jump to navigation

Hermeunetik; Seni Memahami Teks Oktober 29, 2007

Posted by makkawaru in Wacana.
add a comment

Akar kata “hermeneutik” dalam fi’il Yunani “hermeneuein” bermakna menakwilkan (menafsirkan)  dan dalam bentuk nomina “hermeneid” bermaka takwil (tafsir). Dalam karya Aristoteles dijumpai kata peri hermeneids yang menyangkut pembahasan proposisi-proposisi dan kemudian dihubungkan dengan takwil. Kata ini dalam bentuk isim juga dijumpai dalam teodhisi udipus di kulunus dan juga dalam karya-karya Plato. Kedua kata “hermeneuein” dan “hermeneid” ini di nisbahkan pada Tuhan pembawa pesan yunani bernama “Hermes” dan secara lahiriah kata tersebut diambil darinya, dan mungkin juga sebaliknya.Nama Hermes berhubungan dengan tugas mengganti apa yang di atas pemahaman manusia ke dalam suatu bentuk  di mana fikiran dan akal manusia dapat memahaminya.  Orang-orang Yunani menghubungkan penemuan bahasa dan tulisan pada Hermes, yakni dua hal tersebut (bahasa dan tulisan) merupakan alat bagi manusia untuk memahami makna-makna dan memindahkan pada orang lain. (lagi…)

Menuju Realitas Spiritual Oktober 29, 2007

Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.
add a comment

Seluruh ibadah yang menjadi tujuan penciptaan mempunyai rahasia dan batin masing-masing. Dan seluruh maujud-maujud di alam semesta raya ini, apakah ia di alam non materi ataukah di alam materi,  pada hakikatnya dalam keadaan beribadah secara takwiniah. Tetapi manusia mempunyai ibadah spesifik, ibadah yang disebut dengan ibadah tasyri’iah. Ibadah ini diberikan kepada manusia sebagai makhluk berakal dan berikhtiar sebagai sarana penopang untuk menaikkan derajat eksistensial dan esensial mereka.

Mengapa kita katakan ibadah tasyri’i ini spesifik bagi manusia? Ini dikarenakan penyaksian kita yang tidak sampai pada alam batin maujud-maujud. Sebab jika kita kaji dan renungkan firman Tuhan yang menyatakan: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh,  Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun”[1], maka kita akan memahami bahwa betapa seluruh maujud-maujud ini mempunyai tasbih dan tahmid pada Tuhan yang tidak diketahui oleh kita manusia, dan tasbih ini tentunya bukan tasbih takwini, sebab tasbih ini (tasbih takwini) secara global dapat dipersepsi, disingkap, dan dipahami oleh akal. Mulla Shadra, untuk membuktikan “gerak substansial, berbagai sisi dan dimensi ia telusuri dengan argumen akal, namun, seorang arif lewat kasyf dan syuhud-nya, ia menyaksikan semuanya itu. Oleh karena itu, hanya mereka yang menembus jantung dan pusaran spiritual yang mempunyai penyaksian dan syuhud atas tasbih-tasbih seluruh maujud-maujud alam. Sebagai contoh, firman Tuhan tentang tasbih gunung dan burung bersama Nabi Dawud As (sebagai insan kamil): “Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman; dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya.[2] (lagi…)

Irfan Dan Tasawuf Islam Oktober 29, 2007

Posted by makkawaru in Sufistik.
2 comments

Tentang halnya menyebut dan mengkaji satu per satu manzil dan maqâm yang dirumuskan oleh ahli irfan, tentu bukan tempatnya dalam tulisan ini. Oleh sebab itu kita cukup mengutip bebarapa paragraf kalimat dari ulasan mukaddimah Kitab “Syarh Manazil Sairin”. Ketahuilah bahwa orang-orang yang sair (berjalan) dalam maqâm-maqâm ini sangat berbeda-beda, dan tidak ada urutan tertib secara pasti  untuk mereka semua dan demikian pula tidak ada akhir yang berlaku secara menyeluruh bagi mereka. Sebab potensi-potensi mereka berbeda-beda semua, maka konklusi suluk mereka juga berbeda-beda. 

Pendahuluan

Dalam pembahasan ini  kita tidak memperdebatkan perbedaan istilah irfan dan tasawuf, tetapi sebagaimana  yang kita lihat secara umum istilah irfan dan tasawuf  digunakan secara sinonim di dunia Islam hari ini.[1]

Jadi irfan adalah tasawuf  itu sendiri menurut pendekatan tersebut, meskipun  dari sisi pendengkatan Ustad Syahid Muthahhari Ra setiap kali ahli irfan ditinjau secara akademis maka hal tersebut  dialamatkan pada ‘urafa, tetapi setiap kali ditinjau secara sosial dan kemasrakatan maka hal ini dialamatkan pada mutasawwifah.[2] Berbeda lagi dengan imam Khomeni Qs, beliau berpendapat irfan yakni berhubungan dengan makrifat irfani, tetapi tasawuf berhubungan dengan aspek sair suluk (riyâdhâ) seorang sufi.[3]  

(lagi…)

Nubuwwah dan Kesempurnaan Manusia Oktober 28, 2007

Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran.
add a comment

Manusia adalah maujud menyempurna, bukan maujud statis yang tak berkembang dan permanen. Oleh sebab itu manusia tidak seperti malaikat, iblis, kuda, sapi, kambing, tumbuhan dan batu, dimana maujud-maujud tersebut sudah ditetapkan esensialitasnya, maksudnya esensialitas mereka tertutup dan tidak menerima perubahan.  Berbeda dengan manusia yang merupakan maujud beresensialitas terbuka, yakni menusia dapat menentukan esensialitas akhirnya sesuai dengan ikhtiyarnya, apakah ia menjadi manusia malaikat ataukah ia menjadi manusia iblis, ataukah ia menjadi manusia hewan pemangsa sesamanya. 

Kelebihan Manusia atas Hewan 

Makhluk manusia dari segi esensilitas lebih dekat dengan hewan-hewan (kuda,sapi,kambing,kucing,tikus,dll) sebab dari segi quiditas, manusia itu adalah hewan yang natiq (berlogika), artinya manusia dari dimensi kegenusan (jins) sama dengan hewan-hewan lainnya yakni genus hewan. Masalahnya sekarang apa yang membuat manusia berbeda dengan hewan lainnya  dari segi aktualisasi esensialitas?      

Hewan dalam prilaku dan perbuatannya senantiasa berasaskan atas instink, mereka tidak dibimbing dan diarahkan oleh akal dan pengetahuan. Dalam arti hewan hanya mewarisi apa yang sudah Tuhan tetapkan pada kehidupan species mereka yang pertama, tidak terdapat perkembangan menuju pada kesempurnaan, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Kita lihat misalnya cara hidup masyarakat semut, meskipun cara hidup bermasyarakat hewan tersebut adalah paling kompleks di antara hewan-hewan, tetapi cara hidup bermasyarakat semut tersebut tidak mengalami perubahan dan perkembangan. Atau kita lihat cara membuat rumah lebah, atau cara hidup hewan-hewan di hutan, atau anjing dan kucing yang banyak dipelihara dan dekat dengan manusia, meskipun kedua jenis hewan yang terakhir ini mengalami perkembangan akibat pelatihan yang diberikan manusia, tetapi hal itu hanya sifatnya kecil, dan dibanding apa yang diraih manusia dan apa yang berkembang pada manusia, maka hal itu tidak memiliki arti sama sekali.

Namun manusia yang juga pada dasarnya tergolong jenis hewan (hewan yang berlogika) sebagian dari perbuatan dan tingkah lakunya berasaskan instink (gharizah) dan tabiat, sebab itu dalam konteks ini manusia tidak jauh berbeda dengan hewan-hewan lainnya, seperti kecenderungan  kawin, makan dan minum, melindungi diri dan menyayangi anak-anaknya. Adapun kelebihan esensi manusia dari esensi hewan-hewan lainnya adalah akal dan pikiran yang Tuhan berikan padanya. Dengan akal dan pikirannya, manusia dapat mengontrol instink dan tabiatnya, mengarahkan instink dan tabiatnya pada perilaku dan perbuatan khusus demi kebaikan dan kesempurnaannya. Bahkan lebih jauh, dengan akalnya manusia mampu menyingkap rahasia-rahasia semesta, serta  dapat menguak tabir-tabir hakikat eksistensi. Oleh karena itu jika manusia tidak menggunakan akal dan pikiran yang ada padanya dan hanya mengikuti instink dan kecenderungan tabiatnya, dalam kondisi ini manusia tidak berbeda dari hewan, bahkan manusia dari segi nilai dan esensi lebih rendah dari hewan. Al-Quran dalam hal ini menyebutkan:  “Dan sesungguhnya  Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda dan kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu laksana binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS.  al-‘Araf [7]:179). (lagi…)