Asalah Wujud dan I’tibariyyah Mahiyah November 30, 2007
Posted by makkawaru in Logika dan Filsafat.add a comment
(The Principality of Existence and
Quididities Being Mentally – Posited)
(Prinsipalitas Eksistensi dan Persepsi Mental Mahiyah)
Kita dalam konteks ini tidak ragu bahwa terdapat perkara-perkara nyata (sesuatu di luar yang nyata ada) dan mempunyai efek-efek nyata serta bukan hanya imajinasi kosong. Kemudian kita abstraksikan dari setiap hal yang disaksikan -dalam kenyataan ia satu di luar- dalam bentuk dua mafhum (comprehension), yakni wujud dan mahiyah, dimana keduanya (wujud dan mahiyah) berbeda satu sama lain secara pengertian, meskipun secara misdak (extension) adalah satu. Seperti manusia yang ada di alam luar, kita abstraksikan dalam bentuk dua mafhum, yaitu mafhum manusia dan maujud. (lagi…)
Tauhid Af’al (Perbuatan) (2) November 30, 2007
Posted by makkawaru in Religi.add a comment
Pendahuluan
Dalam pembahasan sebelumnya sudah jelas bahwasanya Tuhan, sebagaimana adalah tunggal, dalam perbuatan-Nya juga adalah tunggal serta tidak mempunyai sekutu dan rekanan. Perbuatan-perbuatan Tuhan dapat dikelompok-kelompokkan di bawah penggolongan secara universal, seperti “Maha Pencipta”, “Maha Memberi Rezki”, “Maha Memberi Hidayah” dan…. Dalam natijahnya, tauhid perbuatan juga saling berhubungan dengan bagian-bagian universal perbuatan-perbuatan Tuhan, dimana terbagi kepada cabang-cabang yang beragam seperti “Tauhid dalam kepenciptaan”, “Tauhid dalam pemberian rezki”, “Tauhid dalam pemberian hidayah” dan…. Kendatipun setiap dari cabang-cabang tauhid perbuatan dapat dibahas dan diobservasi secara terpisah, akan tetapi sebagian dari bagian-bagian ini mendapatkan prioritas yang lebih khusus dan mendapatkan perhatian secara spesifik dalam ayat-ayat dan riwayat-riwayat serta juga dalam sumber-sumber teologi kita. Kami dalam bahasan ini akan meninjau secara singkat bagian yang paling penting dari cabang-cabang tauhid perbuatan. (lagi…)
Agama dan Akhlak [1] November 30, 2007
Posted by makkawaru in Wacana.2 comments
Mukadimah
Masalah hubungan agama dan akhlak, telah lama menyibukkan para filosof, teolog dan ilmuan-ilmuan akhlak. Dengan melihat sepintas lalu terhadap tradisi-tradisi sejarah kehidupan manusia, dapat disaksikan keselarasan, kesesuaian, kesatuan ukuran-ukuran, keharusan-keharusan, dan norma-norma akhlak dengan perintah-perintah agama dalam berbagai masyarakat dan bangsa. Istilah-istilah akhlak Islam, Yahudi, Masehi, Hindu, dan Budha, merupakan bukti atas apa yang kami ungkapkan di atas. Oleh sebab itu, terkadang hubungan yang dalam di antara dua fenomena ini (agama dan akhlak) bisa melalaikan para peneliti dalam memisahkan pemikiran akhlak dari dimensi-dimensi lain kehidupan agama.
Pembahasan-pembahasan pemikir dan filosof seperti Sokrates dan Plato yang berdasarkan atas kemandirian dua fenomena agama dan akhlak, teori pemisahan Karl Marx dan Sigmund Freud, klaim ketidaksesuaian di antara keduanya, dan wacana antara pengikut mazhab ‘adliyyah dan asy’ariyyah tentang kebaikan dan keburukan akal dan syar’i perbuatan-perbuatan manusia, semuanya mengisahkan bahwa masalah agama dan akhlak ini mempunyai usia dan sejarah yang amat panjang. Mungkin hal ini disebabkan karena agama dan akhlak senantiasa menyertai manusia sejak awal keberadaannya serta dua fenomena ini timbul dari tabiat dan fitrah manusia. (lagi…)