Ilmu Logika November 12, 2007
Posted by makkawaru in Logika dan Filsafat.trackback
Prolog
Sebagian dari penyusun buku-buku ilmiah memakai metode tertentu sebelum memasuki pembahasan ilmiahnya sebagai pendahuluan dan mukaddimah, ini dilakukan untuk mengantar pikiran para pemula dalam mengenal tema-tema pemikiran yang ada dalam tulisannya. Metode seperti ini dikenal dengan “ruusul tsamaniyah” dan yang terpenting di antaranya adalah : 1. Defenisi ilmu;2. Subyek ilmu;3. Kegunaan ilmu;4. Penyusun ilmu;5. Bab-bab dan pembahasan ilmu;6. Kedudukan ilmu, yakni maqam ilmu tersebut dihubungkan dengan ilmu-ilmu lain dan posisinya dalam silsilah ilmu-ilmu.[1]Selanjutnya kami akan menjelaskan masing-masing dari itu. Defenisi Logika
Untuk menjelaskan defenisi “mantiq” (logika) dan juga untuk menjelaskan subyek dan kegunaannya, para logikawan kontemporer mengungkapkan pembahasan dengan memasukkan topik-topik berikut ini:
- Ilmu dan pembagiannya;
- Pikiran dan terjadinya kesalahan dalam berpikir.
1. Ilmu dan pembagiannya (Tasawwur dan Tasdik)Sebagian memandang bahwa tahu dan ilmu (connaissance) adalah bagian dari “tasawwuraat badihi” (konsepsi-konsepsi daruri dan badihi) dan oleh karena itu tidak membutuhkan defenisi dan mereka melihat bahwa ilmu adalah “kaifiyyaatun Nafsaani” (kualitas-kualitas jiwa) dan “wijdaani” (pengetahuan nurani) yang mana setiap orang mendapatkannya secara terang dalam dirinya. Oleh sebab itu sebagaimana setiap orang mengetahui apa itu kelezatan dan kepedihan serta apa itu kelaparan dan kehausan, maka setiap orang juga memahami apa itu ilmu dan tahu. Sejumlah ilmuan juga memandang bahwa ilmu itu tidak dapat didefenisikan, sebab jika ia didefenisikan maka akan meniscayakan terjadinya daur (Circle), yakni pada hakikatnya setiap sesuatu diketahui dengan perantara ilmu dan ilmu sendiri harus diketahui dengan perantara dirinya.[2] Adapun kelompok ilmuan yang menggagas konstruksi defenisi ilmu, sebagian di antara mereka mengatakan bahwa : “Ilmu adalah gambaran yang dihasilakan dari sesuatu di sisi akal”.[3] Yakni ilmu adalah suatu gambaran yang dihasilkan dari sesuatu di dalam akal atau fakultas mengetahui. Seperti ilmu kita pada si A atau pada manusia, hewan, pohon, segi empat, lingkaran, matahari, dan ilmu kita bahwa bumi itu adalah bulat, benua Asia lebih luas dari pada benua Afrika, Air jika mencapai100 derajat Celcius akan mendidih, dll.Sebagai ilustrasi misalnya si A belum pernah ke kota suci Qum dan ia juga belum pernah mendengar kabar tentang kota tersebut, maka pada diri si A sama sekali tidak ada gambaran tentang kota Qum. Tapi setelah si A bepergian ke kota Qum dan menyaksikannya, maka hadirlah suatu gambaran pada cermin akalnya tentang kota ini dan ia memperoleh ilmu dan pengetahuan baru dalam dirinya. Jadi pada dasarnya perbedaan antara ‘alim dan jahil (tahu dan tidak tahu) dalam tataran bahwa di dalam akal alim terdapat gambaran-gambaran (konsepsi-konsepsi) yang mana di dalam akal jahil tidak terdapat itu semua. Oleh sebab itu akal (dzihni) berkedudukan seperti cermin dimana gambaran obyek-obyek tergambar dan terlukis di dalamnya.[4]
Ilmu Husuli dan Ilmu Huduri
Didalam ilmu logika, setiap kali disebut “ilmu” maka yang dimaksud adalah gambaran yang diperoleh di dalam dzihni yang mana gambaran tersebut juga disebut ilmu husuli, sementara adapun ilmu yang obyeknya sendiri (wujudnya) yang hadir di sisi alim, ilmu ini disebut sebagai ilmu huduri. Ilmu husuli sebagaimana yang sudah dipaparkan defenisinya, dihasilkannya suatu gambaran dari “ma’lum” (obyek) di dalam dzihni ‘alim. Misalnya ketika kita menengok pada bunga mawar (atau itu menjadi tinjauan dan atau perhatian kita), maka akan muncul pada diri kita gambaran darinya, dan kita adalah ‘alim (subyek yang mengetahuinya) sementara mawar luar itu adalah ma’lum (obyek yang diketahui). Dalam tinjauan ini antara ‘alim dan ma’lum terjadi pemisahan dan perbedaan, dan ilmu kita lewat perantara suatu media, tidak secara langsung. Jadi dalam ilmu husuli, ilmu kita terhadap obyek-obyek luar dengan suatu perantara gambaran dzihni. Yakni kita menyaksikan seluruh perkara-perkara obyektif dalam cermin dzihni kita dan kita mempunyai ilmu secara langsung terhadap gambaran-gambarannya, tetapi ilmu kita pada diri obyeknya sendiri (wujudnya) tidak secara langsung.Adapun ilmu huduri, ma’lum (obyek) secara langsung hadir di sisi ‘alim (bukan gambarannya). Oleh sebab itu pada ilmu ini tidak terdapat media dan perantara antara ‘alim (subyek yang mengetahui) dan ma’lum (obyek yang diketahui). Seperti ilmu dzihni terhadap kondisi-kondisi diri dan kualitas-kualitas jiwa sendiri dimana kondisi-kondisi dan kualitas-kualitas ini terdapat dalam “nafs” dan dzihni mengetahui dan memiliki ilmu terhadap mereka secara langsung; sebab yang hadir padanya adalah diri obyek itu sendiri. Misalnya ketika muncul perasaan marah pada diri kita, jiwa dihubungkan dengan obyek ini secara langsung mempunyai ilmu, yakni jiwa adalah ‘alim dan marah adalah ma’lum. Dan dalam hal ini sama sekali tidak terdapat perantara antara ‘alim dan ma’lum.Jenis ilmu ini, yakni ilmu dzihni terhadap kondisi-kondisinya dalam ilmu jiwa (psikologi) disebut kesadaran dan atau nurani (conscience). Demikian pula ilmu Tuhan dinisbahkan terhadap eksistensi-eksistensi alam adalah ilmu huduri; sebab jika dalam dzat Tuhan gambaran maujud dihasilkan maka meniscayakan perubahan dalam dzat, sedangkan tidak ada makna perubahan dalam dzat Tuhan. Dan Tuhan mempunyai ilmu mustaqim (secara langsung) dan meliputi secara totalitas dan sempurna pada seluruh alam imkan (wujud kontingen).
Tashawwur dan Tashdik (Concept and Judgment)
Ilmu husuli terbagi atas dua bagian :
- Tashawwur (Concept atau Notion);
- Tashdiq (Judgment).
Tashawwur adalah gambaran sederhana dzihni dimana tidak terjadi penyandaran sesuatu kepada sesuatu yang lain. Seperti gambaran manusia, hewan, pohon, bulan, matahari, gunung, kota suci Mekkah, kota suci Qum, besi, Timah, dan laut yang terlukis dalam dzihni seseorang.Gambaran sederhana dzihni (tashawwur) terbagi atas beberapa bagian :
- Tashawwur singular seperti tashawwur “Aristoteles”.
- Tashawwur multiplisitas tanpa “nisbah taqyiidi” (hubungan bersyarat) dan atau penyifatan seperti “matahari dan bulan”, “Sokrates dan Plato”, dan “indah dan jelek”.
- Tashawwur multiplisitas dengan “nisbah taqyiidi” (nisbah berkait) dan nisbah penyifatan seperti tashawwur “Rumah Hasan” dan “Rumah sederhana”.
- Tashawwur multiplisitas dengan nisbah pemberitaan yang masih diragukan tentangnya. Seperti ragu tentang apakah Arif adalah terpelajar.
Tashdik adalah penyandaran sesuatu terhadap yang lain apakah dalam bentuk afirmasi atau dalam bentuk negasi, seperti tashdik bahwa “Bumi adalah bulat” dan “Bumi adalah tidak diam”.Setiap tashdik memestikan tiga tashawwur, yakni bergantung terhadapnya :1. Tashawwur subyek, yakni sesuatu yang dihukumi atasnya;2. Tashawwur predikat atau atribut, yakni sesuatu yang dihukumkan (disandarkan) pada subyek;3. Tashawwur nisbah predikat kepada subyek.Misalnya tashdik tentang ”Bumi adalah bulat” meniscayakan tiga hal : pertama terdapat tashawwur “bumi”, kemudian tashawwur “bulat” dan selanjutnya tashawwur ” nisbah bulat kepada bumi”, sehingga pada akhirnya tashdik yang merupakan perkara sederhana dzihni diperoleh bagi manusia.Tetapi tiga macam tashawwur yang disebutkan ini, meskipun untuk menghasilkan tashdik adalah niscaya, dengan sendirinya adalah tidak cukup. Sebab mungkin saja seseorang mengkonsepsi subyek, predikat dan nisbah hukum keduanya tanpa tashdik, seperti nisbah-nisbah bagi seseorang yang diragukan terhadapnya. Misalnya: Sebab seseorang dituduh membunuh, maka konsepsi orang itu dan konsepsi pembunuh serta konsepsi ia selaku pembunuh, adalah ketiga-tiganya terdapat dalam dzihni, dalam bentuk dimana dzihni masih belum melakukan penghukuman, yakni tidak meyakini bahwa nisbah ini terjadi ataukah tidak.Sekarang ketika tidak dihasilkan ilmu terhadap terjadinya nisbah, atau tidak terjadinya nisbah, yakni seseorang menjumpai bahwa nisbah ini terjadi ataukah tidak, maka pada saat itu sudah dihasilkan tashdik. Dan tashdik sendiri merupakan tahap akhir dimana pengakuan terhadap terjadinya nisbah atau tidak terjadinya nisbah, yakni persepsi terjadi nisbah atau tidak terjadi nisbah, atau dengan kata lain penyetujuan nisbah atau ketiadaan penyetujuan.
Pembagian Tashawwur dan Tashdik
Tashawwur dan tashdik masing-masing keduanya dibagi atas dua bagian :
- Badihi (swa-bukti) atau daruri;
- Nazhari (teoritis) atau kasbi.
Badihi adalah sesuatu yang tidak membutuhkan penalaran dan pikiran, tetapi dengan sendirinya adalah jelas (jelas dengan sendirinya), sedangkan nazhari adalah sesuatu yang diperoleh harus dengan jalan pikiran. Tashawwur badihi seperti tashawwur dingin, panas, terang, pahit, manis, wujud dan semacam ini.Tashawwur nazhari seperti malaikat, jin, jiwa, komputer, hidrogen, sel, atom dan semacam ini.Tashdik badihi seperti “cahaya adalah terang”, “bergabungnya dua hal yang kontradiksi adalah mustahil”, “satu kilo gram kapas beratnya sama dengan satu kilo gram besi” dan 1+1=2.Tashdik nazhari seperti “bumi adalah bulat”, “air tersusun dari H1 dan O2″, “bumi mempunyai gaya grafitasi” dan “Atom terdiri dari elektron dan proton”.
[1] . Dua poin lainnya adalah pertama tujuan ilmu yakni maksud dari dihasilkannya, yang pada dasarnya paedah dari ilmu sudah berdampak atas tujuan ilmu (misalnya tujuan dari logika adalah membedakan antara benar dan batil serta paedahnya menjaga dari kesalahan berfikir dan dihasilkan ilmu-ilmu lain dengan perantaraannya). Dimensi-dimensi lain pengajaran (pembagian, analisa dan batasan). Merujuk pada Durratu al-Taaj, Tashhiih Sayyid Muhammad Misykawah, jld.1 dari bagian pertama, hal.172 dan halaman selanjutnya.
[2] . Untuk memperoleh informasi lebih banyak tentang dalil-dalil orang yang berpandangan bahwa ilmu itu tidak dapat didefenisikan serta penolakan terhadap dalil-dalil tersebut merujuk pada : Durratul al-Taaj, jld.1 dari bagian pertama, hal.61 dan Ilahiyyaat al-Asfar hal.270 dan halaman selanjutnya.
[3] . Haasyiyah Maula Abdullah atas Tahziibul Mantiq Taftaazaany, hal.9.
[4] . Durrat al-Taaj jld.1, hal.65.
jika saja manusia berfikir dengan apa yang dihadapinya sekarang, maka apa saja yang telah ia lalui itu adalah sesuatu yang terlupakan. karena manusia memiliki sifat sifat yang manusia itu sendiri tidak akan pernah bisa mengerti, baik dan buruk hitam dan putih adalah sesuatu yang sangat mudah untuk di bedakan, tapi apa yang ada dibalik dari itu semua, apa yang menjadi tujuan dari itu semua. selalu saja ada yang ingin membuat air yang jernih menjadi keruh, bagaimana kita bisa tau bahwa air itu keruh… ya tentu saja karna kita melihat bahwa air itu jernih sebelumny. air yang jernih menandakan bahwa sesuatu yang baik bersifat transfaran, tidak bisa menyembunyikan sesuatu, dan tidak menimbulkan fikiran-fikiran tentang sesuatu yang ada didalam air tersebut.sedangkan air yang keruh adalah sebaliknya. dan keduanya adalh sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. seperti kita tau ada tempat yang terang karena kita berada ditempat yang gelap sebelumnya. tanpa kita sadari, itu semua adalah satu dan tak akan pernah bisa dipisah kan