Jalan Menuju Hakikat Desember 19, 2008
Posted by makkawaru in Sufistik.2 comments
“Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya” (Al-Hadits)
Kognisi Diri
Beberapa hal berikut ini yang perlu disebutkan dalam rangka kognisi diri:
Pertama: Dzat manusia terbentuk dari dua substansi: Substansi cahaya yang membentuk nafs dan substansi gelap yang membentuk jasad. Nafs, adalah hidup, berakal, bekerja dan aktif: sedangkan jasad, adalah mati, jahil, dan pasif.
Kedua: Kesempurnaan, keutamaan, dan kelebihan atas yang lain, dapat diperoleh manusia hanya dengan jalan pengetahuan dan pengamalan terhadap kemestiannya, bukan sesuatu yang lain.
Ketiga: Pengetahuan yang mengantarkan manusia untuk memperoleh keutamaan dan kesempurnaan serta dengan memilikinya akan menaikkan manusia dari kesejajaran hewan-hewan sampai derajat malaikat muqarrabin, bukanlah setiap ilmu (baca; sembarang ilmu). Betapa banyak ilmu dan pengetahuan yang menjadi karya ilmuan tapi hanya menyibukkan para pembacanya, sebab isi dan kandungannya tidak lebih hanya semacam ungkapan-ungkapan perkataan. Adapun ilmu dan makrifat yang bermanfaat di akhirat hanyalah ilmu dan makrifat yang ulama akhirat memberikan perhatian sangat besar terhadapnya, sementara ulama dunia membelakanginya, yakni pengetahuan dan makrifat terhadap Tuhan, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, kitab-kitab suci-Nya, dan para Nabi-Nya (Insan Kamil). Juga pengetahuan terhadap hari kiamat (eskatologi), nafs manusia serta bagaimana nafs mengalami kesempurnaan dan kenaikannya -dari posisi kehewanan- mendapatkan kondisi fana sampai pada tataran malakut dan ruhani yang langgeng dan abadi.
Keempat: Kesempurnaan ilmu dan makrifat demikian ini tidak mungkin diperoleh kecuali dengan jalan riadah dan kesungguhan syar’i serta keilmuan dan menjaga syarat-syarat khusus. Dan kemungkinan untuk meraihnya terbuka lebar bagi setiap orang, namun karena hanya sedikit yang mengarunginya dengan sungguh-sungguh maka hanya sedikit orang yang berhasil menggapainya. (lagi…)
Surat yang masuk di Milis Wisdoms4all September 21, 2008
Posted by makkawaru in Uncategorized.add a comment
| Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup. Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian. Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali. (lagi…) |
Kedatangan dan Hidayah Para Nabi As September 3, 2008
Posted by makkawaru in Religi.add a comment
Tidak diragukan bahwa kedatangan para nabi As memiliki urgensi khusus dalam perjalanan sejarah kehidupan umat manusia. Mereka datang sebagai utusan Tuhan dan mengemban tugas dari-Nya untuk memberi hidayah kepada manusia. Hal ini ditegaskan oleh akal dan juga deklarasi-deklarasi yang dilakukan oleh para nabi As itu sendiri. Tuhan sebagai wajib al-wujud, dari berbagai sisi dan dimensi adalah wajib; maksudnya adalah bahwa secara niscaya memiliki seluruh dimensi kesempurnaan dan kesucian dari setiap kekurangan. Salah satu dari kesempurnaan-kesempurnaan Tuhan adalah fayyâdziyyah (plural dari faizh yang bermakna emanasi); artinya Dia Swt memberikan setiap kadar yang berhak dimiliki oleh setiap wujud secara maksimum dan optimal tanpa sedikitpun kekurangan dan menyampaikannya kepada tempat dan kedudukan yang menjadi tujuannya. (lagi…)
Maktab-maktab dan Keragaman Agama (1) September 3, 2008
Posted by makkawaru in Wacana.add a comment
Salah satu wacana penting mayarakat dunia hari ini yang menyita perhatian, pemikiran, serta daya analisa para filosof, teolog, sosiolog, psikolog, dan bahkan sejarawan adalah masalah perbedaan agama-agama dan keragaman agama-agama. Kosa kata seperti plurality dan pluralism digunakan secara meluas dan mengisi kolom-kolom pembahasan dalam berbagai kajian dan tulisan, khususnya budaya, agama, dan mazhab.
Dalam tulisan ini akan dipaparkan pandangan berbagai maktab terhadap keragaman agama-agama, isykal dan kritik atasnya. (lagi…)
SEKELUMIT TENTANG KEJAMAKAN AGAMA-AGAMA Februari 22, 2008
Posted by makkawaru in Wacana.add a comment
Mukadimah
Jika kita kaji kehidupan materi, maknawi, individu, dan sosial manusia maka kita akan menyaksikan betapa peran agama dalam dimensi-dimensi ini sangatlah signifikan. Karena itu para pakar dan ahli satiap dari disiplin ilmu-ilmu humaniora tidak dapat mengabaikan begitu saja pengaruh dan sumbangsih agama terhadap kehidupan manusia.
Dalam kajian psikologi dan ilmu kejiwaan, dianalisa dampak dan pengaruh serta aplikasi agama dalam membentuk jiwa manusia dan pengaruhnya atas pembentukan kepribadian serta karakter manusia. Juga dalam disiplin ini ditinjau efek daripada pengamalan agama, manasik, dan iman serta keyakinan agama dalam kehidupan internal individu. (lagi…)
NIKAHKANLAH PUTRI ANDA ATAS RIDHANYA SENDIRI Februari 22, 2008
Posted by makkawaru in Akhlak dan Tarbiyah.add a comment
Terkadang manusia lalai dan hanya memandang dirinya adalah yang paling baik dan teratas. Dipandangannya tak seorangpun berharga dan bernilai, semuanya rendah dan tercela dan hanya dirinya yang mulia serta pemilik mutlak dalam memilihkan pasangan hidup orang lain, dia yang membicarakan dan memutuskan, seolah-olah orang lain tersebut tidak memiliki kemampuan dalam menentukan nasibnya. Namun, setelah itu problema dan masalah yang muncul dikemudian hari dibebankan kepada mereka (pasangan suami dan istri).
Demikian tercelanya sifat ini, sebab sifat seperti ini tidak lain adalah sifat seorang yang takabbur dan sifat takabbur merupakan sifat manusia yang paling dibenci di antara sifat-sifat buruk manusia lainnya.[1] Dan orang seperti ini (yang memiliki sifat takabbur) akan menempati paling buruknya dan paling rendahnya tempat, yakni jahannam.[2] Seorang pernah bertanya kepada hadhrat rasulullah Saww: Siapakah orang yang tergolong takabbur? Beliau berkata: Orang takabbur adalah orang yang bermasa bodoh terhadap hak, dan memandang rendah, hina, dan tak berada (berharga) ciptaan Tuhan.[3]
Dan anda bisa menyaksikan warna gelap dan bau busuk bangkai takabbur dalam wajah dan lidah pahit dari seorang ayah berikut ini:
Surat 1:
…Saya berharap anda (tuan sayyid) adalah ayah saya dan saya juga berharap bahwa saya adalah anak anda sendiri, maafkanlah saya yang telah menulis surat sedemikian rupa untuk anda…….
Saya dibesarkan disebuah rumah yang megah dan mewah dan dengan lahiriahnya beragama, ayahku rajin shalat berjamaah di mesjid, akan tetapi tidak memiliki pengetahuan agama dengan benar, dia membanggakan dirinya dengan kekayaan dan keberadaannya, dia juga sangat kasar dan menekan, penuh bicara dan egois, sehingga seharga apapun dia (tak perduli korbankan) demi memenuhi keinginan bicara serta menunjukkan kekuasaannya. Semuanya dipandang bodoh dan tidak tahu dan hanya dirinya yang berakal, berpengalaman, dan pemilik segala sesuatu… saya dan anak-anaknya yang lain serta ibuku yang malang dirumah ini semuanya menderita dengan kelakuannya. Hanya Tuhan yang tahu dan… akan tetapi yang ingin saya katakan adalah demikian ini…
Jawaban:
Kesewenang-wenangan adalah menunjukkan sifat takabbur, apatah lagi hanya dengan perkataan, egois, tidak memperhatikan dan tidak berpikir tentang orang lain, maka orang tersebut akan jatuh kepada kehancuran,[4] tergelincir dari jalan yang benar dan akan mengalami kebinasaan,[5] semoga Tuhan tidak….
Ayah seperti ini haruslah dinasehati bahwa apakah karena dia seorang ayah maka untuk bernafas saja anak-anaknya harus meminta izin darinya dan dalam segala hal, masalah benar atau tidaknya sesuatu terserah pendapatnya. Adalah benar bahwa anak perempuan dalam memilih calon suaminya harus dengan persetujuan dan kesepakatan ayahnya, akan tetapi ayah juga harus memandang keridaan putrinya dan menghindar dari segala bentuk pemaksaan, sebab jika seorang putri tidak ridha dan masih juga belum menyatakan keridhaannya maka akad nikah akan batal.
Surat 2:
Beberapa waktu yang lalu sebuah keluarga yang sangat beradab dan mukmin datang untuk melamar saya, sesuai dengan kriteria yang saya inginkan, kali ini saya dengan desakan, permohonan dan tangisan, barulah pada akhirnya ayah saya menyetujuinya. Akan tetapi ayah saya menetapkan berbagai persyaratan diantaranya; membeli sebuah rumah di kota…, mahar yang berat…., menyediakan cincin, pakaian dan perhiasan… yang membuat mereka menyesal dan pergi… Apakah anda (tuan sayyid) dapat membantu dan menyelamatkan saya? Apakah anda bisa datang ke rumah kami duduk dan berbicara dengan ayah saya?
Jawaban:
Seandainya saya bisa datang ke rumah anda duduk dan berbicara serta berdialog dengan ayah anda, maka saya akan katakan bahwa pergi ke mesjid dan menampakkan diri sebagai orang yang beragama adalah tidak cukup, seharusnya anda membersihkan hati dari kegelapan-kegelapan dan kebodohan diri anda sendiri serta terangilah hati dan jiwa anda dengan cahaya nurani dari sunnah-sunnah rasul Saww.
Saya harap kerabat-kerabat anda berfikir dengan membaca tulisan ini dan berdialog dengan ayah anda dan menyelamatkan dia dari kegelapan dan prasangka batil. Dalam hal bentuk pemaksaan (untuk menikahkan putrinya pada orang yang tidak diridainya) dan keras kepala seorang ayah, maka anda dapat meminta bantuan dari pengadilan negeri yang khusus menangani masalah-masalah seperti ini. Senantiasalah anda mengharap kasih sayang-NYA. Sekali lagi bicaralah dengan ayah anda.
Catatan:
Adalah tanggung jawab manusia dalam Islam dalam menyelesaikan dan memudahkan pekerjaan atau masalah masyarakat, anda juga dapat membantu menunjukkan jalan benar bagi para pemuda untuk menikah dengan petunjuk-petunjuk anda sendiri, dan menyelamatkan dia dari segala kekhawatiran.
Kritik Terhadap Teori Ketidak Argumenan Eksistensi Tuhan Januari 3, 2008
Posted by makkawaru in Percikan Pemikiran, Uncategorized.1 comment so far
1.Kemungkinan Makrifat Tuhan
Salah satu yang menjadi kerisauan dan kebimbangan klasik umat menusia serta menyita energi berpikir mereka, adalah kemungkinan dan ketidakmungkinan makrifat pada Tuhan. Sebelum mendeskripsikan pembahasan ini sebaiknya kami isyaratkan terlebih dahulu hakikat dari pada ilmu dan berilmu dan demikian juga hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan, sehingga inti makrifat Tuhan dan dimensi-dimensi yang berhubungan dengannya menjadi jelas.
Pada hakikatnya akal manusia memiliki keterbatasan, akal tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan dan hijab-hijab materi serta nafsâni (kejiwaan). Dengan pra asumsi ini tentang akal, maka pengenalan manusia terhadap Tuhan yang merupakan wujud tidak terbatas serta non materi menjadi sesuatu yang problematika. Di samping itu, hakikat Tuhan adalah wujud yang tidak lebih dari pada satu individu yang tidak ada menyerupai-Nya dari kategori alam imkan dan materi serta wujud-Nya meliputi seluruh kesempurnaan-kesempurnaan yang terkonsepsi dan tidak terkonsepsi secara tidak terbatas. Konklusi dari gambaran ini bahwasanya pengetahuan manusia akan dzat dan hakikat Tuhan yang didalam irfan dikenal dengan maqam ahadiyyah berada pada batas titik nol. (lagi…)
Tauhid Januari 3, 2008
Posted by makkawaru in Religi.1 comment so far
Manusia secara akal teoritis memahami hakikat maujud-maujud sebagai suatu hakikat yang berpijak pada landasan penciptaan. Yakni maujud-maujud beserta fenomena-fenomena yang ada bersumber dari suatu mabda yang wujudnya adalah wajib dan daruri. Wujud yang berdiri sendiri, dzatnya adalah kaya tanpa dicampuri kekurangan sedikitpun (murni kaya), dan saluruh maujud-maujud selainnya adalah faqir dihadapannya, bahkan eksistensi mereka semua adalah faqir itu sendiri. Wujud yang maha kaya dan maha sempurna tersebut dalam istilah theologi dan filsafat disebut wajibul-wujud, dan dalam istilah syari’ah islam dikenal dengan nama Allah Swt. (lagi…)
Siapa Yang Hidup? Januari 3, 2008
Posted by makkawaru in Ungkapan-ungkapan Jiwa.add a comment
Kedatangan, keberadaan, pergerakan, dan kepergian manusia bersumber dari suatu hakikat yang sejati, benar, dan tidak palsu. Suatu hakikat yang terpatri dalam dzat dan fitrah anak-anak cucu Adam, kendatipun terkadang tak tersadari, namun senantiasa ia ada dan hadir bersamanya. Ia adalah salah satu dari faktor-faktor yang menyebabkan manusia hidup, dan bahkan tegaknya kehidupan seluruh manusia -dengan apapun bentuk keyakinan terhadap hakikat-hakikat ini- adalah berpijak padanya, hatta orang-orang yang berpikiran absurd dan ‘abasterhadap kehidupan mereka dan tidaklah mereka yakini ini semua melainkan hanyalah kebetulan dan kesia-siaan. Namun, kita harus jujur bahwasanya dengan berkah hakikat-hakikat inilah kita dari generasi kegenerasi mengalami kehidupan; sebab pada hakikatnya tak seorang pun dari kita dapat menentang dan mengkhilafi hakikat dzat dan fitri kita sendiri, khususnya jika bentuk penentangan dan khilaf ini menghasilkan kritik dan sanggahan yang ril dan obyektif.Seseorang yang mengatakan bahwa manusia setelah kematiannya akan mengalami kehancuran dan tamatlah segala-galanya baginya, perhitungan akhirat itu adalah sesuatu yang omomg kosong (pada dasarnya ia telah mati sebelum kematian fisik dan materinya), jika benar ia meyakini perkataannya ini, yakni keyakinannya ini bersumber dari batin dan fitrahnya maka keyakinan ini akan memunculkan kekuatan dan kemampuan padanya, bukan kelemahan.Mengapa kebanyakan dari mereka takut akan kematian, padahal mereka telah mengalami betapa kehidupan dunia ini penuh dengan kemalangan, penderitaan, dan kesengsaraan (baik fisik maupun batin), dan hidup di dunia ini hanya sedikir membeikan kesenangn dan kegembiraan. Coba Anda bayangkan, untuk mendapatkan sesuap nasi saja mereka harus bekerja keras, mulai dari cari uangnya, membeli bahannya, memasaknya, menghidangkannya, baru kemudian menyantapnya yang merupakan kenikmatan fisik yang sedikit. Belum lagi betapa mereka sangat mengalami penderitaan batin dan jauh dari kenikmatannya.Seorang yang hidup dan merasakan kehidupan adalah orang yang meyakini bahwa seluruh hakikat-hakikat ini adalah bersumber dari suatu pencipta (bukan kebetulan), dan surga serta neraka itu meskipun dalam bentuk minimum secara tak tersadari (di bawah sadar) akan diyakininya, dan kekuatan yang tak tersadari (di bawah sadar) ini akan menjadi hakim atas seluruh potensi kesadarannya dan berpengaruh terhadapnya. Dan paling minimal pengaruhnya adalah memberi motivasi dan spirit hidup serta kemantapan hidup baginya. Dan kita menginginkan salah satu dari hakikat-hakikat ini yang merupakan sesuatu paling substansi dari kedirian kita, termanifestasi dalam prilaku, amal, dan perbuatan kita di dunia ini; sebab dunia ini adalah sawah dan ladang untuk akhirat kita.
Pertanyaan Awal dan Asas Desember 14, 2007
Posted by makkawaru in Ungkapan-ungkapan Jiwa.add a comment
Hari-hari saya pikirkan dan seluruh malam saya renungkan
Mengapa saya lalai dari kondisi kedirianku
Bahwasanya saya datang dari mana?
Dan untuk apa kedatanganku di dunia ini?
Serta hendak ke mana nantinya diriku ini?
Dan di mana nantinya akhir persinggahanku?
Setiap orang pasti mempertanyakan tentang kedatangannya di dunia ini, dan bertanya untuk apa dia hadir dan menjalani hidup di dalamnya kemudian akan meninggalkannya. Ini adalah tabiat manusia sebagai makhluk yang punya daya pikir.
Sebab diciptakannya manusia adalah sebuah pertanyaan, dan pertanyaan ini akan dialami (bahkan berkali-kali) disepanjang usia oleh setiap orang hatta orang yang paling tak acuh di muka bumi ini. Tentu dengan adanya bentuk pertanyaan ini pasti ada pula bentuk jawabannya. Dan jawaban yang diberikan oleh setiap orang tidak hanya satu macam, akan tetapi beragam dan bebeda-beda. Sekelompok orang jawabannya datar-datar saja, dan sekelompok lainnya meninjaunya secara dalam. Sekelompok lainnya lagi menguatkan jawaban kelompok yang satu dan kelompok yang berhadapan dengannya menguatkan jawaban kelompok yang satunya pula. Dengan demikian timbullah keragaman jawaban yang saling bertentangan satu sama lain. Bukankah mazhab-mazhab dan ideologi-ideologi yang beragam sekarang ada ini dikarenakan oleh jawaban-jawaban mereka yang berbeda terhadap pertanyaan asasi dan prinsipil ini? Jika jawaban berbeda dan bertentangan, tentu ada yang benar dan ada yang salah. Untuk itu, mari kita berpikir dan merenung kembali jawaban yang telah kita pilih, adakah ia jawaban yang benar atau salah?