hakikat ini, bahwa jika pencipta seluruh eksistensi adalah Tuhan yang tunggal, maka juga harus satu pengelola hakiki wujud dan memisahkan kepenciptaan dari kepengelolaan adalah sesuatu yang tidak benar.
Al-Qur’an di samping menegaskan tauhid dalam kepenciptaan, juga menjelaskan secara metodologik kenyataan bahwasanya kepenciptaan maujud-maujud lain terjadi hanya dalam kevertikalan kepenciptaan Tuhan dan hanya dalam liputan kehendak dan iradah-Nya. Sebagai contoh kita menyaksikan ayat yang berkenaan mukjizat Nabi Isa As: “Dan ketika kamu membuat dari tanah (sesuatu) dalam bentuk burung dengan izin-Ku, kemudian kamu tiup padanya dan dengan izin-Ku menjadilah ia burung”[12]
Ayat ini merupakan penjelasan wahyu Tuhan kepada Nabi Isa As bahwa di samping Tuhan, hal itu disebutkan juga sebagai salah satu dari mukjizat-mukjizat Nabi Isa As: yakni ia membuat dari tanah seekor burung dan kemudian meniupnya dan pada akhirnya, patung tak bernyawa itu menemukan hidup dan menjelma dalam bentuk seekor burung nyata. Sebagaimana dapat diperhatikan, dalam ayat ini lafazh “dengan izin-Ku” diulang secara dua kali dan menegaskan atas makna ini bahwa proses penciptaan burung dari tanah, kendatipun dari satu sisi dinisbahkan kepada Nabi Isa As, akan tetapi ia dalam penciptaannya bukanlah pelaku mandiri dan perbuatan ini dapat teraplikasikan dengan izin Tuhan serta di bawah kehendak-Nya. Dengan demikian, al-Qur’an dengan bentuk panduan menjelaskan bahwa kendatipun mungkin Tuhan barasaskan hikmah-Nya, memberikan kepada sebagian makhluk-makhluk-Nya kemampuan penciptaan, akan tetapi kepenciptaan mereka tidaklah dalam garis derajat kepenciptaan-Nya dan mandiri dari-Nya, maka dari itu tidak terdapat pertentangan dengan tauhid dalam kepenciptaan.
Tauhid Rububiah dalam Al-Qur’an
Dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya telah diungkapkan makna tauhid rububiah adalah bahwa satu-satunya pengelola, pemberi sistem dan pengatur hakiki alam eksistensi, adalah Tuhan dan kepengelolaan maujud-maujad lain hanya terjadi dalam bayangan kepengelolaan Tuhan. Di sisi lain makna yang bertolak belakang dari itu, yakni syirik dalam rububiah adalah bahwasa manusia memandang terdapat maujud lain selain Tuhan, yang dalam bentuk mandiri, mempunyai kondisi kepengelolaan, memperbaiki dan mengatur perkara-perkara sebagian dari alam eksistensi.
Dengan meninjau penyebaran luas syirik dalam rububiah, maka al-Qur’an memberikan penekanan penting dan perhatian banyak terhadap tauhid rububiah.
Urgensi tauhid Rububiah dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an karim dalam posisi menegaskan tauhid rububiah, memperkenalkan Tuhan sebagai “Rabb” seluruh eksistensi. Sifat “Rabb al-âlamîn” puluhan kali dalam al-Qur’an digunakan untuk Tuhan dan mengisahkan tentang realitas ini, bahwa alam-alam eksistensi yang beragam, non materi dan materi, jisim-jisim, tumbuhan-tumbuhan, hewan-hewan dan manusia, seluruhnya berada di bawah kepengelolaan dan kepengaturan-Nya.
Tuhan memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memperkenalkan Ia sebagai “Rabb” langit dan bumi: “Katakanlah siapakah Rabb langit dan bumi, katakanlah Allah”[13]
Tentu saja kepengelolaan Tuhan tidak hanya tekhususkan pada langit dan bumi; akan tetapi meliputi seluruh maujud-maujud: “Katakanlah: apakah selain dari Allah aku akan pilih sebagai Tuhan, padahal Dia adalah Rabb segala sesuatu” [14]
Terkadang juga menegaskan pada poin ini bahwa Tuhan yang tunggal adalah pengelola dan pengatur seluruh manusia dan tidak satupun manusia yang keluar dari wilayah pengaturan-Nya: “Apakah kamu menyembah (berhala) ba’al dan meninggalkan sebaik-baiknya pencipta. Allah adalah Rabb kamu dan Rabb bapak-bapak kamu yang awal-awal”[15]
Sebagaimana yang telihat, dalam pandangan al-Qur’ani tidak ada sedikitpun tempat kepengelolaan mandiri bagi maujud-maujud lain.
Expostulasi Para Nabi As atas Tauhid Rububiah
Dengan memperhatikan penyebaran dari keyakinan kepada rabb-rabb (tuhan-tuhan) yang beragam, salah satu yang menjadi fokus inti expostulasi para Nabi dengan kaum musyrik, adalah istidlal atas tauhid rububiah. Sebagai contoh, al-Qur’an menukilkan bahwasanya Nabi Yusuf As dalam mendakwahi dua orang yang bersamanya dalam penjara, mengatakan: “Apakah rabb-rabb yang terpisah-pisah lebih baik ataukah Allah yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa? [16]
Al-Qur’an menukil expostulasi yang sangat banyak dari jawara tauhid Nabi Ibrahim As dimana bagian paling urgennya adalah tentang tauhid rububiah. Sebagai contoh, nukilan al-Qur’an mengenai kisah dialog Nabi Ibrahim As dengan Raja kafir (yang menurut riwayat namanya adalah Namrudz):
“Apakah tidak kamu lihat (ketahui) tentang orang yang membantah Ibrahim tentang Tuhannya yang Allah telah memberikan kepadanya kerajaan? Ketika Ibrahim berkata: Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan, ia berkata: aku menghidupkan dan mematikan, Ibrahim berkata: sesungguhnya Allah mendatangkan matahari dari Timur maka datangkanlah ia dari Barat, maka yang kafir terkejut dan ternganga, dan Allah tidak memberi petunjuk pada kaum yang zhalim” (Q.S: al-Baqarah: 258)
Dari kandungan dialog di atas menjadi jelas bahwa Namrudz mempunyai pandangan jika Allah itu adalah Tuhannya tuhan-tuhan[17] dan di samping Allah ia juga berkeyakinan terhadap keberadaan tuhan-tuhan lain serta ia juga berpandangan untuk dirinya kedudukan rububiah. Nabi Ibrahim As dalam membuktikan bahwa Namrud tidak mempunyai saham dalam pengelolaan alam, mengisyaratkan salah satu dimensi dari dimensi-dimensi rububiah Tuhan dan berkata: Tuhanku (yang merupakan satu-satunya pengatur hakiki) mengatur alam ini dengan cara menghidupkan dan mematikan sebagian maujud-maujud. Adalah jelas bahwa maksud Nabi Ibrahim dari menyebutkan dua sifat ini, adalah makna hakiki dari keduanya; akan tetapi Namrud melakukan aksi penipuan dengan memerintahkan di antara narapidana-narapidananya, seorang dibebaskan dan seorang lainnya dibunuh mati, dan berasaskan ini dengan penuh kesombongan memaklumatkan bahwa ia adalah yang mematikan dan menghidupkan.
Kendatipun Namrudz di sini melakukan fazilogik, tetapi pada hakikatnya wadah untuk ia melakukan hal itu tidak datang dari sisi Nabi Ibrahim As, oleh karena itu Nabi Ibrahim As lebih memilih mengungkapkan dimensi lain dari dimensi rububiah Tuhan yang tidak mempunyai kemungkinan melakukan fazilogik terhadapnya.
Dengan demikian, Nabi Ibrahim As mengisyaratkan pengaturan gerak matahari dan berkata: “Tuhan menerbitkan Matahari dari ufuk Timur, maka dari itu jika kamu pengatur alam harus mampu menerbitkan matahari dari ufuk Barat dan di sini Namrud tertegun serta diam tanpa jawaban dalam menghadapi expostulasi tauhid Nabi Ibrahim As.
Walhasil, secara lahiriah pondasi expostulasi Nabi Ibrahim As adalah ini, bahwa asumsi rububiah takwini suatu maujud selain Tuhan, memestikan bahwa maujud tersebut dapat campur tangan dalam sistem alam semesta dan ia berasaskan iradah dan kehendaknya dapat merubah sistem yang ada; akan tetapi tidak satupun dari tuhan-tuhan dusta yang mempunyai kekuatan seperti itu.
Al-Qur’an pada tempat lain menukil expostulasi Nabi Ibrahim As dalam berhadapan dengan orang-orang yang berpandangan terhadapa kerububiahan benda-benda langit. Dalam expostulasi ini, Nabi Ibrahim As sesuai dengan lahiriah dan untuk menarik perhatian kaum musyrik, menampakkan dirinya seakidah dengan mereka, kemudian memberitahukan kepada mereka ketidak benaran mazhabnya dengan menunjukkan burhan yang kokoh kepada mereka:
“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Dengan merenungi kandungan ayat tersebut di atas, dapat diperoleh poin yang menjadi perhatian dan penuh ibrah, seperti kalimat: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam” dapat diperoleh dua poin penting: pertama, maujud yang tenggelam tidak mungkin adalah rabb; sebab rububiah berkisar atas poros hubungan takwini dan berkesinambungan antara rabb dan marbub (pengatur dan diatur); oleh karena itu tidak mungkin hubungan ini terputus, meskipun hanya sedetik serta tidak mungkin dinafikan kekuasaan rabb yang meliputi marbûb, kendatipun sedikit; sebab keniscayaan rububiah hakiki adalah dengan terputusnya hubungan tersebut, maka sisi dan dimensi marbûb akan menjadi kacau balau serta tatatertib eksistensinya akan menjadi rusak berantakan. Kedua, Nabi Ibrahim As pada kedudukan menafikan secara gamblang rububiah bintang-bintang, berkata: “Saya tidak menyukai yang tenggelam”. Ungkapan ini menjelaskan hubungan yang dalam antara kecintaan dengan rububiah dan uluhiyah. Mungkin saja Nabi Ibrahim As hendak menjelaskan kenyataan ini, bahwa Rabb hakiki yang mempunyai kelayakan uluhiyyah, dalam bentuk takwini menarik kecintaan manusia kepada-Nya. Oleh karena itu, rububiah hakiki senantiasa bersama dengan kecintaan dan dari sisi ini jika hati manusia tidak tertarik ke arah suatu maujud, dimana maujud itu bukan rabb hakiki, dikarenakan tidak mempunyai kelayakan untuk disembah dan diibadahi.
Istidlal atas Tauhid Rububiah
Prinsip tauhid (minimal sebagian dari tingkatan-tingkatannya) merupakan sesuatu yang fitri. Tapi berkenaan dengan kefitriannya tidak menyalahi jika dikonstruksi argument tentangnya. Berdasarkan ini, terdapat ayat-ayat dalam al-Qur’an yang kandungannya dapat dihitung sebagai istidlal atas tauhid. Salah satu dari ayat-ayat itu yang biasanya dipandang sebagai dalil atas tauhid rububiah, ayat 22 surah al-Anbiya:
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.(Q.S: al-Anbiya:22)
Perlu kami sebutkan bahwa di antara para peneliti terjadi perbedaan pandangan terhadap ayat di atas tentang bagian tauhid yang mana yang ditetapkannya. Berdasarkan satu pandangan, dengan memperhatikan bahwa ayat ini menafikan anggapan terdapat banyak âlihah, maka natijah dari itu menetapkan tauhid ulûhi. Dari sisi lain, suatu kelompok memandang kandungan ayat ini dalil atas tauhid rububiah dan sebagian lainnya memandangnya masuk pada kerangka burhan tamânu’. Dengan memperhatikan keberadaan aspek saling melazimkan antara bagian-bagian tauhid yang bermacam-macam dari satu sisi dan antara mafhum-mafhum ilâh dan rabb dari sisi lain, perbedaan di atas tidak memiliki natijah penting dan kami di sini lebih cenderung memilih pandangan kedua; sebab kami melihat kandungan istidlalnya lebih sesuai dengan tauhid rububiah.
Petikan burhan dari kandungan ayat tersebut adalah: jika alam eksistensi memiliki lebih dari satu rabb, maka setiap cerminan sistemnya akan saling bertabrakan dan menyababkan kehancuran. Akan tetapi kita menyaksikan bahwa alam menjaga keserasian dan keutuhannya, ia memiliki satu sistem yang utuh dan kokoh. Oleh karena itu, alam hanya memiliki satu rabb.
Dalam menjelaskan istidlal ini dapat dikatakan bahwa asumsi keberadaan dua rabb yang mandiri bagi alam, akan memestikan bahwa kita mempunyai dua sistem yang saling mandiri satu sama lain yang mana masing-masing dari dua rabb yang diasumsikan dapat mempengaruhi alam tanpa izin yang lainnya dan memberi aturan terhadapnya. Dalam bentuk ini maka akan meniscayakan dua sistem yang berbeda yang berkuasa atas alam eksistensi dan masing-masing dua rabb yang diasumsikan akan mengatur dan mengelola alam sesuai dengan keinginan dan kehendaknya, dan hal ini tidak akan menghadirkan sesuatu kecuali kerusakan dan kehancuran alam. Dengan kata lain, banyaknya pengelola secara dharuri akan menghadirkan perbedaan di dalam kepengelolaan dan perbedaan di dalam kepengelolaan tidak sesuai dengan keserasian, keharmonisan dan keutuhan bagian-bagian eksistensi.
Oleh karena itu, keteraturan alam dan berkuasanya undang-undang yang tetap serta sistem yang satu, menandakan bahwa alam diatur dan dikelola oleh satu pengatur, dan ini tidak lain adalah prinsip tauhid dalam rububiah.
Terdapat dalam riwayat bahwa Hisyam ibnu Hikam bertanya kepada imam Shadiq As: apa dalil keesaan Tuhan? Imam dalam menjawab pertanyaan tersebut berkata: keutuhan dan kesinambungan pengelolaan dan sempurnanya ciptaan (menandakan ketunggalan Tuhan), sebagaimana Tuhan berfirman: sekiranya di langit dan bumi terdapat tuhan-tuhan kecuali Allah, maka niscaya keduanya pastilah rusak.[18]
Berdasarkan riwayat lain, imam Shadiq As dalam menjawab pertanyaan seorang kafir berkata: ketika kita menyaksikan keseimbangan dan keteraturan ciptaan, bintang-bintang yang bergerak (pada porosnya masing-masing) dan pergantian siang dan malam serta bergilirnya matahari dan bulan (mengikuti program dan undang-undang yang tetap), kebenaran pengelolaan dan keutuhan perkara-perkara itu menandakan bahwasanya pengatur mereka adalah satu.[19]
Pengelolaan Makhluk dengan Izin Khalik
Sebagaimana telah kita ungkapkan sebelumnya, tauhid perbuatan tidaklah bermakna menegasikan secara totalitas perbuatan-perbuatan makhluk Tuhan; akan tetapi dengan makna bahwa perbuatan setiap maujud berada dalam vertikal perbuatan Tuhan dan dengan izin serta kehendak-Nya. Berasaskan inilah maka al-Qur’an terkadang menisbahkan pengelolaan kepada maujud-maujud lain, misalnya kepada malaikat:“ Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)”[20]
Tapi pengaturan ini adalah jelas tidak mandiri dan tidak sejajar dengan pengaturan Tuhan; bahkan merupakan pancaran dari pengaturan Tuhan. Dengan demikian, al-Qur’an menisbahkan dimensi-dimensi rububiah Tuhan terhadap makhluk-makhluk-Nya dan pada saat yang sama memandang hal itu sebagai suatu dimensi dari dimensi-dimensi pengelolaan Tuhan. Sebagai contoh, dari satu sisi memberi rezki dipandang sebagai dimensi perbuatan Tuhan:
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.[21]
Dan dari sisi lain, pengadaan rezki (makanan dan pakaian) bagi ibu-ibu menyusui, dihitung sebagai tanggung jawab yang harus dipikul oleh suami:
“Dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma’ruf.”[22]
Tulisan ini di muat di www.wisdoms4all.
[1] . Di sebagian sumber-sumber, tidak terdapat pembicaraan tentang tauhid perbuatan dan sebagai gantinya, diutarakan makna yang luas dari tauhid dalam kepenciptaan. Tetapi menurut tinjauan dengan memperhatikan kepada makna “penciptaan” yang berkembang dalam ilmu kalam, maka kepenciptaan hanyalah salah satu dari perbuatan-perbuatan Tuhan dan dengan melihat masalah ini dimana banyak dari perbuatan-perbuatan Tuhan seperti memberi hidayah, memberi ampunan, memberi rahmat dan… tidak dapat diserahkan kepada penciptaan, maka tidak benar mendudukkan tauhid dalam kepenciptaan pada kedudukan tauhid perbuatan. Oleh karena itu, tauhid perbuatan mempunyai wilayah yang lebih luas ketimbang tauhid dalam kepenciptaan dan dari sisi ini, pembahasan dari tauhid dalam kepenciptaan kita tidak membuat kita tidak butuh untuk menguraikan pembahasan lebih luas tauhid perbuatan. Sebagai contoh, bandingkan dengan: al-Ilahiyyaat ‘alaa Hudaa…, Jld. 2, Hal. 42-77.
[2] . Rabb dari akar kata rababa dan dari tinjauan ilmu sharf, adalah fi’il mudha’af; dalam hal murabbi dari akar rabaa dan dalam istilah ilmu sharf adalah fi’il naaqish. Akan tetapi dua kata ini, memperoleh derivasi besar dari satu akar derivasi; sebab dalam dua huruf dari huruf-huruf asli yang tiga macam, adalah musytarak dan dalil kedekatan makna dari dua kata ini adalah karena itu.
[3] . Allamah Thaba-thabai dalam tafsir surah al-Fatihah, dalam ayat:2, tentang makna “Rabb” berkata: Rabb adalah pemilik dimana ia mengatur urusan yang dimilikinya. Oleh karena itu, dalam kata rabb terkandung makna pemilikan…. Ia selanjutnya mengisyaratkan tentang perbedaan pemilikan i’tibari dengan pemilikan hakiki dan mengingatkan bahwa pemilikan Tuhan, adalah pemilikan hakiki.
[4] . Pemilikan atau kepemilikan terbagi atas dua bagian: i’tibari dan hakiki. Dan yang dimaksud dengan yang pertama adalah pemilik berasaskan suatu bentuk perjanjian, mendapatkan izin dalam mengelola yang dimiliki. Tetapi dalam pemilikan hakiki, eksistensi dimiliki adalah bergantung kepada eksistensi pemilik dan ia sendiri tidak mempunyai kemandirian, dan Tuhan dengan makna pemilikan ini, adalah pemilik seluruh makhluk-makhluk-Nya.
[5] . Q.S: ar-Rad : 16.
[6] . Q.S: as-Zumar : 62.
[7] . Q.S: al-Gaafir : 62.
[8] . Q.S: al-Faathir :3.
[9] . Akan tetapi sekelompok dari pendukung Determinisme berpegang terhadap ayat-ayat ini, memandang Tuhan adalah pencipta perbuatan-perbuatan manusia dan menyangka bahwa kemestian peliputan kepenciptaan Tuhan dinisbahkan terhadap perbuatan-perbuatan manusia, bukanlah Determinisme dan penegasian ikhtiyar. Kami dalam pembahasan Jabr dan Ikhtiyar akan mengobservasi klaim ini.
[10] . Q.S: Lukman: 25, Q.S: as-Zumar:38 dan Q.S: as-Zukhruf:9.
[11] . Landasan pengambilan ini dari ayat yang menjadi bahasan, bahwaungkapan langit dan bumi dalam al-Qur’an merupakan kinayah dari seluruh eksistensi imkan.
[12] . Q.S: al-Imran: 44.
[13] . Q.S: ar-Rad:16.
[14] . Q.S: al-An’am:164.
[15] . Q.S: as-Shâffât: 125 dan 126.
[16] . Q.S: Yusuf: 39.
[17] . Merujuk pada tafsir al-Mizan.
[18] . Syekh Shaduq, At-Tauhid, Bab 36, Hadits 2.
[19] . Ibid, Bab 36, Hadits 1.
[20] . Q.S: An-Nâzi’at: 5.
[21] . Q.S: Hud: 6.
[22] . Q.S: Al-Baqarah: 233.
Komentar»
No comments yet — be the first.